<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SMK Negeri 10 Semarang &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<atom:link href="https://radarsemarang.com/tag/smk-negeri-10-semarang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<description>What&#039;s Next?</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2023 15:04:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://radarsemarang.com/wp-content/uploads/2025/08/cropped-RS-DIGITAL-512-32x32.png</url>
	<title>SMK Negeri 10 Semarang &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Penanaman Budaya Industri di SMK</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/25/penanaman-budaya-industri-di-smk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2023 15:04:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Guru SMK Negeri 10 Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Kuslimanto Adhi Nugroho]]></category>
		<category><![CDATA[Penanaman Budaya Industri]]></category>
		<category><![CDATA[smk]]></category>
		<category><![CDATA[SMK Negeri 10 Semarang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=413941</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM,Setelah lulus, siswa SMK ada yang langsung bekerja. Maka sangat penting bagi mereka selain menguasai skill keteknikan juga perlu budaya industri yang akan mereka hadapi saat bekerja nanti. Budaya industri adalah falsafah yang didasari pada pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok yang tercermin dalam sikap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM,Setelah lulus, siswa SMK ada yang langsung bekerja. Maka sangat penting bagi mereka selain menguasai skill keteknikan juga perlu budaya industri yang akan mereka hadapi saat bekerja nanti. </p>
<p>Budaya industri adalah falsafah yang didasari pada pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok yang tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja (Gering Supriyadi dan Tri Guno:2021).</p>
<p>Pembentukan budaya industri membutuhkan proses yang panjang dimulai dari karakter kerja individu yang baik menjadi kebiasaan dan akhirnya membentuk karakter kerja secara kolektif yang disebut budaya kerja. Untuk itu perlu penanaman budaya industri ini sejak mereka masih menjadi siswa SMK.</p>
<p>Budaya industri salah satunya terkenal dengan singkatan 5R yaitu ringkas (pemilahan), rapih (penataan), resik (pembersihan), rawat (pemantapan), rajin (pembiasaan). 5R adalah proses perubahan sikap dengan menerapkan penataan dan kebersihan tempat kerja (Bono:2015). </p>
<p>Penerapan 5R ini sangat banyak keuntungannya. Antara lain eliminasi kesalahan, meningkatkan kenyamanan, meningkatkan kemampuan setiap orang di lingkungan itu. </p>
<p>Dalam pelaksanaan penanaman budaya industri ini pada siswa, penulis lakukan saat pembelajaran mapel Pemeliharaan Sasis dan Pemindah Tenaga Kendaraan Ringan (PSPTKR) pada KD. 3.21 Mendiagnosis kerusakan sistem rem konvensional di  SMK Negeri 10 Semarang.</p>
<p>Penulis membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Untuk menanamkan budaya industri ini penulis memberi tugas tambahan kepada beberapa kelompok untuk menjadi satgas. Kelompok pertama diberi tugas menjaga kebersihan tempat kerja (lingkungan bengkel) selain praktik sesuai job, kelompok ini memastikan kebersihan di dalam bengkel dengan menyapu lantai bengkel sebelum pembelajaran praktik dimulai. </p>
<p>Memperingatkan siswa lain jika siswa tersebut membuat kotor dengan menyuruh buang sampah pada tempat sampah. Setelah praktik selesai, kelompok ini bertugas membersihkan ruang praktek yang mereka gunakan.<br />
Kelompok kedua mendapat tugas mengurusi peralatan yang digunakan untuk praktik. Mereka pertama-tama membawa caddy tempat alat untuk praktik dari ruang penyimpanan ke ruang praktik siswa. </p>
<p>Tugas selanjutnya mendata alat-alat yang ada di caddy, jenis alat dan jumlah alat  akan dilaporkan ke guru pengampu secara mendetail. </p>
<p>Tugas selanjutnya mendistribusikan alat ke kelompok yang membutuhkan atau mereka bisa mengambil sendiri sesuai kebutuhan selama proses praktik dilakukan. </p>
<p>Setelah praktik selesai tugas mereka mendata lagi alat yang sudah kembali di dalam caddy. Mereka akan meletakkan alat-alat yang digunakan sesuai tempat awal. Jika ada alat yang terletak tidak sesuai tempat awalnya, mereka akan memindahkan dan merapikan letak alat-alat tersebut. </p>
<p>Selain itu mereka akan membersihkan alat-alat yang kotor oleh oli dan lain-lainnya menggunakan kail lap atau majun. Sehingga alat yang ada di caddy sebelum dikembalikan ke tempat penyimpanan sudah bersih dan akan awet (mempraktikkan budaya industri : rawat). </p>
<p>Terakhir sebelum mereka membawa caddy ini ke tempat penyimpanan,  tugas mereka melaporkan alat-alat yang ada di caddy telah lengkap, bersih dan rapi dengan posisi sesuai tempatnya. </p>
<p>Jika ada kekurangan alat di caddy, kelompok mereka berusaha mencari alat tersebut sampai ketemu. Jika semua siswa dalam kelas tersebut sudah berusaha tetapi belum ditemukan, seluruh siswa di kelas tersebut berdiskusi untuk mengganti alat yang hilang sebagai rasa tanggung jawab mereka.</p>
<p>Dengan metode ini siswa terbiasa menerapkan bagian dari budaya industri yang sangat berguna saat mereka terjun di dunia kerja. (ko/lis)</p>
<p>Guru SMK Negeri 10 Semarang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penerapan Nilai-Nilai Pancasila melalui Pendekatan Kontekstual Teaching and Learning</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/02/penerapan-nilai-nilai-pancasila-melalui-pendekatan-kontekstual-teaching-and-learning/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2023 12:42:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Guru SMK Negeri 10 Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekatan Kontekstual]]></category>
		<category><![CDATA[Penerapan Nilai-Nilai Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[SMK Negeri 10 Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Suginah]]></category>
		<category><![CDATA[Teaching and Learning]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=411270</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, PEMERINTAH telah mengeluarkan Permendiknas 23/2006 tentang standar keberhasilan pendidikan yang juga sebagai standar keberhasilan pendidikan sebagai standar hasil pendidikan karakter. Standar secara umum ini berhubungan dengan perilaku sesuai kerakter yang diinginkan yaitu, 1) berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut, 2) berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan social, 3) menghargai keberagaman agama, suku, ras dan golongan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, PEMERINTAH telah mengeluarkan Permendiknas 23/2006 tentang standar keberhasilan pendidikan yang juga sebagai standar keberhasilan pendidikan sebagai standar hasil pendidikan karakter. </p>
<p>Standar secara umum ini berhubungan dengan perilaku sesuai kerakter yang diinginkan yaitu, 1) berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut, 2) berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan social, 3) menghargai keberagaman agama, suku, ras dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global, dan 4) membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan nilai-nilai Pancasila. </p>
<p>Dalam pembelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan di SMK Negeri 10 Semarang di kelas X semester gasal dengan capaian pembelajaran (CP), peserta didik dapat membandingkan cara pandang para pendiri bangsa tentang rumusan Pancasila, mengidentifikasi peluang dan tantangan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan global, dan mengkaji penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. </p>
<p>Sedangkan tujuan pembelajarannya adalah peserta didik mengklasifikasikan, memilih dan menunjukkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari secara kontektual.</p>
<p>Untuk itu model pembelajaran TCL (Contextual Teaching Learning) yang paling efektif diterapkan karena mampu merangsang integritas siswa. Salah satu mata pelajaran di tingkat pendidikan menengah, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan berfungsi untuk meningkatkan kemampuan berpikir, berperilaku, dan keterampilan dengan berinteraksi dalam keragaman realitas sosial dan budaya berdasarkan nilai-nilai moralitas. </p>
<p>Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual juga menjadikan pengalaman menjadi relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. </p>
<p>Jika diletakkan secara kontek, pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar dengan cara menaikkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antarpengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai anggota masyarakat dan keluarga. Dimana siswa ikut aktif mengembangkan pengetahuan sebelumnya.</p>
<p>Menurut Komari Anwar (2010), pendidikan adalah proses internalisasi nilai-nilai budaya ke dalam diri sesesorang dan masyarakat sehingga orang dan masyarakat beradab. Inti dari nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia adalah Pancasila. </p>
<p>Pancasila merupakan nilai dasar yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila sangat berfungsi dalam membentuk karakter bangsa. </p>
<p>Menurut Notonagoro (1983:26–28), Pancasila merupakan inti dari nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat yang berasal dari kebudayaan, kebiasaan, dan agama. Di dalam Pancasila terdapat beberapa nilai dasar yaitu nilai-nilai yang mendasari kehidupan manusia, nilai instrumental yang merupakan arahan, kebijakan, strategi sasaran, serta lembaga pelaksanaanya. </p>
<p>Nilai praksis yaitu realisasi pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, bangsa, dan negara. Tiga nilai inilah yang menjadi dasar pembentukan karakter peserta didik. Pada model pembelajaran CTL merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. </p>
<p>Hal ini menyebabkan pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional hanya berfokus pada materi yang bisa dihafal. </p>
<p>Pada pembelajaran kontekstual memungkinkan peserta didik aktif, berkembang sesuai dengan potensinya. Sasaran utama CTL adalah mendorong siswa untuk mencapai keunggulan akademik memperkokoh keterampilan dan mengembangkan karakter dengan cara menghubungkan tugas sekolah dengan pengalaman serta pengetahuan pribadinya.</p>
<p>Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan guru pada penerapan model pembelajaran CTL dalam proses kegiatan belajar mengajar adalah 1) guru mengarahkan siswa untuk mengembangkan pemikirannya melakukan kegiatan belajar yang bermakna, berkesan dengan cara meminta siswa bekerja sendiri dan mencari serta menemukan sendiri jawabnya, kemudian memfasilitasi siswa untuk mengonstruksi sendiri pengetahuannya dan keterampilannya yang baru saja ditemuinya.</p>
<p>2) dengan bimbingan guru, siswa diajak menemukan suatu fakta dari permasalahan yang disajikan guru atau dari materi yang diberikan guru, 3) memancing reaksi siswa untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan dengan tujuan untuk mengenbangkan rasa ingin tahu siswa, 4) guru membentuk kelas menjadi beberapa kelompok untuk melakukan diskusi dan tanya jawab.</p>
<p>5) guru mendemonstrasikan ilustrasi/gambaran materi dengan model atau media yang sebenarnya, 6) guru bersama siswa melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan, dan 7) guru melakukan evaluasi yaitu menilai kemampuan siswa yang sebenarnya. </p>
<p>Dari ketujuh langkah tersebut, guru dapat memodifikasi lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, namun tidak menghilangkan beberapa langkah yang sudah ada dengan urut-urutan yang terpadu. (ko/ida)</p>
<p>Guru SMK Negeri 10 Semarang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
