Jumat, 12 Desember 2025
Berlangganan
0,00 IDR

Tidak ada produk di keranjang.

Modal Nekat, Candra Viryanto Sukses Ciptakan Cerutu dari Tembakau Temanggung

LAINNYA

RADARSEMARANG.COM – Candra Viryanto merupakan Inisiator Cerutu Wali Limbung Coffee. Ia bermodal nekat dengan membuat cerutu dengan menggunakan tembakau asal Temanggung. Sempat diabaikan, sekarang cerutu buatannya mulai diburu dari berbagai daerah.

Temanggung memiliki pabrik cerutu tertua di Indonesia, yaitu Pabrik Cerutu Rizona. Berdiri sejak 1800 dan masih bertahan hingga sekarang.  Dulu bahkan ada 4 pabrik cerutu. Tapi masyarakat Temanggung, justru kurang begitu mengenal cerutu. Karena masyarakat merupakan pecinta rokok kretek. Jika merokok tidak kretek rasanya tidak marem, oleh sebab itu, masyarakat lebih banyak yang melinting.

“Sempat penasaran kenapa tidak ada masyarakat Temanggung yang suka cerutu. Padahal di sini ada pabrik tertua,” kata Candra Viryanto.

Ia menambahkan, orang Temanggung taunya cerutu adalah untuk sesaji. Dari situ ia penasaran cerutu itu seperti apa.  Ternyata setelah mencoba kali pertama, cerutu itu rasanya pahit. “Buat lidah kretek seperti saya ini agak susah merokok cerutu. Orang seperti saya yang biasa merokok tanpa cengkeh itu tidak enak, mencoba cerutu kan mumet,” ujarnya.

Dari situ, Candra kemudian iseng untuk membuat cerutu sendiri yang doyan. Hanya dengan bermodal nekat, dan bahkan dari tembakau sisa. Setelah mencoba membuat cerutu dengan tembakau Temanggung, dan ternyata lumayan doyan. Ia lantas mengenalkan produk cerutunya dengan slogan Indonesian Taste Cigarette.

Sebab, cerutu buatannya menjadi cerutu yang aneh bagi orang-orang yang bisa menghisap cerutu. Karena rasanya tidak seperti cerutu pada umumnya. Cerutu yang sudah beredar biasanya terasa pahit, berat, dan tidak bisa dihisap sampai dada.

“Pahit itu yang jelas, pada cerutu umumnya. Orang-orang pasti ngisap cerutu pertama pahit. Nah, akhirnya saya mencoba menggunakan tembakau Temanggung, rodo lumayan doyan ki,” tambahnya.

Ia mengaku membuat cerutu dengan niat untuk berbagi pengalaman baru. Membuat cerutu dengan rasa yang berbeda dibanding dengan cerutu lain. Saat ditawarkan kepada orang lain, penikmat cerutu dari luar Temanggung banyak yang mem-bully. Sempat dihina karena cerutu kok rasanya  seperti rokok, dan lainnya. Meski demikian, lama-kelamaan ada respon positif dari orang-orang.  “Setelah itu lalu saya uji pasar atau konsumen, respon mereka seperti apa,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, mulai banyak yang doyan dengan cerutu buatannya. Karena memiliki taste yang hampir mirip dengan rokok. Dari situ, mulai tumbuh rasa percaya diri dan membuat home industry cerutu yang dikerjakan di depan rumahnya. Suatu ketika, ada tamu dari luar negri, Swedia dan Kanada yang main ke Pasar Papringan dan mencari cerutu.

Diceritakanlah kalau  di tempatnya ada cerutu, hingga mereka mampir ke tempat Candra. Saat tamu ini mencoba cerutunya, tidak ada yang mengatakan bahwa cerutu buatannya enak. Tamu tersebut hanya mengatakan bahwa cerutu yang kini diberi nama Cerutu WLC tersebut adalah cerutu dengan rasa yang berbeda.

“Awal bertambah rasa percaya diri adalah dari situ. Minimal berbeda dengan lainnya. Jadi, orang-orang yang mungkin sudah jenuh dengan cerutu yang mereka hisap, bisa mencoba cerutu saya untuk variatif,” akunya.

Sekarang meskipun tempat pembuatan cerutunya masih meminjam milik salah satu pengusaha di Temanggung Marsudi, cerutu miliknya telah bercukai. Selain itu, telah mendapatkan banyak pesanan luar daerah, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sejumlah teman-temannya juga direkrut untuk bekerja sama mengembangkan cerutunya.

“Saya berharap, masyarakat Temanggung juga semakin mengenal cerutu. Sebab, Temanggung memiliki potensi yang luar biasa, yaitu sebagai produsen tembakau terbaik,” katanya. (din/fth)

E Paper

Populer