<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SAMPAH &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<atom:link href="https://radarsemarang.com/tag/sampah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<description>What&#039;s Next?</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2023 02:34:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.1</generator>

<image>
	<url>https://radarsemarang.com/wp-content/uploads/2025/08/cropped-RS-DIGITAL-512-32x32.png</url>
	<title>SAMPAH &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Volume Sampah di Kota Magelang Naik 20 Ton Per Hari</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/31/volume-sampah-di-kota-magelang-naik-20-ton-per-hari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2023 02:34:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Banyuurip]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[SAMPAH]]></category>
		<category><![CDATA[sampah Kota Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[TPA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414542</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Magelang &#8211; Volume sampah Kota Magelang meningkat. Dari 60 ton per hari pada 2022, awal tahun ini mencapai 80 ton. Peningkatan produksi sampah 20 ton per hari itu diduga karena aktifitas masyarakat yang kembali normal selepas pandemi Covid-19. Sampah organik mendomonasi 60 persen. Terbanyak dari sampah rumah tangga. Fenomena ini berbanding terbalik dengan kondisi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RADARSEMARANG.COM, <em>Magelang</em></strong> &#8211; Volume sampah Kota Magelang meningkat. Dari 60 ton per hari pada 2022, awal tahun ini mencapai 80 ton. Peningkatan produksi sampah 20 ton per hari itu diduga karena aktifitas masyarakat yang kembali normal selepas pandemi Covid-19. Sampah organik mendomonasi 60 persen. Terbanyak dari sampah rumah tangga.</p>
<p>Fenomena ini berbanding terbalik dengan kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Magelang yang berlokasi di Banyuurip, Kabupaten Magelang, belum berubah. Sampah kian bertambah, menumpuk, dan kehabisan tempat untuk menampungnya. Pemkot Magelang pun belum bisa membangun TPA di kawasan kotanya sendiri, karena lahan terbatas.</p>
<p>&#8220;Persyaratan teknis TPA itu setidaknya harus berjarak 1 kilometer dari dari tempat tinggal yang terdekat,” jelas Kepala Bidang Pengelolaan dan Penanganan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang Widodo kemarin.</p>
<p>Upaya yang bisa dilakukan DLH Kota Magelang, yaitu memperpanjang usia TPA Banyuurip dengan cara memberdayakan masyarakat untuk memilah sampah dari rumah. Kemudian membuat bank sampah, kampung organik, serta mendaur ulang sampah yang bisa dimanfaatkan.</p>
<p>Selain itu, membangun TPS 3R di Bojong, Kecamatan Magelang Selatan. Hanya saja, proses pembangunannya sampai saat ini belum selesai.</p>
<p>&#8220;Tempat pengelolaan sampah ini menerapkan sistem <em>reuse</em>, <em>reduce</em>, <em>recycle</em>. Sampah yang masuk langsung diproses, sehingga tidak ada penimbunan,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Tak hanya itu, ada pula program sekolah sampah yang dilakukan setiap tahun. Pada 2022 lalu terdapat 30 orang dilatih dari setiap wilayah di Kota Magelang.</p>
<p>Program ini memberi edukasi kepada masyarakat cara memilah sampah dari rumah, pelatihan olah sampah, pelatihan daur ulang. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengurangi sampah yang dibuang. “Bila perlu tidak ada sampah yang dibawa ke TPA,” imbuhnya.</p>
<p>Ke depannya akan diadakan program RT/RW Mandiri Sampah yang akan dimulai pada Februari-November 2023. Dengan konsep pengelolaan secara mandiri oleh kader yang dibentuk di lingkungan tingkat RT/RW.</p>
<p>Ia mencontohkan, sampah organik dikelola menjadi kompos untuk dipakai kampung organik. Sampah anorganik dipisah untuk dijual ke bank sampah. <strong>(mg8/put/ton)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lautan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/25/lautan-sampah-di-kampung-nelayan-tambakrejo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2023 03:48:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[lautan sampah]]></category>
		<category><![CDATA[SAMPAH]]></category>
		<category><![CDATA[sampah tambakrejo]]></category>
		<category><![CDATA[top]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=413875</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Semarang &#8211; Pemandangan tak sedap terlihat di muara Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Sampah menumpuk dan menutupi permukaan air. Bagaikan lautan sampah. Kondisi itu terlihat di titik Kampung nelayan di RT 5 RW 16 Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara. Sampah yang ada di sana didominasi oleh plastik dan kayu. Sampah itu berasal dari laut [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>RADARSEMARANG.COM, <em>Semarang</em> </b>&#8211; Pemandangan tak sedap terlihat di muara Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Sampah menumpuk dan menutupi permukaan air. Bagaikan lautan sampah.</p>
<p>Kondisi itu terlihat di titik Kampung nelayan di RT 5 RW 16 Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara. Sampah yang ada di sana didominasi oleh plastik dan kayu.</p>
<p>Sampah itu berasal dari laut yang terbawa arus saat banjir rob melanda kampung tersebut. Namun saat air surut, sampah tersebut menetap dan semakin menggunung di daerah yang dulunya menjadi permukiman warga.</p>
<p>&#8220;Kemarin itu kan ombak besar, kalau rob sampah itu ke sini, tapi waktunya rob balik sampahnya nggak ikut balik. Jadi itu bukan sampah warga,&#8221; kata Ketua RT 5, RW 16, Edi Saktiono.</p>
<p>Diceritakan, persoalan sampah sebenarnya sudah ada pada 2015 lalu, namun belum begitu banyak. Ketika sungai dibendung dan dijadikan rumah hunian sementara dua tahun lalu, sampah semakin menumpuk.</p>
<p>&#8220;Waktu di situ masih ada rumah-rumah tidak kelihatan, waktu dibendung dijadikan permukiman, baru kelihatan sampahnya,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Kondisi tersebut membuat kampungnya terlihat kumuh. Bahkan ketika gelombang tinggi, air yang masuk ke permukiman membawa sampah. &#8220;Walaupun sudah dibersihkan, tetap seperti itu,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Diakuinya, sampah itu sudah pernah dibersihkan berulangkali oleh sejumlah relawan dari mahasiswa, tetapi tidak efektif. &#8220;Misal pagi dibersihkan malamnya rob datang sampah lagi,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Bahkan pihaknya sudah pernah berkoordinasi dengan angkatan laut untuk bersih-bersih sampah. Namun sampah kembali datang dan menumpuk.</p>
<p>&#8220;Ibaratnya kalau banjir kemarin itu bawa sampah, waktu rob juga bawa sampah, tapi pas surut dia tidak mau kembali dan menumpuk di situ,&#8221; tandasnya. <strong>(fgr/mg5/mg6/mg7/zal)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jorok, Sampah Berserakan di Jalan Salakan Mertoyudan</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/23/jorok-sampah-berserakan-di-jalan-salakan-mertoyudan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2023 04:39:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Mertoyudan]]></category>
		<category><![CDATA[Dusun Banyanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Mertoyudan]]></category>
		<category><![CDATA[SAMPAH]]></category>
		<category><![CDATA[sampah berserakan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=413583</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Mungkid &#8211; Persoalan sampah muncul di salah satu titik Jalan Salakan perbatasan antara Dusun Kalisari dengan Dusun Banyanan, Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan. Tumpukan sampah berserakan hampir memakan setengah ruas jalan. Diduga, sampah tersebut berasal dari orang yang melintas lalu membuang secara sembarangan. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi memang terdapat pengolahan sampah. Namun akses masuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RADARSEMARANG.COM, <em>Mungkid</em></strong> &#8211; Persoalan sampah muncul di salah satu titik Jalan Salakan perbatasan antara Dusun Kalisari dengan Dusun Banyanan, Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan.</p>
<p>Tumpukan sampah berserakan hampir memakan setengah ruas jalan. Diduga, sampah tersebut berasal dari orang yang melintas lalu membuang secara sembarangan.</p>
<p>Pantauan <em>Jawa Pos Radar Semarang</em> di lokasi memang terdapat pengolahan sampah. Namun akses masuk dari jalan ditutup rapat dengan pagar besi. Di sisi kanan kiri terdapat tumpukan sampah sekitar lebih dari 10 meter.</p>
<p>Bungkus plastik warna-warni berisi sampah dan limbah rumah tangga. Bagian paling bawah mengering dan membusuk. Ketika melintas bau tak sedap pun bertebaran. Hal itu membuat pengguna jalan yang melintas merasa risih. Selain mengganggu drainase saat hujan aroma busuk meresahkan warga.</p>
<p>&#8220;Iya saya heran kenapa berserakan (sampah itu). Meskipun bukan warga sini tapi saya punya bangunan di sini dan sangat terganggu,&#8221; kata Hari, pemilik Abu Bilal Park yang berada di seberang lokasi sampah yang berceceran.</p>
<p>Padahal di pagar besi tersebut tertulis larangan di baliho &#8220;Bukan Tempat Pembuangan Sampah Umum&#8221;. Bahkan secara gamblang juga tertera penjelasan Perda Kabupaten Magelang no 7 Tahun 2017 Tentang Pengelolaan Sampah. Selain itu tempat pengelolaan sampah tersebut terawasi CCTV selama 24 jam.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya itu masuk dan punyanya pihak PT. Bumi Prayudan. Dan memang bukan tempat pembuangan sampah umum,&#8221; kata salah satu warga Dusun Dampit, Salakan, Mertoyudan yang enggan disebutkan namanya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antisipasi Banjir, Angkut 16 Truk Sampah dari Kali Tenggang</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/12/antisipasi-banjir-angkut-16-truk-sampah-dari-kali-tenggang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2023 02:32:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BANJIR]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Enceng Gondok]]></category>
		<category><![CDATA[SAMPAH]]></category>
		<category><![CDATA[semarang banjir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=412338</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Semarang &#8211; Curah hujan masih tinggi. Potensi banjir pun masih besar. Karena itu, Pemkot Semarang terus melakukan bersih-bersih sungai. Terutama sungai yang alirannya tidak lancar karena dipenuhi  sampah dan tanaman enceng gondok. Salah satunya Sungai Pacar, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari. Permukaan sungai ini banyak ditumbuhi enceng gondok sepanjang kurang lebih 250 meter. Tentu saja, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RADARSEMARANG.COM, <em>Semarang</em></strong> &#8211; Curah hujan masih tinggi. Potensi banjir pun masih besar. Karena itu, Pemkot Semarang terus melakukan bersih-bersih sungai. Terutama sungai yang alirannya tidak lancar karena dipenuhi  sampah dan tanaman enceng gondok.</p>
<p>Salah satunya Sungai Pacar, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari. Permukaan sungai ini banyak ditumbuhi enceng gondok sepanjang kurang lebih 250 meter.</p>
<p>Tentu saja, hal ini membuat aliran sungai menjadi tidak lancar. Selain itu, sungai rawan meluap jika banjir. Apalagi banyak sampah plastik <em>nyangkut</em> di ‘hutan’ enceng gondok tersebut.</p>
<p>Kemarin (11/1), petugas Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang mengerahkan alat berat untuk membersihkan tumbuhan air tersebut.</p>
<p>Koordinator Wilayah Timur Bidang SDA DPU Kota Semarang Ari Setiobudi menjelaskan, pembersihan enceng gondok dan sampah dilakukan di tiga lokasi.</p>
<p>Yakni, sungai di Karangroto, Sungai Tenggang Kaligawe, dan Sungai Pacar Kelurahan Tambakrejo.  &#8220;Ini merupakan salah satu penyebab banjir. Karena aliran air menuju pompa penyedot terhambat enceng gondok dan sampah,&#8221; jelasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
