RADARSEMARANG.COM, Semarang – SMPN 31 Semarang menjadi salah satu sekolah yang terdampak banjir cukup parah. Hari pertama masuk sekolah yang seharusnya untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) terpaksa ditunda. Bersama dengan guru, siswa membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah.
Ada 20 ruangan yang terendam air. Hal ini mengakibatkan lumpur juga masuk ke ruang kelas, perpustakaan, laboratorium TIK, dan musala. Setelah melakukan apel pagi, siswa membersihkan ruang kelas masing-masing. Mereka membawa ember, sapu, kain pel, dan alat kebersihan lainnya. Mereka juga mengeluarkan CPU satu persatu dari laboratorium untuk dibersihkan. Ratusan buku juga dijemur di halama sekolah karena basah terkena air.
“Bulan Februari tahun 2022 lalu kami juga kena banjir. Tapi 31 Desember 2022 kemarin, air banjir merangsek lebih besar,” jelas Kepala SMPN 31 Semarang Agung Nugroho, Senin (2/1).
Saat ditemui, Agung sedang membenahi CPU yang rusak bersama dengan peserta didik lainnya. Menurutnya, penyebab banjir bisa masuk ke dalam ruang kelas karena selokan di depan sekolah sudah tidak bisa menampung air. Sehingga air masuk ke halaman dan ruang kelas lainnya. Ketinggiannya mencapai 15 hingga 20 sentimeter di setiap ruangannya. Sehingga membuat KBM di hari pertama masuk sekolah harus ditunda dan dilaksanakan selepas istirahat.
“Saat apel sudah saya sampaikan. Hari ini jam awal kami lakukan pembersihan, baik yang terdampak atau tidak. Sekiranya sudah bersih dan nyaman digunakan nanti setelah istirahat pertama kita menjalankan KBM seperti biasa,” imbuhnya.
Menurutnya dampak yang paling dirasakan kali ini adalah adanya kerusakan CPU dan buku perpustakaan. Yakni 50 buku pembelajaran dan 100 buku fiksi.
“Ada 30 CPU yang terendam air serta 150 buku. Buku pelajaran ada 50 dan fiksi 150 karena posisinya masih di rak bawah,” akunya.
Pihaknya berharap kejadian seperti ini tidak terualang kembali. Antisipasi telah dilakukan dengan peninggian ruang kelas. “Respon Disdik dan Pemkot Semarang sudah bagus. Mereka terus memantau dan mendata. Tahun lalu kami sudah mengantisipasi dengan peninggian kelas 40 sentimeter. Tapi belum semua. Kemungkinan di tahun 2023 ini bisa terealisasi semua,” tandasnya.
Sementara salah satu siswa Bayu Artha Riyandika mengaku sudah terbiasa dengan kondisi banjir. Bertepatan dengan kejadian ini, rumahnya juga terdampak banjir. “Hari ini bersih-bersih kelas dulu. Tadi juga mengecek CPU ada yang rusak atau tidak. Harapannya segera selesai dan bisa secepatnya belajar lagi,” akunya. (kap/ida)
