Wednesday, 11 March 2026
Berlangganan
0,00 IDR

No products in the cart.

Serunya Belajar IPA dengan TGT

LAINNYA

RADARSEMARANG.COM, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang berkaitan dengan gejala alam dan kehidupan sehari-hari.

Materi mata pelajaran IPA merupakan apa yang dimiliki dan dialami oleh manusia beserta lingkungannya sehingga sangat kontekstual dan dekat dengan siswa.

Pada perkembangannya IPA mengkaji konsep, proses, nilai, sikap ilmiah, aplikasi dan kreativitas (BNSP, 2006:149).

Pembelajaran IPA di sekolah dasar khususnya di kelas VI memiliki materi yang cukup banyak. Hal tersebut kemudian menjadikan pelaksanaan pembelajaran IPA mayoritas dilakukan secara konvensional.

Metode yang sering digunakan oleh guru dalam pembelajaran IPA adalah ceramah, guru yang lebih aktif mentransfer informasi dan siswa hanya mendengarkan informasi tersebut. Akibatnya kegiatan pembelajaran pasif dan tidak menyenangkan, serta hasil siswapun menjadi rendah.

Kegiatan pembelajaran seperti ini juga terjadi pada pembelajaran IPA di kelas VI SDN 01 Paduraksa Pemalang pada materi penyesuaian diri makhluk hidup dengan lingkungannya, sehingga tujuan pembelajaran IPA di SDN 01 Paduraksa tidak dapat terlaksana dengan baik.

Hal itu terlihat jelas dari pasifnya siswa selama kegiatan pembelajaran serta rendahnya hasil belajar siswa. Dari 38 siswa yang terdiri dari 24 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Siswa yang dapat mencapai nilai KKM hanya sekitar 47% atau sekitar 18 siswa. Sedangkan 53% atau 20 siswa lainnya belum mencapai KKM.

Dengan kondisi demikian, penulis ingin mengubah model pembelajaran pada mata pelajaran IPA materi penyesuaian diri makhluk hidup dengan lingkungannya dengan model pembelajaran yang lebih seru yaitu dengan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT).

Menurut Saptono (2009:28) model pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokkan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda ke dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif. Anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen.

Sedangkan menurut Saco (2006:62), TGT adalah pembelajaran dimana siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing.

Menurut Ilham (2009:30), langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut : pertama, tahap model pembelajaran TGT meliputi penyajian kelas yang dilakukan oleh guru dengan pengajaran langsung atau ceramah.

Pada saat penyajian kelas, peserta didik terbentuk dalam satu kelompok yang terdiri dari 4 sampai 6 orang, diperoleh dari anggota heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin, dan ras atau etnik.

Kedua, setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran, guru mengadakan game (permainan) dengan sistem turnamen. Game yang disajikan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Peserta didik memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Peserta didik yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor sesuai dengan sistem turnamen yaitu sebuah struktur dimana game berlangsung.

Ketiga, bagi tim yang telah menyelesaikan soal-soal game terlebih dahulu, mempresentasikan hasil penyelesaian soa-soal game dengan diwakili oleh ketua kelompok. Keempat, tahap akhir pembelajaran dengan TGT tim yang memperoleh nilai rata-rata terbaik dan memenuhi kriteria yang ditentukan akan memperoleh hadiah yang sudah dipersiapkan.

Dengan langkah-langkah tersebut, siswa dapat berpartisipasi aktif, berinteraksi dan mampu mengungkapkan pendapatnya.

Dengan model pembelajaran tipe TGT ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa serta motivasi belajar siswa, menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya.

Keaktifan siswa selama kegiatan pembelajaran tersebut menjadikan pembelajaran IPA menjadi lebih seru dan menyenangkan. Sehingga hasil belajar siswa dari tes evaluasi juga meningkat.

Siswa yang dapat mencapai nilai KKM meningkat menjadi 89% atau 34 siswa. Sedangkan siswa yang belum mencapai KKM menurun menjadi 11 % atau 4 siswa. (bt/lis)

Guru SDN 01 Paduraksa, Kec.Pemalang, Kabupaten Pemalang.

E Paper

Populer