RADARSEMARANG.COM, Semarang – Penghujung tahun 2022 menjadi hari kelabu bagi warga Kota Semarang. Saat warga akan merayakan tahun baru 2023, banjir besar melanda Ibu Kota Jateng ini. Hujan deras yang mengguyur sejak pukul 00.00 sampai pukul 08.00 pagi, Sabtu (31/12), menyebabkan hampir semua kecamatan di Kota Semarang dilanda banjir dan genangan air. Banjir terparah terjadi wilayah Kecamatan Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara, Gayamsari, Ngaliyan, dan Genuk.
Di Kecamatan Tugu, banjir merendam sejumlah permukiman warga di Mangkang Wetan, Mangkang Kulon dan Mangunharjo. Sedangkan di Kecamatan Ngaliyan, wilayah Kelurahan Wonosari yang paling parah.
Pantauan RADARSEMARANG.COM, banjir mulai masuk ke permukiman warga sekitar pukul 07.30 pagi. Kondisi ini diperparah dengan hujan yang tak kunjung reda, sehingga dampak banjir semakin meluas bahkan sempat membuat Jalan Pantura Semarang-Kendal lumpuh.
Data yang dihimpun, untuk Mangkang Wetan banjir melanda RW 1, 2, 3, 5 ,6, dan 7. Banjir hampir merata juga terjadi di Kelurahan Mangkang Kulon dan Mangunharjo karena limpasan air Sungai Plumbon yang belum dinormalisasi oleh pemerintah pusat.
Di Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, banjir terjadi di Perumahan Mangkang Indah, yakni RW 1 dan 2. Lalu di RW 4 Pasar Mangkang, dan terparah adalah di RW 7 atau Jalan Kuda yang merupakan wilayah cekungan. Bahkan banjir di kawasan ini setinggi dada orang dewasa. “Banjir mulai masuk ke RW 1 sekitar pukul 07.30, ada beberapa rumah yang tergenang dengan ketinggian air sekitar 30 sentimeter,” kata Nomo Prasetyo, Ketua RT 2 RW 1 Kelurahan Mangkang Wetan.
Banjir juga merendam Jalan Pantura Semarang – Kendal. Kondisi ini membuat puluhan kendaraan yang nekat melintas ngadat karena terendam air. Ketinggian air di Jalan Pantura mencapai paha orang dewasa.
Ketua RW 7 Kelurahan Wonosari Mashudi menjelaskan, banjir di wilayahnya mencapai setinggi dada orang dewasa atau sekitar satu meter. Selain karena curah hujan tinggi, kata dia, drainase dari perkampungan ke Sungai Beringin belum maksimal lantaran masih dalam tahap normalisasi dan pembangunan. “Ini drainase masih proses pembangunan dan belum maksimal, pipa sedot dan pompa air belum bisa diungsikan,” jelas pria yang akrab disapa Prentul ini.
Data sementara, jumlah rumah warga yang terdampak di wilayah ini sekitar 60 sampai 80 kepala keluarga (KK). Namun pihaknya masih belum bisa mendata secara pasti lantaran belum melakukan tinjauan ke semua wilayahnya. “Sekitar 60 sampai 80 KK, tapi ini masih data sementara. Semoga hujan cepat reda,” harapnya.
Banjir kemarin juga merendam kawasan Kota Lama dan Stasiun Tawang. Di Kota Lama ketinggian banjir sepaha orang dewasa. Kafe ataupun rumah makan di kawasan tersebut pun terpaksa tutup karena terendam banjir.
Kondisi Stasiun Semarang Tawang terjadi genangan air cukup tinggi yang mengakibatkan pelayanan boarding penumpang dipindahkan di area pintu keluar stasiun. Genangan air juga terlihat di Stasiun Poncol yang membuat masyarakat kesulitan masuk ke area dua stasiun besar di Ibu Kota Jateng ini.
Di wilayah Semarang bagian Timur, Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) meluber. Akibatnya, sejumlah permukiman warga terendam. Seperti di dekat perbatasan rel Cilosari, Kemijen dan Purwosari, Tambakrejo, banjir meluber ke jalan raya. Bahkan, di salah satu pintu air di Purwosari, tidak kuat menahan derasnya air. Ketinggian air di Kelurahan Tambakrejo mencapai 50 sentimeter hingga 1 meter.
Di bawah tol Kaligawe ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Lalu lintas relatif sepi karena banyak pengendara tidak berani melintas. Apalagi di Jalan Kaligawe Raya arah Genuk, termasuk di depan RSI Sultan Agung ketinggian air mencapai satu meter.
Banjir dan genangan air juga melanda wilayah Kelurahan Siwalan, Kecamatan Gayamsari. Menurut Lurah Siwalan Niken Nugrahaeni, air masuk ke permukiman warga sekitar pukul 07.30. Ketinggian air antara 15- 30 sentimeter.
Menurut Niken, sebanyak 1.000 kepala keluarga (KK) terdampak banjir. Pihaknya membuka dapur umum sementara di RW 3. “Di RW 3 sudah dibuka dapur umum untuk warga terdampak banjir,” katanya.
Camat Gayamsari M Agus Junaidi menjelaskan setidaknya ada tiga kelurahan wilayahnya yang dilanda banjir. Yakni, Kelurahan Tambakrejo, Sawah Besar, dan Gayamsari (Jalan Gajah Raya.
Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo turun ke lapangan mengecek banjir di Semarang, Sabtu (31/12) siang jelang sore. Pada pagi harinya, Ganjar juga sudah melakukan pengecekan di beberapa titik. Namun guna memastikan kondisi terkini, Ganjar pun kembali melakukan peninjauan ke lapangan. Pada kesempatan itu, Ganjar mengecek Pos Lantas Simpang Lima, Stasiun Poncol dan Tawang hingga Pasar Johar.
Di Pasar Johar, saat Ganjar datang, banjir sudah surut. Para pedagang yang ada di sana mengatakan, pompa berjalan dengan baik. sehingga banjir di kawasan Pasar Johar pun tidak berlangsung lama.
“Besok masih akan seperti ini, malah diperkirakan lebih lama lagi. Masyarakat berhati-hati. Nanti malam tahun baru melihat cuacanya, tidak bagus, hujan deras tidak usah keluar,” tegas Ganjar.
Setelah berkeliling di tengah kota, Ganjar kemudian menuju ke Rumah Pompa Kali Sringin di Trimulyo. Jalan menuju ke rumah pompa Sringin di sepanjang jalan arah Semarang-Demak, tepatnya di depan RSI Sultan Agung. Banjir menggenang dan menyebabkan kemacetan.
Di lokasi ini, Ganjar mendapati dua unit pompa tidak berfungsi. Laporan petugas, dua pompa tersebut rusak akibat kebocoran oli hidrolis. Perbaikan direncanakan pagi kemarin, namun teknisinya belum datang. Ganjar pun meminta petugas untuk menghubunginya. “Iya pompanya nggak jalan yang satu rusaknya sudah agak lama, yang satunya baru kemarin. Maka kalau kondisinya darurat seperti ini saya minta diperbaiki cepet,” tegas Ganjar seusai tinjauan.
Ganjar mengatakan, BMKG telah memprediksi cuaca esktrem seperti ini akan berlangsung hingga 3 Januari 2023. Tim teknis, lanjut Ganjar, harus selalu siap dan siaga. “Kalau kita tidak cepat memperbaiki itu cukup bahaya. Tadi malam juga kami minta seluruh pompa-pompa portable itu diaktifkan, karena ini kejadiannya merata,” ujarnya.
Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Badan Meteorologi, Klimatolog dan Geofisika untuk membantu rekayasa cuaca. “Kita coba minta agar dilakukan rekayasa cuaca, diintervensi, kemarin kita sudah sampaikan kondisi kedaruratan ini,” ujar Ganjar seusai meninjau Stasiun Tawang.
Tidak hanya banjir, akibat hujan yang mengguyur Kota Semarang selama tujuh jam lebih, menyebabkan longsor. Di Jalan Pawiyatan Luhur, Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur terjadi longsor. Pohon bambu tumbang hingga menutup jalan. Evakuasi memakan waktu cukup lama karena pohon bambu cukup rimbun dan panjang. Dimulai pukul 09.00, selesai pukul 12.15.
Selain aparat kepolisian, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang juga turun tangan. Dengan mobil crane dan gergaji mesin, evakuasi pohon menjadi lebih cepat. Setelah selesai, pohon dan daun bambu diangkut mobil bak sampah yang sudah berjaga. Evakuasi selesai, lalu lintas pun kembali normal.
Lurah Bendan Duwur Wahyu Mahardi mengatakan, dalam insiden ini tidak ada korban jiwa. Hanya saja menganggu lalu lintas. “Alhamdulillah kami bersama-sama stakeholder sudah bergerak bersama dilakukan pembersihan dan evakuasi longsor, agar lalu lintas kembali normal,” ujarnya.
Camat Gajahmungkur Ade Bhakti juga tampak memantau bencana ini. Ia mengungkapkan, di wilayahnya terdapat belasan titik bencana longsor dan pohon tumbang. Ia merinci di Kelurahan Gajahmungkur ada 7 titik, Kelurahan Bendan Duwur ada 2 titik, Kelurahan Bendungan ada 3 titik, dan Kelurahan Lempongsari ada 2 titik kejadian. “Ada 14 titik kejadian, macam-macam longsor dan pohon tumbang. Yang parah itu di Kelurahan Gajahmungkur longsor mengenai rumah. Itu sudah kami evakuasi,” bebernya. (den/fgr/ifa/aro)
