Proses pembuatannya cukup mudah. Satu hari Eko bisa memproduksi hingga empat unit miniatur. Prosesnya hanya pembuatan pola di papan triplek kemudian memotongnya.
Selanjutnya pembakaran untuk membengkokkan triplek. Pembuatan kepala naga dan ekor dari busa, kemudian perakitan dan pengecatan.
Eko menjelaskan, jika salah satu proses terumit adalah pembuatan dayung. Material yang dibutuhkan kecil dan banyak. Perahu naga itu dicat dengan berbagai warna, seperti merah, hijau, hingga emas.
Ia pun menunjukkan berbagai ukuran perahu naga yang dibuat. Mulai dari ukuran kecil hingga besar. Ukuran itu menentukan harga jual.
“Karena ini untuk anak-anak, harga jualnya mulai Rp 70 ribu sampai Rp 250 ribu. Harga termahal dipatok karena miniatur ada mesinnya. Jadi, bisa dimainkan di sungai,” terangnya.
Miniatur perahu naga ini dijual saat ada event lomba dayung saja. Sementara saat ini, Eko hanya fokus melakukan produksi sebanyak-banyaknya.
Agar bisa memenuhi kebutuhan pasar saat terselenggaranya lomba dayung tradisional tahun 2023 ini. Kegiatan memproduksi miniatur ini dijadikannya sampingan. Karena profesi utamanya adalah nelayan.
Seperti diketahui, perhelatan lomba dayung tradisional tahun ini bakal lebih mewah. Arena lombanya digelontor anggaran Rp 36,6 miliar dari Kementerian PUPR. Proses pengerjaannya sedang berlangsung, dan ditargetkan bisa selesai sebelum Idul Fitri mendatang, karena bakal digelar lomba dayung tradisional H+1 Lebaran. (yan/aro)
