RADARSEMARANG.COM, Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam potensi dalam potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respons.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia bisa menunjukkan perubahan perilakunya. Dan belajar adalah terjadinya perubahan mental pada diri siswa (Dimiyati dan Mudjoyono, 2013).
Media pembelajaran merupakan salah satu cara atau alat bantu yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Hal ini untuk merangsang pola pembelajaran agar dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar, sehingga proses belajar-mengajar dapat berjalan efektif untuk mencapai target yang direncanakan (Surayya, 2012).
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara sistematis yang terdiri langkah-langkah untuk mengefektifkan pembelajaran. Cara ini dibuat dalam bentuk kongkrit, sehingga mudah diaplikasikan secara harafiah. Metode dapat disebut juga dengan “cara“ (Muhibbin syah ,1995).
Berdasarkan pegertian itu, maka metode pembelajaran adalah cara kerja sistematis yang memudahkan pembelajaran. Karena penggunaan implementasi spesifik yang terdiri atas langkah-langkah kongkrit. Tujuannya agar proses pembelajaran berjalan efektif, dan tentunya memberikan dampak yang positif.
Berfungsi sebagai alat bantu mengajar berupa wahana yang mengandung materi pembelajaran dan menyalurkannya dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Sehingga mampu merangsang siswa agar dapat menyerapnya dengan lebih baik.
Di kelas VIII, materi yang akan penulis ajarkan adalah Simple Present Tense. Materi ini sangat menarik, namun siswa medapatkan kesulitan ketika bertemu dengan kata kerja imbuhan s/es atau (verb s/es) dengan yang tanpa imbuhan s/es.
Penulis tertarik dengan metode Matching Pattern dalam mempermudah siswa membedakan kata kerja dengan imbuhan s/es. Sebelum masuk dalam pembelajaran, terlebih dahulu akan penulis jelaskan pengertian metode Matching Pattern.
Metode ini adalah pembelajaran yang dalam prosesnya menggunakan instrumen gambar dalam penyajiannya. Fungsinya merangsang siswa menganalisa dan mengekpresikan dalam bentuk deskripsi. Deskripsi gambar berupa pemaknaan dan interprestasi siswa tentang makna gambar yang disajikan.
Pertama, penulis menyiapkan gambar yang sesuai pembelajaran gambar ini berupa dua kolom. Kolom kiri untuk verba 1+ s/es, sedangkan kolom kanan untuk kata kerja To be do (tanpa s/es). Kedua, penulis menempelkan tulisan subyek He, She, It di kolom kiri, dan We, They, I dan You di kolom kanan. Ketiga, kita mempersiapkan tulisan verba. Contoh : play , study .run , read, listen, write ,sing, eat, drink, dan sebagainya.
Keempat, siswa diberi petunjuk dan diberi kesempatan memperhatikan dan menganalisa dan menganalisa gambar. Kelima, membentuk work of group dua atau tiga siswa untuk menganalisa dan berdiskusi tentang menjodohkan gambar tersebut. Keenam, selesai siswa berdiskusi, setiap kelompak mengambil dua kertas yang bertuliskan verba dan menempelkan gambar tersebut pada kolom sebelah kanan atau kiri sesuai petunjuk. Demikian juga kelompok lain juga melakukkan hal yang sama.
Setelah selesai, setiap kelompok menyampaikan pendapatnya. Kita membahasnya bersama dan ada penjelasan dari penulis. Metode ini sangat mempermudah siswa memahami materi yang kita berikan. Siswa lebih mudah menjodohkan kata kerja yang sesuai dengan subjeknya.
Dengan metode Matching Pattern, siswa SMP Negeri 1 Tersono, Kabupaten Batang menjadi antusias dalam belajar bahasa Inggris dengan materi Present Tense. Peserta didik dengan mudah bisa menentukan subject dan verb (kata kerja)-nya. Kelas menjadi hidup karena adanya kerja sama tim. Kerja cepat dan akurat.
Penulis sangat senang sekali ternyata metode Matching Pattern sangat membantu pembelajaran Simple Present Tense menjadi lebih sukses dan menyenangkan. (*)
Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 1 Tersono, Kabupaten Batang