Adi membeberkan, di kebun buahnya memiliki tiga jenis indukan Mamey Sapote jenis Magana, Kiways, dan Loreto. Sawo raksasa bisa dibilang jenis tanaman langka di Indonesia.
Tahun 2009 mulai dibudidayakan di daerah Mijen, kemudian tahun 2015 terlihat hasilnya tumbuh buah besar. Ia pun mengembangkan ratusan bibit. “Pada saat itu, mulai dipromosikan ke berbagai daerah di Indonesia,” ungkapnya
Promosi sawo raksasa ini melalui Facebook, Instagram, Youtube, dan berbagai media sosial lainnya. Harga mulai Rp 500 ribu hingga Rp 10 juta, tergantung besar kecilnya tanaman. “Hasilnya cukup menjanjikan,” katanya.
Bahkan, sudah banyak masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia membeli tanaman hasil budi dayanya. Banyak juga peminat dari luar negeri yang memesan bibit sawo raksasa.
Di antaranya dari Thailand, Abu Dhabi, Algeria, China, bahkan Jepang. “Jika ada pemesanan dari luar negeri terkendala pengiriman,” keluhnya.
Ia berharap pemerintah mempermudah perizinan ekspor hasil tani. “Karena kendalanya administrasinya,” ujarnya.
Adi mengajak kaum muda agar tidak malu menjadi petani. Menurutnya menjadi seorang petani merupakan pekerjaan mulia.
“Menjadi petani sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat sekaligus penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya. (fgr/ida)