RADARSEMARANG.COM – Banyak bangunan tua di kawasan Kampung melayu, Semarang. Di sepanjang Jalan Layur, bukan hanya masjid menara yang bersejarah. Rumah huni di sekitarnya pun tak kalah tua. Beberapa bangunan masih sama dengan aslinya. Tak ada renovasi.
Ketua RT 05 Abdurachman mengatakan, di sini terdapat banyak rumah kuno yang masih bertahan. Seperti rumah bentuk India, Tionghoa, Banjar atau panggung, bahkan rumah Arab.
“Sebagian sudah tak berpenghuni, ditinggal. Tapi tetap ada pemiliknya, terkadang datang ke sini. Ada satu rumah India milik Zainab masih ditinggali orangnya, di sana tak diubah sama sekali,” tuturnya.
Beragam rumah kuno di Kampung Melayu masih ada. Namun jumlahnya tak sampai sepuluh. Hal itu karena sebagian sudah dijual bahkan dirobohkan. Ada satu rumah kuno yang cukup menarik perhatian, sampai saat ini masih bertahan.
Rumah kuno itu di Jalan Layur nomor 121. Dulu, bangunan dua lantai ini sangat megah. Sekarang, bak bangunan tak berpenghuni. Di lantai dua, tampak rumput liar tumbuh sembarangan. Bahkan, pohon pun hidup di sana, menembus atap. Teramat rimbun.
Ada enam pintu bercat hijau, semua terbuka. Wajar, bangunan di pojokan Kampung Melayu ini memang ditinggali. Nurul Hidayah bersama keluarga tinggal di sini. Ia merupakan anak dari Ali Machroos bin Abdullah Machroos, warga keturunan Arab.
Ditemui di rumah tua itu, Nurul mengatakan, bangunan bersejarah ini sudah menjadi Cagar Budaya. Rumahnya merupakan tempat tinggal Kapiten Arab yang berpengaruh di era pemerintahan kolonial.
Kapiten Arab merupakan gelar dari pemerintah Belanda untuk pemimpin warga keturunan Arab. Selanjutnya rumah tersebut menjadi studio foto ternama yang beroperasi lebih dari 50 tahun. Namanya Seni Foto Gerak Cepat yang didirikan oleh Ali Machroos.
Dijelaskan Nurul, bukan hanya karena menjadi cagar budaya, alasan ia tak mengubah atau merenovasi tempat tinggalnya itu. Ia mempertahankan karena cinta dengan rumah ini. Ia enggan pindah meski rumah itu sudah tak karuan. Bocor, rembes, hingga menjadi langganan banjir.
“Saya tidak lahir di rumah ini, tapi saya tinggal lama di sini. Banyak kenangan bersama orang tua, saya cinta dengan rumah ini makanya bertahan. Eman-eman kalau ditinggal,” ucapnya pada RADARSEMARANG.COM.
Nurul mengungkapkan, tak masalah jika rumahnya menjadi cagar budaya. Justru ia sangat berbangga hati karena menjadi saksi sejarah. Hanya saja, ia ingin pemerintah hadir lebih jauh. Bukan dana yang ia harapkan, tapi museum sederhana.
“Saya tidak butuh uang, tapi setidaknya dibuatkan museum kecil untuk menata agar nanti wisatawan tahu atau ketika datang ke sini ada yang bisa diperlihatkan secara rapi dan patut,” harapnya sambil menunjukkan album foto ketika studio masih beroperasi. (ifa/ton)Â