RADARSEMARANG.COM, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit di jenjang Sekolah Dasar.
Terbukti dari lebih rendahnya rata-rata hasil ujian sekolah kelas VI pada mata pelajaran IPA dibandingkan mata pelajaran lainnya.
Mata pelajaran IPA memang cukup kompleks karena pendidikan IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis.
Jadi IPA bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan proses penemuan.
Menurut Ribkahwati (2012:35) IPA adalah ilmu yang mempelajari tentang pengungkapan manusia dan gejala alam.
Meliputi asal mula alam semesta dengan segala isinya termasuk proses, mekanisme, sifat benda maupun peristiwa yang terjadi.
Pembelajaran IPA tidak dapat terlepas dari aktivitas keseharian siswa. Maka pada proses penyampaiannya sebisa mungkin didasarkan pada metode kontekstual, agar siswa lebih mudah memahami materi.
Seperti yang telah dipaparkan oleh Prasodjo (2009:195) bahwa pada usia Sekolah Dasar anak-anak memperoleh stimulus dari benda-benda untuk belajar seperti mainan, perabot, rumah, binatang, tanaman, dan sebagainya.
Diharapkan dengan contoh benda konkret serta pengalaman langsung, siswa akan lebih mudah memahami materi yang diberikan, sehingga siswa dapat mengembangkan kompetensinya untuk menjelajahi dan memahami alam secara alamiah.
Nilai siswa kelas VI di SDN 2 Batursari untuk mata pelajaran IPA kompetensi dasar (KD) 3.3 materi menganalisis cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah kurang tepatnya strategi pembelajaran yang diterapkan. Sehingga berdampak pada kurang tuntasnya pembelajaran siswa.
Pada saat pembelajaran berlangsung siswa kurang aktif, dan suasana kelas tidak kondusif. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan, perlu dicarikan solusi pemecahannya. Berbagai upaya dapat dilakukan, penerapan model pembelajaran outdoor bisa menjadi salah satu alternatif.
Model pembelajaran outdoor adalah suatu kegiatan pembelajaran di luar kelas atau sekolah yang bertujuan untuk mengkonkretkan sekaligus mengaitkan segala pemahaman konsep siswa pada materi pelajaran dengan lingkungan alam beserta fenomena-fenomena yang sesungguhnya. Menurut Sumita (2014:18) langkah-langkah pembelajaran outdoor terdiri dari, prakegiatan, pendahuluan, pengembangan, penerapan, dan penutup.
Pada pelaksanaan model pembelajaran outdoor, siswa diberikan kegiatan prakegiatan dan pendahuluan, yaitu penyampaian tujuan pembelajaran, pemaparan materi serta menentukan pembagian tugas siswa. Pada tahap pengembangan, siswa diajak keluar kelas mengamati lingkungan sekolah dan melaksanakan tugas yang diberikan.
Terkait mengamati serta membandingkan cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada tahap ini guru mengarahkan, membimbing dan memberikan penguatan pada siswa untuk menemukan contoh konkret cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tahap berikutnya penerapan yaitu siswa mengerjakan evaluasi secara individu. Pada tahap penutup siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran serta guru memberikan tindak lanjut.
Penggunaan model pembelajaran outdoor pada pembelajaran IPA KD 3.3 materi menganalisis cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya, untuk siswa kelas VI SDN 2 Batursari, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa tidak hanya menghafal materi pelajaran yang diberikan guru namun mampu memahami pembelajaran.
Karena siswa menemukan dan melihat serta mengalami sendiri contoh cara makhluk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Siswa juga mampu menjawab pertanyaan evaluasi dengan baik. Hal ini terbukti dari ketuntasan hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan. Jadi dapat dipastikan bahwa indikator keberhasilan belajar siswa telah tercapai. (*/lis)
Guru SDN 2 Batursari, Candiroto, Kabupaten Temanggung