Sementara Humas SMP Negeri 39 Semarang M Agus Khamid Arif mengaku, sebagai sekolah dengan branding melestarikan permainan tradisional, ada dua sisi yang dapat diambil dari permainan lato-lato.
Positifnya dapat membuat anak-anak mengurangi gadget dan melatih motorik serta melatih kesabaran. Negatifnya, karena menimbulkan kebisingan. Lato-lato ini dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM).
Pihaknya pun mengimbau kepada peserta didik untuk tidak membawa lato-lato ke sekolah mulai, Rabu (11/1) kemarin.
“Itu yang menjadi garis merah. Branding sekolah kita adalah melestarikan permainan tradisional. Jadi kita edukasi kepada anak-anak untuk memainkannya di saat yang tepat. Misal ketika ada kegiatan pameran permainan tradisional itu boleh, tapi mereka tidak boleh membawa ketika KBM seperti biasa,” ungkapnya.
Hal yang sama juga dikatakan Plt Kepala Disdik Kota Semarang Suwarto. Pihaknya mengaku telah memberikan imbauan kepada sekolah tingkat SD dan SMP. Harapannya ketika bersekolah siwa bisa fokus belajar dan tidak bermain lato-lato.
“Nggak ada edaran larangan, hanya imbauan untuk tidak membawa lato-lato di sekolah. Dan kita pantau nggak ada yang bawa,” jelas Suwarto. (kap/aro)