Dalam mengelola kelenteng tentu ada suka duka, seperti organisasi pada umumnya. Karena berinteraksi dengan orang-orang bukan sanak saudara sehingga kadangkala ada berbeda pendapat.
“Kami mengutamakan musyawarah dan mufakat dalam memajukan kelenteng ini,” jelasnya.
Banyak pengalaman spiritual yang ia rasakan saat mengelola kelenteng, karena di kelenteng memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. “Maka, kita berusaha menghindari itu,” katanya.
Seperti ketika kirab, tandu tempat mengusung rupang Dewa tidak boleh jatuh. Jika jatuh ada pertanda buruk kepada orang yang melayani Dewa tersebut.
Hal-hal lain yang sering dilanggar umat adalah terkadang mereka bersenda gurau, kurang serius dan kurang khusyuk ketika melakukan sembahyang. Juga banyak umat yang tidak secara rutin bersembahyang.
“Mereka melakukannya ketika membutuhkan permohonan kepada Dewa saja, padahal ada tanggal-tanggal kebesaran yang harus dihadiri dan dimuliakan untuk Dewa juga. Kelenteng untuk memohon kepada Dewa saja adalah sesuatu yang sangat disesalkan,” katanya.
Pihaknya berusaha menarik generasi muda Tionghoa agar mau ke kelenteng. Seperti melibatkan generasi muda sebanyak-banyaknya ketika kirab budaya. (fgr/ton)
