Ketua RT 5 RW 16 Edi Saktiono mengaku, hampir setiap hari, rumahnya terkena rob. Praktis, ia bersama istri dan anaknya berkegiatan di teras rumah. Sebab, saat banjir rob, air  masuk rumah sedalam 10 sentimeter. “Sejak tahun 2010 sudah mulai rob. Untuk ekstremnya mulai 2020. Karena dulu ada hutan bakau, sekarang sudah hilang. Tanggul juga jebol. Sekarang sudah tidak bisa ditolong,” jelasnya.
Akibat rob, fasilitas umum seperti lapangan bola sudah hilang. Makam juga sudah tidak bisa dipergunakan. Pun dengan Balai RW, sudah tidak bisa dipakai karena kerap kemasukan rob. “Rumah saya ini sudah ditinggikan 80 sentimeter, masih kemasukan rob,” tuturnya.
Salah satu warga, Sutar, 62, mengaku, sudah pindah ke hunian sementara yang berada di bantaran selama lima tahun. Ia tidak berani tinggal di rumahnya, karena gelombangnya besar dan tinggi. Â “Di sekitar rumah sudah tidak ada yang dihuni warga. Rumah mereka hancur terkena ombak,” katanya.
Dampak rob juga dialami warga di pesisir Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Demak. Akses jalan perkampungan putus diterjang rob yang terjadi setiap saat. Warga pun terbiasa menggunakan alat transportasi perahu untuk sekadar keluar dari kampung mereka.
