RADARSEMARANG.COM, PENDIDIKAN akhlak tidak boleh hanya berkutat pada wilayah teori namun juga butuh keteladanan dari seorang guru serta aplikasi nyata dalam masyarakat.
Pengajaran akhlak sebenarnya bisa diinternalisasi pada semua materi PAI & BP dan bahkan pada seluruh mata pelajaran, sebab akhlak itu bisa diadopsi dari pengamatan siswa terhadap prilaku dan tutur kata gurunya.
Oleh sebab itu dalam rangka penanaman akhlak yang baik kepada siswa maka kepribadian guru serta spiritualitasnya harus diperhatikan dengan seksama.
Guru sebagai garda terdepan dari berbagai perubahan tersebut mau tak mau harus siap mengambil berbagai upaya dan berani belajar maupun mencoba.
Agar tidak hanya beradaptasi, namun juga mampu menyiapkan siswa sebagai generasi bangsa supaya mampu menjawab tantangan di masa depan.
Problem internal yang dialami oleh guru pada umumnya berkisar pada kompetensi profesional yang dimilikinya, baik bidang kognitif seperti penguasaan bahan/materi, bidang sikap seperti mencintaiprofesinya (kompetensi kepribadian) dan bidang perilaku seperti keterampilan mengajar, menilai hasil belajar siswa.
Penulis berusaha menyampaikan materi pada kelas berapapun yang disesuaikan dengan pengalamannya sendiri kemudian menerapkan stragi/ metode pada siswa. Karena akhir-akhir ini peserta didik dari kelas 1-6 SDN 02 Pecakaran Kec. Wonokerto dalam mengikuti pembelajaran terkadang tidak bisa konsentrasi, dan gaduh, aibatnya kelas tidak kondusif.
Penulis melakukan pembelajaran berdasarkan pengalaman sendiri atau SDL (Self Directed Learning) merupakan proses di mana insiatif belajar dengan/atau tanpa bantuan pihak lain dilakukan oleh peserta didik sendiri mulai dari mendiagnosis kebutuhan belajar sendiri, merumuskan tujuan, mengidentifikasi sumber, memilih dan menjalankan strategi belajar, dan mengevaluasi belajarnya sendiri.
Contoh guru bisa membantu peserta didik mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik atau mulai dari kemampuan apa yang ingin dikuasai. Misalnya ingin menguasai cara berwudhu maka penulis langsung memberikan contoh, diikuti oleh salah satu siswa untuk maju kedepan yang ditunjuk oleh guru, siswa yang lain mengikutinya. maka guru bisa membantu peserta didik peserta didik yang mengalami kesulitan. Atau guru memberikan pembelajaran mandiri mengeskplorasi tutorialnya melalui youtube, menerapkan, dan mengevaluasi kemampuannya.
Sedangkan menurut Huda (2013: 172) menyatakan bahwa: model experiential learning/SDL mengedepankan dua pendekatan yang saling berkaitan dalam memahami pengalaman yaitu pengalaman konkret dan konseptualisasi abstrak serta dua pendekatan dalam mengubah pengalaman berupa observasi reflektif dan eksperimentasi aktif.
Menurut Hamalik (dalam Fathurrohman 2015: 136-137), mengungkapkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam model pembelajaran SDL adalah sebagai berikut: Guru merumuskan secara saksama suatu rencana pengalaman belajar yang bersifat terbuka (open minded) mengenai hasil yang potensial atau memiliki seperangkap hasil-hasil tertentu.
Guru harus bisa memberikan rangsangan dan motivasi pengenalan terhadap pengalaman. Siswa dapat bekerja secara individual atau bekerja dalam kelompok- kelompok kecil atau keseluruhan kelompok di dalam belajar berdasarkan pengalaman.
Para siswa ditempatkan didalam situasi-situasi nyata pemecahan masalah. Siswa aktif berpartisipasi didalam pengalaman yang tersedia, membuat keputusan sendiri, menerima konsekuensi berdasarkan keputusan tersebut. Keseluruhan kelas menyajikan pengalaman yang telah dipelajari sehubung dengan mata ajaran tersebut untuk memperluas belajar dan pemahaman guru melaksanakan pertemuan yang membahas bermacam- macam pengalaman tersebut.
Pada model SDL hasilnya dapat dirasakan siswa, bahwa pembelajaran lewat pengalaman lebih efektif dan dapat mecapai tujuan secara maksimal. Dan dapat membantu siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan hasil belajar dapat dilihat secara langsung. Sehingga pembelajaran budi pekerti bisa langsung diaplikasikan oleh siswa. (gp/zal)
Guru SDN 02 Pecakaran, Kab. Pekalongan
