<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Guru Kelas &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<atom:link href="https://radarsemarang.com/tag/guru-kelas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<description>What&#039;s Next?</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2023 16:41:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://radarsemarang.com/wp-content/uploads/2025/08/cropped-RS-DIGITAL-512-32x32.png</url>
	<title>Guru Kelas &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Belajar IPS Efektif dengan Jigsaw Berbantuan Media Pop-Up Book</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/13/belajar-ips-efektif-dengan-jigsaw-berbantuan-media-pop-up-book/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2023 16:41:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar IPS Efektif]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Jigsaw]]></category>
		<category><![CDATA[Media Pop Up Book]]></category>
		<category><![CDATA[SDN Pagumenganmas]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Nasroh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=412607</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, ILMU Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang mempelajari berbagai disiplin ilmu sosial aktivitas manusia yang disajikan secara ilmiah dalam rangka menambah pemahaman dan wawasan yang lebih luas kepada siswa. Mata pelajaran (Mapel) IPS diajarkan pada tingkat dasar dan menengah. Dengan belajar IPS diharapkan generasi muda dapat menjadi orang yang bijak dan cerdas dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, ILMU Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang mempelajari berbagai disiplin ilmu sosial aktivitas manusia yang disajikan secara ilmiah dalam rangka menambah pemahaman dan wawasan yang lebih luas kepada siswa. Mata pelajaran (Mapel) IPS diajarkan pada tingkat dasar dan menengah. </p>
<p>Dengan belajar IPS diharapkan generasi muda dapat menjadi orang yang bijak dan cerdas dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. </p>
<p>Penulis sebagai guru kelas VI SD Negeri Pagumenganmas, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, mencoba salah satu model pembelajaran model cooperative learning tipe jigsaw. </p>
<p>Model pembelajaran ini dipilih karena melatih siswa bertanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri dalam mendapatkan informasi untuk memecahkan masalah yang didapatkan (Agus Suprijono, 2009: 54). </p>
<p>Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berbasis kelompok, di mana dalam pelaksanaannya melibatkan siswa untuk berdiskusi memecahkan permasalahan atau pertanyaan yang diberikan oleh guru. </p>
<p>Dengan adanya model pembelajaran berbasis kelompok akan membuka kesempatan siswa untuk berbagi pengetahuan, mengalaman tugas, tanggung jawab, memperbaiki pemahaman, dan mengevaluasi.<br />
Tipe pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih optimal karena siswa didorong untuk aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. </p>
<p>Dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, setiap individu dalam kelompok tersebut mendapatkan tanggung jawab untuk mengkaji secera mendalam konsep yang sedang dipelajari. Model pembelajaran ini dibagi menjadi beberapa tahap pelaksanaan. Tahap pertama, siswa dibagi menjadi kelompok asal, dimana setiap individu dalam kelompok bertanggung jawab untuk memahami materi yang telah diberikan oleh guru. Tahap kedua, membentuk kelompok ahli, di mana anggota yang berada dalam kelompok ahli terdiri dari anggota kelompok asal yang memegang tanggung jawab materi yang sama pada kelompok asal.</p>
<p>Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menerapkan model pembelajaran jigsaw berbantuan media Pop-Up Book dalam pembelajaran IPS kelas VI SD Negeri Pagumenganmas. Kenapa model pembelajaran ini dipilih? Sebab, Pop-up book merupakan jenis buku yang ketika dibuka akan timbul atau menampilkan bentuk tiga dimensi, sehingga buku ini dapat menyampaikan pesan dengan kesan lebih nyata.</p>
<p>Sebelum menerapkan model pembelajaran tersebut, kondisi pembelajaran yang digunakan masih kurang optimal, guru masih menggunakan model pembelajaran konveksional. Sehingga hasil belajar siswa terutama dalam pembelajaran IPS masih rendah. Hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang belum mencapai KKM yang telah ditetapkan. Namun setelah menggunakan model pembelajaran jigsaw berbantuan media Pop-Up Book, hasil pembelajaran meningkat. Jumlah siswa yang mencapai KKM di atas 95 persen, jauh di atas hasil sebelumnya yang hanya 65 persen.</p>
<p>Untuk penerapannya, siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah anggota dalam kelompok disesuaikan dengan konsep atau topik yang akan dipelajari. Untuk mengoptimalkan kerja kelompok tersebut, sebaiknya dibentuk kelompok heterogen, baik dari segi kemampuan atau karakteristik lainnya. Jumlah siswa dalam satu kelompok juga harus dibatasi, agar kelompok-kelompok yang terbentuk dapat bekerja sama secara efektif. Apabila jumlah anggota dalam satu kelompok makin banyak, maka dapat mempengaruhi keefektifan kerja sama antar para anggotanya.</p>
<p>Setelah itu, setiap anggota kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu. Kemudian siswa-siswa atau perwakilan dari kelompok masingmasing bertemu dengan anggota-anggota dari kelompok lain untuk mempelajari materi yang sama. </p>
<p>Selanjutnya, materi tersebut didiskusikan serta dipelajari setiap masalah yang dijumpai sehingga perwakilan tersebut dapat memahami dan menguasai materi tersebut. Selanjutnya masing-masing perwakilan tersebut dapat menguasai materi yang ditugaskan kemudian masing-masing perwakilan tersebut kembali ke kelompok asalnya. </p>
<p>Selanjutnya masing-masing anggota tersebut saling menjelaskan pada teman satu kelompoknya sehingga temannya dapat memahami materi yang ditugaskan oleh guru. </p>
<p>Terakhir, siswa diberi tes atau kuis, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah siswa sudah dapat memahami materi. Dengan demikian, secara umum penyelenggaraan model belajar Jigsaw dalam proses belajar mengajar dapat menumbuhkan tanggung jawab siswa sehingga terlibat langsung secara aktif dalam memahami suatu persoalan dan menyelesaikannya secara kelompok atau kerja sama. (gp/ida)</p>
<p>Guru Kelas SDN Pagumenganmas, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Modul Ajar Dapat Tingkatkan Gairah Belajar Siswa</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/12/modul-ajar-dapat-tingkatkan-gairah-belajar-siswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2023 11:27:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gairah Belajar Siswa]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Modul Ajar]]></category>
		<category><![CDATA[Modul Ajar Dapat Tingkatkan Gairah Belajar Siswa]]></category>
		<category><![CDATA[SDN 01 Siwalan]]></category>
		<category><![CDATA[Warkumi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=412455</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, PARADIGMA kurikulum merdeka bagi guru sekolah dasar (SD) merupakan hal yang baru. Peralihan kurikulum 2013 menjadi kurikulum operasional merdeka merupakan hal yang sangat baru. Perubahan kurikulum terjadi secara sistematis sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Lembaga sekolah sering mengubah beberapa kebijakan sesuai dengan peraturan yang terbaru dan disesuaikan dengan kondisi di lembaga sekolah. Beberapa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, PARADIGMA kurikulum merdeka bagi guru sekolah dasar (SD) merupakan hal yang baru. Peralihan kurikulum 2013 menjadi kurikulum operasional merdeka merupakan hal yang sangat baru. Perubahan kurikulum terjadi secara sistematis sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. </p>
<p>Lembaga sekolah sering mengubah beberapa kebijakan sesuai dengan peraturan yang terbaru dan disesuaikan dengan kondisi di lembaga sekolah. Beberapa perubahan dimulai dari kurikulum 2013 menjadi kurikulum darurat yang diimplementasikan sesuai dengan kondisi serta mengambil beberapa kompetensi yang dirasa dapat dicapai. </p>
<p>Pada zaman sekarang, guru dituntut untuk beradaptasi dengan teknologi guna mendukung revolusi industri 4.0 (Astutik et al., 2022).</p>
<p>Pengalaman penulis sendiri terkait kemerdekaan belajar masih minim dan belum mampu mengadopsi kemerdekaan belajar. Dipicu oleh cara dan pengalaman guru belajar sewaktu di bangku kuliah dan masih minimnya kreativitas. Bila pendidik tidak kreatif untuk membimbing siswa maka materi menjadi sulit untuk diterapkan.</p>
<p>Dalam hal ini, penulis merasa harus banyak belajar melalui Youtube atau dengan teman, yaitu dengan mencoba menerapkan modul ajar. Modul Ajar merupakan suatu paket belajar yang berkenaan dengan satu unit bahan pelajaran. </p>
<p>Modul Ajar di Kurikulum Merdeka 2022 merupakan pengganti RPP di Kurikulum 2013. Sehingga keberadaannya sangat penting dalam pembelajaran dalam kurikulum merdeka. </p>
<p>Dengan modul, siswa dapat mencapai dan menyelesaikan bahan belajarnya dengan belajar secara individual. Peserta belajar tidak dapat melanjutkan ke suatu unit pelajaran berikutnya sebelum menyelesaikan secara tuntas materi belajarnya. </p>
<p>Dengan modul, siswa dapat mengontrol kemampuan dan intensitas belajarnya. Modul dapat dipelajari di mana saja. Ada tiga teknik yang dapat dipilih dalam menyusun modul. Ketiga teknik tersebut menurut Sungkono dkk (2003:10), yaitu menulis sendiri, pengemasan kembali informasi, dan penataan informasi. Pertama, menulis sendiri. Kedua, pengemasan kembali informasi.</p>
<p>Penulis/guru tidak menulis modul sendiri, tetapi memanfaatkan buku-buku teks dan informasi yang telah ada di pasaran untuk dikemas kembali menjadi modul yang memenuhi karakteristik modul yang baik. Ketiga, penataan informasi (Compilation). Cara ini mirip dengan cara kedua, tetapi dalam penataan informasi tidak ada perubahan yang dilakukan terhadap modul yang diambil dari buku teks, jurnal ilmiah, artikel, dan lain-lain.</p>
<p>Cara menyusun modul ajar kurikulum merdeka adalah, pertama, analisis kondisi dan kebutuhan peserta didik juga sekolah. Kedua, identifikasi ditentukan oleh dimensi Profil Pelajar Pancasila. Ketiga, guru memilih dimensi Profil Pelajar Pancasila yang paling relevan untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran. Keempat, tentukan alur tujuan pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi modul Ajar yang dibuat guru. Kelima, guru dapat memilih alur tujuan pembelajaran yang dikembangkan oleh sekolah atau mengacu pada alur tujuan pembelajaran yang ada. Keenam, susun modul ajar berdasarkan komponen yang tersedia. </p>
<p>Selain komponen inti, guru dapat memilih komponen sesuai dengan kebutuhan siswa. Ketujuh, pelaksanaan pembelajaran. Guru melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan modul ajar yang telah disusun. Kedelapan, tindak lanjut. Setelah guru melakukan pembelajaran, guru melakukan evaluasi efektivitas modul ajar dan tindak lanjut untuk pembelajaran berikutnya.</p>
<p>Setelah penulis melaksanakan beberapa tahapan dalam membuat modul ajar sebelum mengajar, hasil pembelajaran di SDN 01 Siwalan kelas 1 pada materi “Ayo Bermain”, ternyata dapat mempermudah guru dalam melaksanakan pembelajaran serta kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. (gp/ida)</p>
<p>Guru Kelas 1 SDN 01 Siwalan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode Kreatif dan Mandiri Meningkatkan Hasil Belajar IPA</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/09/metode-kreatif-dan-mandiri-meningkatkan-hasil-belajar-ipa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2023 14:54:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Arni Rosada]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil Belajar IPA]]></category>
		<category><![CDATA[Mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[SDN Karangasem 10]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=412086</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, PADA umumnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dianggap pelajaran yang sulit, akibatnya hasil belajar siswa rendah. Tetapi untuk sebagian siswa, mata pelajaran IPA disenangi, apalagi bila materi pelajaran disajikan dengan pendekatan yang menarik. Sehingga siswa dengan tekun dan penuh antusias memperhatikan hal-hal baru yang disampaikan guru saat pembelajaran. Tetapi anehnya hasil-hasil ulangan harian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, PADA umumnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dianggap pelajaran yang sulit, akibatnya hasil belajar siswa rendah. </p>
<p>Tetapi untuk sebagian siswa, mata pelajaran IPA disenangi, apalagi bila materi pelajaran disajikan dengan pendekatan yang menarik. Sehingga siswa dengan tekun dan penuh antusias memperhatikan hal-hal baru yang disampaikan guru saat pembelajaran. Tetapi anehnya hasil-hasil ulangan harian atau sumatif, nilai rata-rata siswa untuk pelajaran IPA masih rendah. </p>
<p>Salah satu penyebabnya yaitu sikap siswa yang pasif saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini disebabkan banyaknya siswa yang belum mempunyai kreativitas dan kemandirian yang tinggi terutama pada mata pelajaran IPA dan dalam menciptakan suatu karya sederhana.</p>
<p>Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPA khususnya, guru harus mengadakan perubahan metode pembelajaran dengan memberikan banyak kesempatan/peluang kepada siswa untuk lebih mengembangkan daya kreativitasnya. </p>
<p>Untuk mencapai dan mengetahui keberhasilan yang optimal dari penerapan metode ini, maka dalam hal ini guru malakukan penilaian melalui pelaksanaan pembelajaran secara berkesinambungan. Penelitian dilaksanakan terhadap siswa kelas VI semester I SDN Karangasem 10 Batang, pada mata pelajaran IPA semester I pada materi listrik statis dan rangkaian listrik.</p>
<p>Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang akan menjadi kajian/topik bahasan dalam penelitian ini adalah rangkaian listrik, yaitu membuat senter sederhana. </p>
<p>Dengan mempelajari cara membuat senter, diharapkan siswa khususnya dan pembaca pada umumnya sedikit banyak tahu dan mengerti dengan konsep-konsep listrik dan prinsip kerja alat-alat listrik tersebut. Selain itu, siswa diharapkan bisa lebih kreatif  mengembangkan kemampuan yang dimilikinya serta tidak jenuh dengan proses belajar yang monoton.</p>
<p>Metode kreatif mandiri adalah suatu strategi pembelajaran dengan menekankan pada proses pembuatan suatu karya yang baru dan bermanfaat dengan kemampuan yang dimilikinya. </p>
<p>Metode tersebut bertujuan meningkatkan kreativitas peserta didik dan hasil belajar terutama dalam pembelajaran IPA melalui pembuatan senter sederhana. </p>
<p>Dengan kegiatan tersebut diharapkan dapat peserta didik terlatih untuk mampu menciptakan sesuatu dengan hasil karya sendiri yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan peserta didik. </p>
<p>Belajar mandiri merupakan proses belajar siswa yang timbul dari dalam diri siswa itu sendiri karena ingin mencapai tujuan yang diinginkan (Haris Mudjiman 2007:7).</p>
<p>Penerapan metode belajar kreatif mandiri melalui pembuatan senter sederhana diharapkan siswa terdorong untuk belajar lebih rajin, kreativitas siswa lebih terasah dan meningkat, aktivitas siswa dalam belajar tidak membosankan, siswa mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang luas, menciptakan rasa tanggung jawab penuh dan keinginan untuk menciptakan/ingin tahu sesuatu.</p>
<p>Pada awalnya kami kesulitan karena keadaan siswa yang ramai, kami menduga karena siswa jenuh dengan cara mengajar guru dan metode mengajar yang monoton. Tetapi setelah penerapan metode dan masuk ke materi pembuatan senter ternyata siswa sangat antusias dan bersemangat. </p>
<p>Hal ini juga ditunjukkan oleh hasil belajar yang semakin baik. Walaupun begitu pembuatan senter sederhana ini masih mempunyai kekurangan karena belum semua siswa dapat melaksanakannya/ membuatnya dengan baik, tetapi 75 persen siswa bersemangat untuk belajar.</p>
<p>Setelah melalui proses perbaikan pembelajaran hasil belajar siswa cukup meningkat, untuk meningkatkan dari hasil semula dan supaya mencapai hasil yang optimal maka dilakukan diskusi dengan teman sejawat bagaimana langkah-langkah selanjutnya supaya menunjukkan hasil yang lebih baik. </p>
<p>Pengembangan kreativitas dan peningkatan hasil belajar dengan penerapan metode kreatif mandiri melalui pembuatan senter sederhana diharapkan dapat berpengaruh terhadap peningkatan pembentukan pengetahuan dan wawasan. </p>
<p>Dengan memberikan tugas yang sama per kelompok, siswa mendiskusikan bersama teman sebangkunya tentang cara kerja senter sederhana, tujuannya agar siswa lebih memahami materi yang dipelajari dan siswa dapat menemukan serta menyimpulkan sendiri hasilnya.</p>
<p>Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan metode belajar kreatif dan mandiri sangat berpengaruh terhadap pembentukan pengetahuan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPA, selain itu siswa tidak merasa bosan untuk memperhatikan penjelasan guru dan menjadi termotivasi. (bt/ida)</p>
<p>Guru Kelas VI SDN Karangasem 10, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mudah Belajar Nilai Mata Uang dengan Peran Buy and Sell</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/09/mudah-belajar-nilai-mata-uang-dengan-peran-buy-and-sell/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2023 11:45:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Nilai Mata Uang]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Peran Buy and Sell]]></category>
		<category><![CDATA[SD Negeri Kecepak]]></category>
		<category><![CDATA[Sulistyowati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=412077</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Belajar menggunakan kemampuan intelektual di sekolah terdapat dalam mata pelajaran matematika. Pembelajaran matematika bertujuan agar siswa mampu menggunakan di dalam kehidupan, pekerjaan, di keluarga dan masyarakat. Menurut Teori pembelajaran Bruner (dalam Pitajeng, 2006:29) belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Belajar menggunakan kemampuan intelektual di sekolah terdapat dalam mata pelajaran matematika. Pembelajaran matematika bertujuan agar siswa mampu menggunakan di dalam kehidupan, pekerjaan, di keluarga dan masyarakat.</p>
<p>Menurut Teori pembelajaran Bruner (dalam Pitajeng, 2006:29) belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika. </p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan bagian dari ilmu matematika sebagai alat hitung. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak yang belum mampu berfikir dan bernalar logis sekalipun telah melibatkan matematika sebagai alat hitung dalam aktivitasnya. Sebagai contoh dalam menggunakan uang. </p>
<p>Hal itu menerapkan konsep dan berpikir matematika yang berdasar dengan kemampuan mengenal kuantitas bilangan menurut nilai dan tempatnya.</p>
<p>Sebagai guru di kelas II SD Negeri Kecepak, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang penulis sering mengamati hasil belajar matematika tentang nilai mata uang. Sebagian besar dari mereka belum memahami materi tersebut. </p>
<p>Hal ini tampak dari hasil evaluasi belajar siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Secara konkrit semua siswa setiap hari selalu menggunakan uang dalam aktivitasnya. </p>
<p>Kenyataannya dalam pembelajaran banyak siswa tidak memahami materi tentang nilai mata uang. Untuk memudahkan proses pembelajaran, penulis mengajak siswa untuk bermain peran “Buy and Sell”. </p>
<p>Menurut Endang Mulyatiningsih, (2011: 236) metode Role Playing ataupun bermain peran dalam penerapannya dilakukan dengan cara mengajak siswa untuk menirukan suatu aktifitas di luar atau mendramatisasikan situasi, ide, maupun suatu karakter tertentu. </p>
<p>Dengan harapan setelah siswa beraktifitas bermain buy and sell atau jual beli, siswa mampu memahami materi dengan baik dan  menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Bermain peran “Buy and Sell” tidaklah sulit untuk dilakukan. Karena siswa bisa melihat dan melakukannya setiap hari. Langkah –langkah dalam bermain peran “Buy and Sell” yaitu  guru mengelompokkan siswa menjadi dua, yaitu kelompok penjual dan kelompok pembeli. </p>
<p>Guru memberikan uang mainan lima puluh ribu, dua puluh ribu, sepuluh ribu pada kelompok pembeli untuk dibelanjakan sesuai dengan nominal uang yang diberikan. Guru memantau aktivitas jual beli yang dilakukan siswa. Kelompok penjual menyiapkan barang-barang yang akan dijual dengan memberi label harga.</p>
<p>Setelah bermain peran “Buy and Sell” selesai, guru melakukan evaluasi. Hal itu untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materi nilai mata uang. Guru memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan nilai tukar yaitu uang. Antara lain jika kalian memiliki uang Rp 15. 000, barang – barang apa saja yang akan kalian dapatkan?, barang apa saja yang paling murah?, barang apa saja yang paling mahal, urutkan barang barang tersebut dari yang harganya mahal ke barang yang harganya murah. </p>
<p>Dari hasil evaluasi, ternyata sebagian besar siswa dapat menjawab soal dengan benar. Hal ini membuktikan metode bermain peran “Buy and Sell” sangat efektif  meningkatkan pemahaman siswa pada materi nilai mata uang. </p>
<p>Selain itu memberi banyak manfaat bagi siswa. Di antaranya belajar materi tentang nilai mata uang menjadi lebih mudah dipahami, pembelajaran menyenangkan, meningkatkan kemampuan berwirausaha, kemampuan motorik serta kemampuan kognitif siswa.  (bt/fth)</p>
<p>Guru Kelas II SD Negeri Kecepak, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenali Karakteristik Siswa melalui Pembelajaran Enjoyable Learning</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/05/mengenali-karakteristik-siswa-melalui-pembelajaran-enjoyable-learning/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2023 11:27:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Karakteristik Siswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Enjoyable Learning]]></category>
		<category><![CDATA[SDN 01 Pait]]></category>
		<category><![CDATA[Suciati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=411621</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Kurikulum Merdeka bertujuan untuk mengasah minat dan bakat anak sejak dini dengan berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik. Menurut Kemdikbud Ristek, rencananya Kurikulum Merdeka akan dijalankan sebagai opsi tambahan terlebih dahulu selama 2022-2024 dalam rangka pemulihan pembelajaran pasca pandemi. Setelah itu, nanti diharapkan sudah bisa fully implemented secara nasional. Tahun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Kurikulum Merdeka bertujuan untuk mengasah minat dan bakat anak sejak dini dengan berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik. </p>
<p>Menurut Kemdikbud Ristek, rencananya Kurikulum Merdeka akan dijalankan sebagai opsi tambahan terlebih dahulu selama 2022-2024 dalam rangka pemulihan pembelajaran pasca pandemi. </p>
<p>Setelah itu, nanti diharapkan sudah bisa fully implemented secara nasional.  Tahun 2024 Kemdikbud Ristek akan mengkaji ulang mengenai implementasi Kurikulum Merdeka berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.</p>
<p>Dari pengalaman penulis terkait kemerdekaan belajar masih minim, belum memiliki buku teks yang ada saat ini dinilai masih berkualitas cukup rendah. Akibatnya ada siswa tidak dapat menerima kegiatan belajarnya dengan baik dan tepat. </p>
<p>Di sisi lain tidak sedikit yang dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan.</p>
<p>Akibat program Merdeka Belajar, siswa didorong untuk lebih merdeka dalam belajar dan mengubah perspektif pembelajaran. Di mana mulanya kegiatan pembelajaran di Indonesia lebih berpusat pada guru, kemudian lebih berpusat kepada siswa. </p>
<p>Selama ini kegiatan pembelajaran memang lebih didominasi pengajar. Sedangkan guru dituntut untuk melaksanakan  kurikulum. </p>
<p>Guru dituntut mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi saat ini dan di masa depan nanti. Karena pembelajaran Indonesia setidaknya bisa seperti pendidikan di negara maju lainnya yang  lebih mengedepankan kebutuhan peserta didik.  </p>
<p>Langkah awal yang harus penulis lakukan adalah menjalin lebih dekat dengan peserta didik. </p>
<p>Agar mengetahui karakteristik dan keahlian siswa yang diajarnya. Karakteristik berasal dari kata karakter yang berarti ciri, tabiat, watak, dan kebiasaan yang dimiliki oleh seseorang yang sifatnya relatif tetap. Karakteristik peserta didik dapat diartikan keseluruhan pola kelakukan atau kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan, sehingga menentukan aktivitasnya dalam mencapai cita-cita. </p>
<p>Penulis fokus pada melihat minat belajar siswa, yang mana minat merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran, dan perlu untuk selalu ditingkatkan. Implikasinya dalam proses pembelajaran terutama menghadapi tantangan abad 21. </p>
<p>Penulis  menerapkan berbagai model pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), menantang dan inovatif, menyampaikan tujuan/manfaat mempelajari suatu tema/mata pelajaran, serta menggunakan beragam media pembelajaran. </p>
<p>Langkah kerja penulis antara lain : Pertama, diawal pembelajaran terlebih dahulu mengemukakan tema yang akan dipelajari. Kedua, menyampaikan materi secara singkat. Ketiga, Meminta siswa untuk membaca materi. </p>
<p>Keempat, menyampaikan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kelima, kemudian untuk melihat kemampuan awal peserta didiknya dilakukan pretest/tes awal terlebih dahulu. Keenam, Guru membahas tema melalui media permainan ular tangga yang menjadi kesukaannya peserta didik tentang materi yang telah disiapkan (Belajar melalui media Permainan Ular Tangga). </p>
<p>Setelah melalui pengamatan dari tahap awal hingga tahap inti, suasana kelas tampak antusias, aktif, dan menyenangkan. Setelah materi dipahami dan waktunya cukup maka guru mengakhiri pelajaran dengan kegiatan penutup. Dengan dimilikinya minat belajar yang tinggi oleh peserta didik maka hasil belajar tentunya akan menjadi lebih baik.</p>
<p>Keterlibatan peserta didik dalam belajar sangat penting. Karena apabila peserta didik terlibat aktif dalam belajar maka hasilnya tentu akan baik. Menurut Armanto, joyful learning yaitu sebuah pendekatan yang dapat membuat siswa memiliki motivasi untuk terus mencari tahu dan terus belajar. </p>
<p>Harapan dari penulis adalah agar peserta didik dengan mempelajari  karakteristik anak akan meningkatkan hasil belajarnya. (gp/fth)</p>
<p>Guru Kelas I SDN 01 Pait, Kec Siwalan Kab. Pekalongan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penerapan Budaya Positif dengan Membuat Keyakinan Kelas</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/01/penerapan-budaya-positif-dengan-membuat-keyakinan-kelas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2023 16:13:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Kartiyasih]]></category>
		<category><![CDATA[Keyakinan Kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Penerapan Budaya Positif]]></category>
		<category><![CDATA[SDN 01 Ponolawen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=411350</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Setiap sekolah memiliki tata tertib dan peraturan yang harus ditaati seluruh warga sekolah. Jika ada yang melanggar diberlakukan hukuman agar menumbuhkan efek jera, dan agar tercipta kedisiplinan. Tetapi hukuman ternyata juga tidak menyelesaikan masalah dan bahkan berpotensi menumbuhkan jiwa pendendam kemudian. Latar belakang murid yang berbeda-beda berdampak pada pembentukan karakter murid. Guru yang bertugas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Setiap sekolah memiliki tata tertib dan peraturan yang harus ditaati seluruh warga sekolah. Jika ada yang melanggar diberlakukan hukuman agar menumbuhkan efek jera, dan agar tercipta kedisiplinan. Tetapi hukuman ternyata juga tidak menyelesaikan masalah dan bahkan berpotensi menumbuhkan jiwa pendendam kemudian. </p>
<p>Latar belakang murid yang berbeda-beda berdampak pada pembentukan karakter murid. Guru yang bertugas hanya beberapa jam di sekolah hanya dapat mengendalikan. Jadi diperlukan sebuah keyakinan kelas untuk penguatan budaya positif di sekolah demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila.</p>
<p>Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah “Menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya (Dewantara, 1961: 20)”. </p>
<p>UU No 20 tahun 2003 Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.</p>
<p>Kedua hal mengenai tersebut melahirkan sebuah pedoman yaitu Profil Pelajar Pancasila. Untuk memantapkan pembentukan watak dan peradaban yang dapat dilakukan dengan cara menerapkan budaya positif di sekolah. Dengan budaya positif dapat mewujudkan sikap disiplin yang dapat memunculkan motivasi dari dalam diri bukan karena hukuman atau mengharap imbalan. </p>
<p>Guru jangan hanya menuntut. Tapi harus menuntun. Karena setiap murid sejak lahir sudah memiliki karakter sendiri-sendiri. Dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Tugas guru menuntun murid sesuai kodratnya melalui teladan-teladan yang baik. Hingga dapat mewujudkan perilaku yang berkarakter. Meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa.</p>
<p>Sebagai langkah awal untuk penerapan budaya positif, bisa dimulai membuat kesepakatan kelas atau keyakinan kelas. Menurut Gossen (1998), “suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan”</p>
<p>Kesepakatan kelas dibuat di awal tahun pembelajaran atau di awal semester. Dengan cara menuliskan di selembar kertas kecil dengan langkah-langkah sebagai berikut: pertama guru mengajak murid untuk berpikir tentang impian kelasnya, kedua murid menuliskan sesuai impiannya di kertas untuk di tempel dan bisa dibaca semua orang, ketiga setelah menulis semua dan ditempel  lalu dibacakan satu persatu, keempat guru mengajak murid berdiskusi membahas impian-impian tentang kelasnya yang sudah mereka tulis untuk menemukan kesamaan yang mereka miliki. </p>
<p>Kelima guru dan murid membaca hasil kesepakatan kelas yang telah disetujui, kemudian murid menandatangani kesepakatan tersebut sebagai tanda persetujuan. Setelah terbentuk kesepakatan kelas lalu diyakini adanya nilai-nilai kebajikan yang menjadikan keyakinan kelas. </p>
<p>Murid akan berpikir dua kali untuk melanggar keyakinan kelas yang sudah disepakati bersama. Sehingga murid dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, yang akan tercipta disiplin positif yang membawa ke budaya positif.</p>
<p>Dengan menjalankan budaya positif di sekolah maka akan mempermudah tercapainya tujuan pendidikan Nasional yang berpihak pada murid dan bersifat menuntun tumbuh atau hidupnya dan kekuatan kodrat yang ada pada diri murid. Budaya positif dapat terwujud dengan kolaborasi dengan semua warga sekolah. Adanya keyakinan sekolah yang harus disepakati dan dijalankan bersama. </p>
<p>Penerapan budaya positif dapat menciptakan lingkungan sekolah yang positif, aman, nyaman, berpihak pada murid. Sehingga murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri dan bertanggung jawab.  (gp/fth)</p>
<p>GURU KELAS I SDN 01 Ponolawen</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memacu Semangat Belajar Anak dengan Bintang</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/01/memacu-semangat-belajar-anak-dengan-bintang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2023 10:47:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Iswanto]]></category>
		<category><![CDATA[Memacu Semangat Belajar Anak]]></category>
		<category><![CDATA[SDN 02 Kesesirejo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=411364</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memajukan pendidikan. Salah satunya dengan mengganti kurikulum. Berbagai usaha dari guru dilakukan untuk kemajuan prestasi belajar anak didik. Dari metode mengajar ceramah, diskusi, karyawisata, demonstrasi dan model pembelajaran dilakukan guru demi meningkatnya hasil prestasi belajar anak didik. Namun pembelajaran dengan berbagai carapun masih memiliki kelemahan jika metode pembelajaran yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memajukan pendidikan. Salah satunya dengan mengganti kurikulum. Berbagai usaha dari guru dilakukan untuk kemajuan prestasi belajar anak didik. </p>
<p>Dari metode mengajar ceramah, diskusi, karyawisata, demonstrasi dan model pembelajaran dilakukan guru demi meningkatnya hasil prestasi belajar anak didik. </p>
<p>Namun pembelajaran dengan berbagai carapun masih memiliki kelemahan jika metode pembelajaran yang sama dilakukan berulang-ulang, anak-anak cepat bosan. Kalau anak-anak sudah mulai bosan berakibat prestasi belajar menurun. </p>
<p>Guru harus menguasai beberapa model pembelajaran dan metode mengajar yang tepat. Penguasaan beberapa model pembelajaran dan metode mengajarpun masih dirasa kurang. </p>
<p>Untuk itu guru dituntut harus kreatif dan inovatif. Yaitu mengupayakan agar prestasi belajar anak didik tetap meningkat. Agar prestasi belajar anak tidak menurun.  </p>
<p>Agar anak tidak bosan dengan model pembelajaran, guru perlu mengembangkan daya kreatif dan inovatif yang dimilikinya. </p>
<p>Guru harus berpikiran luas dan cerdas. Bagaimana agar anak tetap semangat belajarnya. Salah satu cara agar anak didik tetap semangat dalam belajar adalah dengan menampilkan bukti hasil prestasi anak dipajang di dinding kelas. Diletakkan di papan pajangan bergambar bintang. </p>
<p>Anak yang mendapat prestasi hasil belajar nilai tertinggi pertama dipajang pada papan “berbintang tiga”. </p>
<p>Anak yang mendapat prestasi nilai tertinggi kedua dipajang pada papan pajangan “berbintang dua”. Anak yang berprestasi hasil belajar nilai tertinggi ketiga dipajang pada papan “berbintang satu”. </p>
<p>Dengan adanya pajangan di dinding kelas diharapkan dapat meningkatkan antusias belajar anak. Karena ketika hasil prestasinya dipajang di dinding kelas anak tersebut akan mempertahankan prestasi belajarnya dengan tetap semangat belajar agar hasil prestasi belajarnya dipajang kembali di dinding kelas. </p>
<p>Sementara anak yang hasil prestasi belajarnya belum dipajang di papan di dinding kelas  akan lebih semangat agar bisa seperti teman-temannya hasil prestasi belajarnya dipajang di papan bintang di dinding kelas.</p>
<p>Cara membuat papan pajangan  bintang prestasi adalah dengan kertas ukuran manila atau kertas asturo atau bisa dengan triplek ukuran 40 x 60 cm. Papan tersebut sebaiknya diwarnai/dicat dan dihias biar menarik. Kemudian pada bagian paling atas pada papan pajangan itu diberi gambar bintang warna emas. </p>
<p>Gambar bintang satu  untuk anak-anak yang memperoleh hasil prestasi belajar nilai tertinggi ketiga. Gambar bintang dua di papan pajangan untuk anak-anak yang memperoleh nilai hasil prestasi belajar nilai tertinggi kedua. Gambar bintang tiga untuk pajangan anak-anak yang memperoleh hasil prestasi belajar nilai tertinggi pertama.</p>
<p>Jadi untuk mempertahankan dan meningkatkan hasil prestasi belajar anak didik ternyata guru tidak hanya harus pandai menguasai metode mengajar dan model pembelajaran tetapi harus pula kreatif dan inovatif dalam mengajar. Misal dengan cara pemajangan hasil prestasi belajar anak didik.  </p>
<p>Sebagai guru kita berkewajiban mencerdaskan anak didik. Sebagai guru kita bertanggung jawab atas hasil prestasi belajar anak didik.  Untuk itu guru harus senantiasa  mengembangkan kemampuan daya kreasi dan inovasinya untuk menghadapi tantangan dan permasalahan yang selalu dihadapi dalam tugas sehari-hari sebagai guru. Mudah-mudahan jerih payah kita membuahkan hasil yang positif bagi anak didik sehingga berguna bagi nusa dan bangsa. (bt/lis)</p>
<p>Guru Kelas 5B SDN 02 Kesesirejo KWK Bodeh </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
