Dia katakan, kue keranjang mengandung filosofi yang luhur. Bentuknya bulat berarti tidak ada perbedaan dan patahan. “Jadi kita menyambung menjadi satu kesatuan,” katanya kepada RADARSEMARANG.COM, Kamis (19/1).
Rasanya manis supaya di kehidupan manis terus. Kue keranjang ini lengket agar tali persaudaraan tidak bisa dilepaskan.
“Semakin lama semakin lengket,” imbuhnya. Pada shio Kelinci tahun ini, ia berharap sekolahnya menjadi maju, negara maju, dan semuanya lebih baik.
Sementara itu, Kepala SD Kuncup Melati, Purwaningsih mengaku, sekolah ini merupakan satu keluarga bersama-sama mendidik siswa yang kurang mampu tanpa membedakan suku, ras, dan agama.
“Kami bersama-sama menjaga persatuan. Yayasan di sini mengkhususkan anak-anak yang tidak mampu secara ekonominya,” katanya. (fgr/ida)
