Presiden dan Lidahnya

Oleh FADLY RAHMAN, Departemen Sejarah & Filologi Universitas Padjadjaran

spot_img

RADARSEMARANG.ID-PADA 21 Mei 2017, melalui kanal YouTube-nya Presiden Joko Widodo merilis video bertajuk Cerita dari Dapur Presiden. Juru masak Tri Supriharjo menuturkan makanan kegemaran sang presiden yang akrab disapa Jokowi ini sederhana sekali.

Ungkapnya, apa yang dimakan sehari-hari oleh Jokowi adalah masakan rumahan seperti sup ayam, sayur bening ayam, tumis pepaya muda, tumis oseng-oseng tempe, mi ketoprak, soto kuning, tempe tahu bacem, teri goreng, dan seperti halnya kebanyakan orang Indonesia, makanan pokoknya adalah: nasi. Kudapan favoritnya singkong goreng, jagung rebus, lento, dan bakwan. Adapun minuman kegemarannya selain jus, juga minum jamu dan teh pahit.

Apa yang dikesankan sederhana oleh sang juru masak mungkin disebabkan makanan dan minuman favorit seorang presiden tidak jauh berbeda dengan yang dikonsumsi oleh rakyat kebanyakan.

Nama-nama makanan dan minuman yang disebutkannya pun bukan sekadar masakan rumahan, namun sangat mencitrakan cita rasa keindonesiaan sekaligus latar kedaerahan sang presiden. Di awal video, sang juru masak menyebut dirinya berasal dari Solo, kampung halaman yang sama dengan sang presiden. Apa yang dapat dimaknai dari cerita di balik dapur presiden adalah betapa lekat lidah Jokowi sebagai seorang berdarah Jawa terhadap cita rasa makanan dari kampung halamannya.

Baca juga:   Sate Kambing RM Madura Madrawi Favorit Delegasi Konferensi Asia-Afrika (2)

Makna di Balik Selera Makan

Dalam dunia kepresidenan, ada protokol tertentu yang mengatur aktivitas makan seorang presiden. Salah satu tolok ukur kewibawaan dan martabat seorang presiden tentu dari makanan apa yang dimakan dan bagaimana ia makan. Tidak heran untuk mengetahui gambaran seperti apa selera makan presiden ke-7 RI, yang menjadi ”penyambung lidahnya” adalah sang juru masak.

Namun, protokol semacam itu tidak berlaku bagi Soekarno. Presiden ke-1 RI ini dapat dikatakan sering terang-terangan dalam mengutarakan makanan kegemarannya. Bahkan, ia tidak sungkan difoto dalam keadaan tengah nikmatnya makan bersama rakyat. Dalam orasinya yang berapi-api, kadang didapati Soekarno menyelipkan makanan-makanan kegemarannya sebagai simbolisasi atas perjuangan bangsa, keprihatinan, kesederhanaan, dan spirit antikolonialisme.

Dalam sebuah pidatonya di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor pada 15 Januari 1966, Soekarno pernah mengungkapkan selera makannya sehari-hari: ”Nasi sama lodeh, tempe goreng, telor. Saya tidak makan biefstuk… saya tidak makan hal-hal yang mahal. Tapi makan saya sehari-hari ialah sama, simple, nasi dengan lodeh… dengan sayur asem, dengan tempe goreng, dengan telor, dengan sambel terasi yang sedap.” Tidak makan biefstuk alias bistik adalah sebagian kecil dari prinsip antikolonial Soekarno yang nyata merasuk juga terhadap urusan makan. Hal itu tersiratkan dari apa yang disampaikannya kepada Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966): ”Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, yang masih saja mereka pegang teguh secara tidak sadar. Hal itu menyebabkan kemarahanku baru-baru ini. Wanita-wanita dari kabinetku selalu menyediakan jualan makanan Eropa. ’Kita mempunjai panganan enak kepunyaan kita sendiri,’ kataku dengan marah. ’Mengapa tidak itu saja dihidangkan?’”

Baca juga:   Bu Eha, Bandung, Warung Langganan Presiden Soekarno (1)

Populer

Lainnya