Semakin lama bertambah, ia ganti toples lebih besar. Terus meningkat, akhirnya uang itu ia tuang dalam ember bekas cat. Tak main-main, uang itu terkumpul Rp 16 juta.
Agar lebih mudah dalam menghitung, kata dia, uang koin itu dipindahkan di botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter.
Satu botol berisi Rp 1 juta. Sisanya ia simpan di toples bekas biskuit. Merasa memiliki rezeki lebih, ia lantas memantapkan hati menggunakan uang itu untuk ibadah.
“Sebenarnya ingin ibadah haji, tapi belum dipanggil Allah. Akhirnya memutuskan untuk mendaftar umrah bersama istri,” katanya.
Sukamto bukan seorang pengusaha. Bahkan SD saja tak lulus. Ia hanyalah seorang loper koran, tapi rasa optimistisnya sangat tinggi dalam menggapai asa.
Diceritakannya, pekerjaannya ini dimulai sejak 1989. Kala itu, ia memilih menjadi tukang koran ketimbang bekerja di RSUP dr Kariadi di bagian umum.
Ia menilai, waktu bekerja loper koran lebih efektif.
“Mengantar koran pagi dari selepas subuh, paling sampai jam 07.15 sudah pulang,” tutur pria 63 tahun ini.
Setelahnya, ia berkebun, seperti menanam pisang. Tak terasa, sudah 33 tahun ia mengantarkan koran dan majalah beragam media, termasuk Jawa Pos Radar Semarang.
