Sate Kambing RM Madura Madrawi Favorit Delegasi Konferensi Asia-Afrika (2)

Pojok Langganan Bung Karno

spot_img

Meski Indonesia belum merdeka, nama Bung Karno sudah sangat dikenal pada 1920-an itu. Maka, tidak heran jika banyak warga yang ingin berjumpa dan berbincang langsung dengan Bung Karno. RM Madura Madrawi pun kemudian menjadi salah satu lokasi berdialog antara Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya pada waktu itu.

BERSEJARAH: Daftar menu RM Madura Madrawi yang disimpan rapi oleh anak cucu. Madrawi adalah pelopor kreasi sate Madura di Bandung. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Saat Jawa Pos berkunjung ke kediamannya di Bandung, Fadli memamerkan foto RM Madura Madrawi. ”Bung Karno biasa duduk di meja pojok depan sebelah kiri,” katanya. Di pojokan itulah biasanya Bung Karno menyantap hidangan yang diolah Madrawai dan Badjuri.

Dari Badjuri, Fadli mendengar bahwa menu favorit Bung Karno adalah soto Madura yang disajikan dengan nasi terpisah. Bung Karno juga menggemari sate ayam, kerupuk udang, dan es teh manis atau es teh tawar. ”Setelah makan, biasanya beliau meminta pencuci mulut berupa pisang,” terangnya.

Jika sedang bertandang ke RM Madura Madrawi, Bung Karno pasti akan bisa ditemukan di pojok favoritnya. Di sudut itulah Sang Proklamator menikmati masakan Madrawi. Baik itu sendirian ataupun bersama teman-teman dan tokoh-tokoh yang lain. Pojok tersebut juga menjadi saksi kecakapan Bung Karno sebagai pemimpin. Beliau juga sering berdiskusi panjang di sana.

Baca juga:   Presiden dan Lidahnya

Bung Karno memang tidak setiap hari datang ke RM Madura Madrawi. Dalam satu pekan, beliau berkunjung minimal sekali. Selain untuk bersantap, Bung Karno datang ke sana untuk menjumpai Madrawi dan Badjuri. Perjumpaan itu menjadi jarang setelah Indonesia merdeka. Bung Karno dan tokoh-tokoh yang biasa datang ke RM Madrawi disibukkan dengan urusan kenegaraan.

Madrawi adalah teman yang jauh di mata, namun dekat di hati bagi Bung Karno. Buktinya, saat Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955, RM Madura Madrawi menjadi pendukung panitia. Tepatnya menyediakan makanan untuk seluruh undangan.

Fadli tidak ingat persis berapa porsi makanan yang harus mereka sediakan setiap hari selama pergelaran KAA. Yang dia ingat, RM Madura Madrawi tidak hanya mengirimkan makanan ke lokasi konferensi, tapi juga ke tiap penginapan yang menampung delegasi KAA dari berbagai negara.

Keterlibatan RM Madura Madrawi dalam agenda internasional itu membuat nama restoran tersebut kian dikenal. Hingga menjelang tutup permanen pada 1987, RM Madura Madrawi masih banyak penggemar. ”Respons masyarakat juga masih bagus,” katanya.

Baca juga:   Bu Eha, Bandung, Warung Langganan Presiden Soekarno (1)

Populer

Lainnya