RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Pemkot Pekalongan tengah melakukan inventarisasi permasalahan penyebab banjir. Mulai dari tanggul jebol hingga persoalan kebersihan lingkungan. Butuh kerja sama semua pihak untuk mengatasi persoalan banjir beserta dampaknya.
Wali kota meminta warga terdampak banjir terus berkomunikasi dengan pemkot. Bisa melalui puskesmas, kelurahan, kecamatan hingga Dinsos P2KB.
“Mohon komunikasi ke instansi terkait mengenai hal-hal yang masih diperlukan pasca banjir,” tegas Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, Jumat (13/1).
Sebab, kata wali kota, pemerintah bisa saja kelewat kontrol dan kurang memperhatikan warga terdampak banjir atau pengungsi. Aaf-sapaan akrab Afzan Arslan Djunaid- meminta masyarakat tidak saling menyalahkan.
“Sepatutnya koordinasi dan komunikasi,” harapnya.
Kini pemkot tengah melakukan pendataan penanganan pasca banjir. Salah satunya, mengakomodasi titik-titik tanggul jebol dan berpotensi jebol.
Diharapkan titik-titik yang masih banjir bisa segera surut, sehingga para pengungsi bisa kembali ke rumah masing-masing dan beraktivitas dengan lancar.
“Semoga cuaca ekstrem ini segera selesai. Kalau tahun lalu sampai Februari, semoga Januari tahun ini tidak lagi,” harapnya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai genangan air agar tidak menjadi tempat perindukan nyamuk. Salah satunya dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Pasca banjir pasti ada genangan, jangan sampai jadi tempat perindukan nyamuk,” jelas Kepala Dinas Kesehatan melalui kepala bidang pelayanan kesehatan, Tri Nurtiyasih.
Pihaknya berharap warga rajin membersihkan lingkungannya. Mulai rumah hingga lingkungan sekitar. Terlebih, biasanya setelah banjir banyak ditemui sampah berserakan dan menampung sisa air seperti botol, plastik, ember maupun lainnya. Hal tersebut bisa menimbulkan jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan Demam Berdarah Dengue (DBD).
PSN dapat dilakukan dengan 3M Plus, yakni menguras/membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air, seperti bak mandi, ember, tempat penampungan air minum.
Kemudian menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum dan kendi. Selanjutnya, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas berpotensi jadi tempat perkembangbiakan nyamuk. (han/zal)