Ponpes At Taubah sendiri merupakan pesantren yang didirikan Lapas Batang untuk mendidik para napi. Tidak semua napi bisa menjadi santri. Hanya napi-napi tertentu saja. Mereka diberi sel dalam blok khusus santri agar bisa fokus belajar agama. Seperti mengaji, berceramah, hingga menjadi imam salat.
Kegiatan berlanjut dengan pencoblosan. Satu per satu napi bergantian memasuki bilik suara. Mereka mencoblos calon ketua yang dianggap mampu memimpin. Usai mencoblos mereka juga mencelupkan jari kelingking ke dalam tinta.
Suasana semakin meriah saat penghitungan suara. Tepuk tangan para napi mewarnai petugas yang sedang membacakan suarat suara yang telah dicoblos.
Kepala Lapas Kelas IIB Batang, Rindra Wardhana mengklaim Pemilu ketua santri di dalam Lapas ini merupakan yang pertama kali di Indonesia.
“Saya rasa pemilihan ketua untuk blok santri dengan cara ini (ala pilpres), baru ini di Indonesia. Setahu saya,” kata Rindra Wardhana, Selasa (24/1).
Pemilu kali ini dimenangkan Mohammad Nasirin, 36, napi narkoba dengan 52 suara. Ia terlihat sumringah usai dipastikan menang. Nasirin diberikan peci secara langsung oleh kepala Lapas Batang sebagai tanda kemenangannya.
Seluruhnya santri napi langsung menyalaminya sebagai ucapan selamat. Nasirin pun tidak menyangka bakal memenangkan Pemilu.
“Saya nggak nyangka, masih nggak percaya. Tapi semalam saya sempat mimpi jadi imam salat subuh, makmumnya petugas lapas,” tutur pria yang setahun lagi bebas itu. (yan/zal)
