Atas keprihatinannya, Dani memutuskan mencari anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Sekolah tersebut hanya mematok biaya Rp 50 ribu per bulan. Tidak perlu membayar bagi yang tidak mampu. Sekolah juga menyediakan asrama tanpa tambahan biaya.
Dalam melakukan pengajaran, pihaknya menekankan pendidikan karakter. Hal ini benar-benar ditekankan melalui pendidikan semi taruna. Kemudian dipadukan dengan aktivitas seperti di pesantren, mulai mengaji hingga menghafal Alquran.
Siswa juga diberi wawasan luas dengan pembelajaran keluar hingga ke Kementerian dan MPR. SMK Peternakan Lembah hijau pun mendapatkan support dari BI Tegal
“Anak-anak ini diterima di perguruan tinggi New Zealand, Jepang, kampus negeri. Tidak ada satupun lulusan yang menganggur,” terangnya
Sekolah tersebut telah ditetapkan sebagai Sentra Kewirausahaan Pemuda (SKP) di Indonesia. Merupakan satu-satunya yang berbentuk SMK.
Tedi Pramono, 17, siswa kelas 11 asal Bandar ini merasa beruntung bisa bersekolah di tempat tersebut. Ia belajar banyak hal tentang peternakan. Seperti bergantian merawat sapi, mulai penggemukan hingga perah. Ada beberapa hewan ternak yang digeluti siswa. Mulai sapi, kelinci, ayam, kambing, dan merpati kipas.
“Saya sangat tertarik untuk punya usaha ternak sendiri setelah lulus nanti. Yang menggali potensi peternakan ini masih sangat jarang, di Kabupaten Batang sendiri yang punya jurusan Agribisnis Ternak Ruminansia hanya di sini,” ucapnya. (yan/zal)
