RADARSEMARANG.COM, TIDAK banyak sekolah kejuruan di Indonesia yang membuka program keahlian teknik tekstil. Saat ini hanya tersebar di dua provinsi di Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan jumlah dalam hitungan jari tangan.
Salah satu faktornya berhubungan dengan sebaran industri tekstil yang juga berkembang pesat di kedua wilayah propinsi tersebut.
Mendirikan sekolah tekstil tampaknya bukan pilihan populer dibandingkan dengan kompetensi keahlian yang lain karena butuh sumber daya yang sangat besar khususnya untuk infrastruktur seperti kebutuhan bengkel dan laboratorium yang membutuhkan mesin dan alat besar, langka dan mahal.
Bengkel dan laboratorium merupakan tempat bagi peserta didik untuk mengembangkan kompetensi bidang keahliannya yang tidak terbatas dan memiliki spesifikasi kebutuhan yang beragam serta seharusnya mampu mengikuti perkembangan jaman dan mereplikasi apa yang ada di industri.
Hal tersebut bukan merupakan hal yang mudah, karena banyak keterbatasan yang dimiliki oleh satuan pendidikan atau sekolah. Demikian juga yang dihadapi SMK Negeri 3 Pekalongan yang dahulu bernama STM Pembangunan sebagai salah satu sekolah pionir program keahlian teknik tekstil di Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, sarana maupun prasarana pasti mengalami penyusutan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, sementara anggaran perawatan dan pengadaan mesin dan alat baru yang terbatas beberapa langkah dilakukan sebagai Kebijakan Peningkatan Mutu SMK Negeri 3 Pekalongan dalam meningkatkan mutu bengkel dan laboratorium teknik tekstil. Salah satu langkah tersebut adalah melaksanakan Program SMK Teaching Factory (TeFa).
Program SMK Teaching Factory (TeFa) diterjunkan di Indonesia mulai tahun 2011 yang didasarkan pada kerjasama Direktorat Pembinaan SMK dengan Vocational Education and Training (TVET) negara Jerman dan Swiss.
Metode pembelajaran ini merupakan turunan pada dual sistem metode yang mengintegrasikan dua lingkungan utama dalam setiap kegiatan peserta didik, yakni lingkungan sekolah dan lingkungan perusahaan (industri). Peserta didik tidak hanya melakukan kegiatan belajar di sekolah tetapi juga melakukan praktik kerja di industri.
Pembelajaran teaching factory adalah suatu konsep pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu kepada standar dan prosedur yang berlaku di industri, dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Pembelajaran teaching factory memiliki beberapa model pelaksanaan. SMK Negeri 3 Pekalongan mengembangkan 2 (dua) model pelaksanaan sebagai berikut:
Pertama disebut Model 1 dimana kegiatan dilakukan di bengkel dan laboratorium yang dimiliki sekolah. Pengelolaan dan pelaksanaannya terintegrasi ke dalam kegiatan belajar mengajar.
Peserta didik melaksanakan praktek dan menghasilkan produk berupa barang atau jasa yang dijual ke konsumen. Untuk dukungan manajerial maka sekolah membentuk lembaga yang disebut dengan Unit Usaha Mandiri (USMAN). Yang kedua disebut Model 2 dengan melaksanakan Memorandum of Understanding (MoU) antara sekolah dengan beberapa Industri dan Dunia Kerja (IDUKA) dengan salah satu kesepakatan adalah siswa berkesempatan melaksanakan magang Praktek Kerja Industri (Prakrin) sesuai Struktur Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka selama 1 (satu) semester.
Kedua model tersebut pada dasarnya adalah pola pembelajaran berbasis produksi yang akan memiliki dampak positif untuk membangun mekanisme kerjasama (partnership) secara sistematis dan terencana didasarkan pada posisi tawar win-win solution.
Penerapan pola pembelajaran teaching factory merupakan interface dunia pendidikan kejuruan dengan dunia industri, sehingga terjadi check and balance terhadap proses pendidikan di SMK untuk menjaga dan memelihara keselarasan (link and match) dengan kebutuhan pasar kerja.
Teaching factory merupakan pembelajaran berbasis produksi yang memiliki kekhususan dalam menghasilkan produk yang berstandar kebutuhan konsumen. Keberhasilan teaching factory terletak pada sarana dan prasarana praktikum yang menunjang proses produksi dimana hanya dapat dijumpai di bengkel atau laboratorium yang memiliki layout produksi, alat yang digunakan, maupun pengujian produk agar menjamin kualitas dan kepercayaan dari produk.
Teaching factory mampu mengatasi kemerbatasan sarana dan prasarana sekolah dan memberikan manfaat yang besar diantaranya: meningkatkan kompetensi guru dan peserta didik, mendorong terciptanya budaya mutu di sekolah, menciptakan budaya industri di sekolah, wahana kreativitas dan inovasi peserta didik dan guru, sarana pengembangan entrepreneurship di sekolah, dan tempat magang dan penampungan lulusan yang belum mendapat pekerjaan di dunia industri atau dunia usaha. (bt/ida)
Guru Teknik Tekstil SMK Negeri 3 Pekalongan