RADARSEMARANG.COM, Semarang – Sembilan mobil pompa (mobile pump) dikerahkan untuk menyedot genangan banjir di wilayah Genuk, Semarang, Rabu (4/1). Jalan Kaligawe Raya telah kering dari genangan. Namun masih ada 10 RT di Kelurahan Trimulyo yang terendam air dengan ketinggian mencapai 1,25 meter.
“Tadi saya lihat kedalaman kisaran 25 sampai 125 sentimeter. Wilayah RT 1 sampai RT 6 di RW 1 semua masih tergenang. Juga di wilayah RT 1 sampai RT 4 RW 2,” kata Lurah Trimulyo Sugito saat ditemui RADARSEMARANG.COM di Posko Kelurahan Trimulyo, Rabu (4/1).
Dikatakan, wilayahnya terdiri atas empat RW. Genangan banjir paling dalam di wilayah RW 1 dan RW 2. Bahkan di dua RW itu, masih ada puluhan warga yang mengungsi di Masjid Baitul Manan dan SD Negeri 02 Trimulyo.
“Kemarin saya data ada 75 orang yang mengungsi. Hari ini (kemarin) masih 55 orang di Masjid Baitul Manan. Sedangkan di SD Negeri 02 Trimulyo masih ada 10 orang,” bebernya.
Ia mengaku, masih terus berkoordinasi dengan PDAM terkait kebutuhan air bersih untuk warganya. Selain itu, pihaknya masih membuka bantuan logistik mengingat kondisi masih belum aman. Warga juga mengeluhkan pemadaman listrik PLN. Namun hal itu, ia menyerahkan kepada PLN.
“Warga menghendaki listrik segera nyala, karena kita maklum sudah beberapa hari listrik padam. Mereka kan butuh untuk masak, nge-charger HP, nonton TV buat hiburan, dan sebagainya. Selama listrik mati, warga nggak bisa mengakses apa-apa,” katanya.
Pantauan RADARSEMARANG.COM, mulai bawah Jembatan Tol Kaligawe hingga pertigaan Terboyo telah kering. Namun ada sebagian yang masih terendam air meski tidak terlalu tinggi. Terutama di depan SPBU Genuk hingga depan Mapolsek Genuk. Terdapat genangan setinggi 10-50 sentimeter.
Mobil kecil dan sepeda motor sudah ada yang berani melintas, meski masih mengalami ketersendatan. Petugas lebih mengarahkan kendaraan dari arah Demak ke Kota Semarang melewati Jalan Woltermonginsidi untuk mengantisipasi terjadinya kepadatan.
Koran ini sempat turun di depan Mapolsek Genuk dan berjalan kaki hingga pertigaan Genuksari sejauh sekitar 1 km. Tinggi air bervariasi mulai 50 hingga 75 sentimeter. Terlihat banyak sepeda motor yang mogok karena nekat menerobos banjir.
Kapolsek Genuk AKP Ris Andrian Yudo Nugroho menjelaskan, pompa air di Kali Sringin dan Kali Tenggang terus dimaksimalkan untuk menyedot genangan. Dikatakan, banjir di sekitar Kantor Kecamatan Genuk lama yang masih dalam. Ketinggian air mencapai 70 sentimeter.
Camat Genuk Suroto menyebutkan, enam kelurahan di wilayah Genuk masih terendam banjir dengan ketinggian mencapai setengah meter. Warga terdampak banjir di tiga kelurahan, yakni Trimulyo, Terboyo Wetan, dan Gebangsari juga masih disuplai logistik. Bahkan di halaman kantor kecamatan pun masih tergenang banjir.
Ia menambahkan, saat ini dapur umum masih dibuka di Kantor Kecamatan Genuk. Petugas gabungan dari TNI, Polri, Tagana, Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng mendistribusikan bantuan ke Kelurahan Trimulyo yang paling terdampak.
“Sekarang ngirim nasi bungkus dan sembako ke warga sudah nggak pakai perahu, tapi pakai truk. Untuk sekolah masih libur, tapi ada yang daring. Cuma kesulitannya listrik mati,”ujarnya.
Dikatakan, surutnya air di sejumlah titik di wilayah Genuk tidak terlepas dari upaya penyedotan dengan mobil pompa dan rumah pompa Kali Tenggang yang ditambah kapasitasnya. Sekarang di rumah pompa tersebut yang semula enam mesin, ditambah tiga pompa dari Kementerian PUPR.
“Ini on semuanya, 24 jam. Per jam kita pendinginan satu mesin untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Kecepatan (pompa) rata-rata 2.000 liter per detik. Ada enam pompa. Kalau yang mobil pompa kapasitas 250-500-an liter per detik,” ungkap salah satu operator rumah pompa Kali Tenggang Naskum.
“Sudah terurai 70 persen selama empat hari, ini tinggal sisanya. Kita optimalkan semaksimal mungkin. Karena curah hujan tidak menentu. Menurut BMKG sampai 5 Januari,” kata Naskum.
Ia mengakui, operasional mesin pompa terkendala sampah. Pompa harus dimatikan untuk dibersihkan. “Satu hari satu malam saja bisa ngumpulkan sampah satu pikap,” ujarnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana Agnes menjelaskan, pompa sudah dihidupkan sejak awal banjir. “Penurunannya sudah sangat drastis, karena kita mencari yang masih terendam. Karena itu, sejak kemarin di Kaligawe,” katanya.
Dikatakan, kemarin Menteri PUPR menginstruksikan BBWS lain untuk membantu. Seperti BBWS Bengawan Solo, Serayu Opak, Cimanuk Cisanggarung, dan Cilicis (Ciliwung Cisadane). “Sekitar sembilan pompa,” katanya.
Sembilan mobil pompa itu disebar untuk mengurangi genangan. Kemarin, ada tiga pompa dari BBWS Pemali-Juana dan satu pompa milik DPU yang dioperasikan di Jalan Trimulyo Raya. Genangan air yang merendam kawasan itu dibuang ke Kali Babon.
“Ini ada pompa kapasitas 500, 500, 500, dan 250 atau total 1.750 meter kubik per detik diletakkan di Kali Babon. Dan ini akses utama juga,” jelasnya.
Dikatakan, pemilihan tempat ini karena berdasarkan letak yang mudah. Dan ada minimal kedalamannya. “Kita nyari untuk bisa meletakkan pompa ini,” katanya.
Ia berharap tidak terjadi hujan yang berkepanjangan. Selain itu, wilayah hulu harus diperhatikan, seperti di Ungaran.
Sementara itu, terik matahari kemarin dimanfaatkan warga korban banjir untuk menjemur barang-barang yang basah. Seperti yang terjadi di salah satu kos mahasiswi di Karang Kimpul RT 1 RW 1 Tambakrejo dan sejumlah sekolah di Tambakrejo. Mereka bekerja bakti membersihkan lumpur sisa banjir dan menjemur barang-barang yang basah, mulai buku-buku, dokumen, kasur dan lainnya.
Di SMP Al-Fattah Terboyo, para siswa terlihat sibuk melakukan kerja bakti. Ada yang membersihkan selokan, merapikan buku untuk dijemur, dan mengepel.
Kepala SMP Al-Fattah Suratman mengakui jika setiap tahun baru biasanya terjadi banjir. Namun banjir kali ini yang terparah selama ia menjabat sebagai kepala sekolah sejak 1991. “Kemarin sampai setinggi pinggang orang dewasa,” katanya.
Pemilik kos Putri Srikandi, Djazuli, 52, mengatakan, ketika banjir terjadi, lima penghuni kamar kos sedang pergi. Terpaksa ia mendobrak pintunya untuk menyelamatkan barang-barang yang ada. “Saya amankan berkas-berkasnya, buku, pakaian, kasur, sepatu yang terapung, dan lainnya,” ujarnya. (mha/fgr/mg1/mg4/aro)