Ia memiliki 38 pelanggan setiap harinya. Diakuinya, pekerjaan ini sangat menyenangkan. Selain waktu yang efektif, ia juga bisa memperluas wawasan dengan membaca informasi.
Hasil dari keringatnya selama ini, bangun pagi mengantar koran dari satu pelanggan satu ke pelanggan lain, juga berhasil mengentaskan pendidikan kedua anaknya. Mereka sudah menyandang gelar sarjana.
Anak sulungnya menjadi perawat di RSUP dr Kariadi dan membuka usaha studio foto. Sedangkan putrinya menjadi seorang desainer. Tak hanya itu, istrinya, Rusmi, juga berhasil menjadi bidan.
“Lika-likunya berat, kalau diceritakan kadang sedih mengingat perjuangan dulu. Tapi Alhamdulillah sekarang memetik hasil,” katanya.
Kendati sekarang anak-anaknya sudah sukses, ia masih melanjutkan pekerjaan sebagai loper koran.
“Sebenarnya anak-anak sudah melarang, tapi saya masih suka kerja. Saya juga gak mau kalau minta uang ke anak saya,” tuturnya.
Salah satu pelanggannya, Nur Salim, menjadi saksi perjuangan Sukamto. Ia berlangganan koran sejak anak-anaknya masih kecil, hingga kini sudah memasuki perguruan tinggi. Pengusaha bahan bangunan di Sampangan ini turut membantu Sukamto dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
“Saya langganan koran dengan loper Pak Sukamto, kalau membayar pakai uang receh karena dia senang mengumpulkan uang koin,” ujarnya. (ifa/aro)
