RADARSEMARANG.COM, DUNIA pendidikan terus mengalami perubahan setiap waktu. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya perubahan zaman, perubahan arah politik, perubahan kebiasaan, dan masih banyak lagi.
Seperti halnya pada kondisi pandemi Covid—19 lalu, pendidikan mengalami perubahan agar dapat beradaptasi dan tetap terjaga keberlangsungannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Bahkan pendidikan juga dapat diartikan sebagai proses, cara, dan perbuatan mendidik.
Sementara itu, jika pendidikan dikaitkan dengan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam bentuk fisik, mental, serta emosional.
Sebagai sebuah mata pelajaran PJOK merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, serta penghayatan nilai-nilai sikap, mental, emosional, sportivitas, spiritual, dan sosial, serta pembiasaan pola hidup sehat yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.
Bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat. Selain itu, pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga, dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Kegiatan olahraga setiap komponen yang terlibat memiliki fungsi dan peran masing-masing. Ada pemain atau atlet, pelatih, wasit, dan penonton.
Masing-masing memiliki peran yang berbeda, dan tidak ada yang tumpang tindih, misalnya menjadi pemain sekaligus wasit, atau wasit sekaligus penonton. Karena kejelasan peran tersebut, maka secara ethics, olahraga dapat digunakan sebagai alat dalam membangun karakter bangsa.
Pemain, pelatih, wasit, dan penonton, ketika berada di lapangan mematuhi peraturan yang berlaku. Kesadaran mematuhi aturan tersebut menumbuhkan sikap disiplin, sportif, dan bertanggung jawab.
Seseorang yang melakukan aktivitas tersebut secara berulang-ulang, maka akan menumbuhkan kesadaran taat pada aturan yang berlaku, dan akhirnya memunculkan kebiasaan untuk hidup disiplin, sportif, dan bertanggung jawab, terhadap apa yang dia lakukan.
Karakter seseorang akan kelihatan dari kehidupan sehari-hari. Sikap jujur, disiplin, sportif, kerja sama, dan bertanggung jawab dibangun melalui perilaku, “bukan teoritik.” Dengan demikian, intervensi yang dapat dilakukan adalah merancang kegiatan berupa aktivitas tertentu yang berbentuk pelaksanaan kegiatan, misalnya berbentuk festival, lomba atau pertandingan.
Karakter bukan berbentuk teoritik, melainkan penerapan dari pengetahuan “baik” yang sudah dimiliki dalam bentuk kegiatan praktis di lapangan. Pengambangan karakter dapat dilakukan melalui aktivitas tertentu, misalnya, simulasi permainan, bermain, dan aktivitas lain yang dilakukan secara praktis.
Selain itu, guru pendidikan jasmani dapat mengajarkan pendidikan karakter di luar jam pelajaran pada saat ekstrakurikuler, kegiatan pramuka, organisasi klub olahraga sekolah dengan melihat peluang yang tepat dalam pendekatan individu. Harapannya, pendidikan jasmani dan olahraga merupakan laboratorium bagi pengalaman manusia.
Oleh sebab itu, guru pendidikan jasmani harus mencoba mengajarkan pendidikan karakter dalam proses belajar mengajar, yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak. Hal itu yang penulis lakukan sebagai guru PJOK di SMP Negeri 1 Salatiga. (igi1/ida)
Guru SMP Negeri 1 Salatiga