<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Guru IPS &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<atom:link href="https://radarsemarang.com/tag/guru-ips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<description>What&#039;s Next?</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2023 13:40:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://radarsemarang.com/wp-content/uploads/2025/08/cropped-RS-DIGITAL-512-32x32.png</url>
	<title>Guru IPS &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gunakan Metode TPS untuk Belajar IPS Mudah</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/24/gunakan-metode-tps-untuk-belajar-ips-mudah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2023 13:40:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Aster Oktori Teviani]]></category>
		<category><![CDATA[BELAJAR IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Guru IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Metode TPS]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 20 Surakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=413776</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, KEBERHASILAN sebuah pembelajaran ditentukan oleh suasana yang berkembang selama pembelajaran. Suasana pembelajaran yang semakin kondusif dan menyenangkan akan memberikan dampak tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi begitu juga sebaliknya, keberhasilan peserta didik akan rendah jika suasana pembelajaran kurang kondusif dan cenderung membosankan. Dengan kata lain, terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif akan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, KEBERHASILAN sebuah pembelajaran ditentukan oleh suasana yang berkembang selama pembelajaran. Suasana pembelajaran yang semakin kondusif dan menyenangkan akan memberikan dampak tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi begitu juga sebaliknya, keberhasilan peserta didik akan rendah jika suasana pembelajaran kurang kondusif dan cenderung membosankan.</p>
<p>Dengan kata lain, terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif akan menjadikan proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien sehingga peserta didik akan berhasil dengan optimal dalam mewujudkan tujuan atau kompetensi yang diharapkan dalam proses pembelajaran. </p>
<p>Dalam pembelajaran IPS yang terdapat banyak pemahaman konsep, diperlukan seorang guru yang dapat mengelola pembelajaran menjadi menyenangkan dan melibatkan semua peserta didik untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Untuk itu, penulis menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share (TPS) saat mapel IPS di SMP Negeri 20 Surakarta. </p>
<p>TPS atau Berpikir Berpasangan Berbagi merupakan jenis Cooperative Learning yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-5 orang) dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif daripada penghargaan individu. </p>
<p>Model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share adalah model pembelajaran kooperatif yang pertama kali dikembangkan oleh Profesor Frank Lyman dan koleganya di Universitas Maryland pada tahun 1981 (Kaddoura, 2013:4). </p>
<p>M Sunita berpendapat (2014:62), Think Pair Share merupakan model pembelajaran dimana peserta didik berpikir secara mandiri tentang permasalahan yang diberikan oleh guru kemudian diskusi dengan pasangan dan membagikan hasil diskusi tersebut kepada teman di kelas.</p>
<p>Terdapat tiga tahap dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Adapun ketiga tahapan tersebut yaitu, a) Thinking (berpikir), pada tahap ini guru memberikan beberapa pertanyaan atau masalah terkait materi yang sedang dipelajari, memberikan waktu untuk peserta didik berpikir sendiri jawaban dari pertanyaan atau masalah tersebut; b) Pairing (berpasangan), pada tahap kedua ini guru meminta peserta didik secara berpasangan dengan teman sekelompok dan mulai mendiskusikan pertanyaan atau permasalahan yang telah diberikan oleh guru dalam waktu tertentu; c) Sharing (berbagi), pada tahap ini guru meminta perwakilan kelompok untuk presentasi hasil diskusi. </p>
<p>Selama proses diskusi berjalan, guru memantau dan 6 mengawasi kerja peserta didik dalam kelompok dan memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan baik. Di akhir pembelajaran guru bersama peserta didik menyimpulkan hasil dari pembelajaran (Soimin, 2014:28).</p>
<p>Setelah menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share aktivitas belajar peserta didik semakin tinggi, terlihat dengan semakin antusiasnya peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu juga pemahaman peserta didik menjadi semakin baik dalam menemukan konsep dari materi pembelajaran. </p>
<p>Hal ini bisa terlihat dari hasil belajar peserta didik yang mengalami peningkatan yang cukup signifikan ketika menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share. Sehingga penerapan model pembelajaran ini dapat menjadi rujukan bagi guru khususnya mata pelajaran IPS, bahwa model pembelajaran ini dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik yang berpengaruh terhadap pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran. (ips1/ida)</p>
<p>Guru IPS SMP Negeri 20 Surakarta </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Periodisasi Zaman Praaksara dengan Picture and Picture</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/24/belajar-periodisasi-zaman-praaksara-dengan-picture-and-picture/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2023 11:41:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ade Rendra Widya Saputra]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Periodisasi Zaman Praaksara]]></category>
		<category><![CDATA[Guru IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Picture and Picture]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 15 Surakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=413791</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Periodisasi zaman praaksara merupakan salah satu materi pembelajaran dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VII. Pemahaman konsep tentang pembagian zaman praaksara merupakan pemahaman penting, karena mempelajari kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam pembelajaran guru berperan sebagai pengelola yang merencanakan, menetapkan tujuan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sekaligus mengorganisasikan segala sesuatu yang bisa dijadikan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Periodisasi zaman praaksara merupakan salah satu materi pembelajaran dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VII. Pemahaman konsep tentang pembagian zaman praaksara merupakan pemahaman penting, karena mempelajari kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. </p>
<p>Dalam pembelajaran guru berperan sebagai pengelola yang merencanakan, menetapkan tujuan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sekaligus mengorganisasikan segala sesuatu yang bisa dijadikan sumber-sumber belajar yang memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. </p>
<p>Namun, untuk mencapai keberhasilan pembelajaran tidaklah mudah. Mungkin dalam proses pembelajaran bisa tidak mencapai tujuan yang diharapkan. Disebabkan kesalahan dalam menggunakan model pembelajaran, strategi, pendekatan ataupun kesalahan dalam memilih model pembelajaran. </p>
<p>Untuk mengatasi hal itu, penulis sebagai guru IPS SMP Negeri 15 Surakarta menggunakan  model pembelajaran Picture and Picture.  Model pembelajaran ini dilakukan dengan cara membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok dan menuntut mereka terlibat aktif dalam proses pembelajaran. </p>
<p>Suprijono berpendapat (2009:110), pembelajaran kooperatif picture and picture adalah salah satu metode pembelajaran aktif yang menggunakan gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan sistematis. Seperti menyusun gambar secara berurutan, menunjukkan gambar, memberi keterangan gambar dan menjelaskan gambar.</p>
<p>Langkah-langkah pelaksanaan Picture and Picture yakni: a) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. b) Menyajikan materi sebagai pengantar. c) Guru menunjukkan atau memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi. d) Guru menunjuk atau memanggil siswa secara bergantian untuk memasang atau mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. </p>
<p>e) Guru menanyakan alasan atau dasar pemikiran dari urutan gambar tersebut. f) Dari alasan atau urutan gambar tersebut, guru mulai menanamkan konsep atau materi, sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. g) Siswa diajak untuk menyimpulkan atau merangkum materi yang baru saja diterimanya. (Jamal Ma’mur Asmani, 2011:39).</p>
<p>Setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture, pemahaman peserta didik pada materi pembelajaran periodisasi zaman praaksara mengalami peningkatan. Jika dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran sebelumnya.  Hal ini bisa terlihat dari adanya peningkatan hasil belajar yang dapat diketahui dari hasil tes tulis peserta didik pada akhir pertemuan.</p>
<p>Dengan model pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture, hasil belajar peserta didik yang mencapai ketuntasan capaian pembelajaran sebesar 90 persen dan yang belum mencapai ketuntasan capaian pembelajaran sebesar 10 persen dengan nilai rata-rata peserta didik mencapai 80. </p>
<p>Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture dapat memberikan referensi bagi guru khususnya mata pelajaran IPS. Bahwa model pembelajaran ini dapat melibatkan peserta didik untuk aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan memudahkan peserta didik menemukan konsep dari materi pembelajaran. (ips1/fth)</p>
<p>Guru IPS SMP Negeri 15 Surakarta</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar IPS Semakin Enjoy dengan Metode Edutainment Belanbe</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/19/belajar-ips-semakin-enjoy-dengan-metode-edutainment-belanbe/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2023 14:45:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[BELAJAR IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Guru IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Edutainment Belanbe]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 21 Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Sunarti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=413278</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, MAYORITAS pendidik, terutama guru IPS menyadari pembelajaran IPS dianggap membosankan oleh siswa. Karena memberikan materi pembelajaran yang cenderung menggunakan metode ceramah dan text book, sehingga berakibat minat belajar menjadi turun, membosankan, dan siswa tidak kreatif. Saat ini, dunia pendidikan modern sedang bertransformasi. Di era kemajuan digital, siswa bisa belajar menggunakan media internet, seperti film, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, MAYORITAS pendidik, terutama guru IPS menyadari pembelajaran IPS dianggap membosankan oleh siswa. Karena memberikan materi pembelajaran yang cenderung menggunakan metode ceramah dan text book, sehingga berakibat minat belajar menjadi turun, membosankan, dan siswa tidak kreatif. Saat ini, dunia pendidikan modern sedang bertransformasi. Di era kemajuan digital, siswa bisa belajar menggunakan media internet, seperti film, podcast, youtube, dan sebagainya. Maka saatnya guru menyiapkan metode pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.</p>
<p>Mengatasi masalah tersebut, penulis menerapkan metode pembelajaran Edutainment Belanbe. Edutainment berasal dari kata education berarti pendidikan dan entertainment berarti hiburan. Dari segi bahasa edutainment adalah pendidikan yang menghibur atau yang menyenangkan. </p>
<p>Sutrisno (2005:31) mengatakan, edutainment adalah suatu proses pembelajaran yang didesain sedemikian rupa, sehingga muatan pendidikan dan hiburan bisa dikombinasikan secara harmonis untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. </p>
<p>Adapun Belanbe adalah singkatan dari kata belajar dan bermain. Bagi seorang anak, bermain adalah “pekerjaannya” serta merupakan suatu aktivitas menyenangkan yang dibutuhkan dalam perkembangannya. Melalui bermain, anak belajar mengendalikan tubuhnya, mengembangkan keseimbangan, koordinasi mata, otak, dan anggota badan. Melalui bermain, anak menjelajah dunia materi, mengumpulkan fakta dan belajar berfikir. </p>
<p>Filosof Plato berpendapat bermain dapat dijadikan media belajar yang baik, begitu pula Aristoteles berpendapat bahwa anak–anak perlu didorong untuk bermain dengan apa yang akan mereka tekuni nanti. </p>
<p>Bermain memiliki nilai praktis yakni sebagai media meningkatkan ketrampilan dan kemampuan tertentu pada anak (Pedak, 2009:145). Disimpulkan metode Edutainment Belanbe adalah suatu metode pembelajaran berbasis aktif, efisien, dirancang melalui prinsip permainan dengan alat peraga yang bisa menghibur serta menyenangkan.</p>
<p>Pembelajaran dengan metode Edutainment Belanbe diterapkan penulis pada pembelajaran IPS kelas IX SMP Negeri 21 Surakarta K.D 3.4 menganalisis kronologi, perubahan dan kesinambungan ruang (geografis, politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya) dari awal Kemerdekaan sampai awal reformasi. </p>
<p>Langkah &#8211; langkah pembelajaran dengan metode Edutainment Belanbe: pertama, guru menyiapkan alat-alat audio visual untuk memutar film yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Kedua, kelas didesain bagus sehingga peserta didik merasa nyaman. Ketiga, guru memutar film serta memberikan penjelasan tentang film tersebut. Keempat, setelah selesai pemutaran film siswa dibagi beberapa kelompok untuk mendiskripsikan film yang telah ditayangkan dengan diiringi musik. </p>
<p>Kelima, nama kelompok dibuat sesuai materi terkait, misalkan tokoh difilm yang ditayangkan. keenam, demonstrasi, siswa diajak bermain misalnya dengan Snowball Throwing dengan cara setiap kelompok menyiapkan suatu pertanyaan ditulis di kertas kosong, lalu kertas digulung dan dimasukkan ke dalam bola warna warni yang dibelah  kemudian ditutup dengan isolative. </p>
<p>Setiap kelompok mendapat kesempatan melempar bola ke kelompok lain dengan waktu yang telah ditentuka. Kelompok lain berusaha menangkap bola tersebut. Siswa terakhir pemegang bola mendapat kesempatan menjawab pertanyaan dari bola tersebut. Atau bisa dilaksanakan permainan lainnya, seperti Role Play, debat berantai atau lainnya karena pada dasarnya metode Edutainment Belanbe adalah bentuk nyata dari PAIKEM. Ketujuh, Dibimbing guru masing–masing kelompok  merangkum materi.</p>
<p>Penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran metode Edutainment Belanbe berhasil dilaksanakan dengan baik, indikatornya mampu membangkitkan minat  belajar siswa dengan riang gembira, efektif, efisien serta kreatif karena diterapkan dalam kondisi menyenangkan tanpa tekanan sehingga berimbas pada peningkatan hasil belajar siswa. (ips1/ida)</p>
<p>Guru IPS SMP Negeri 21 Surakarta</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tingkatkan Aktivitas Belajar Siswa dengan Quachi</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/05/tingkatkan-aktivitas-belajar-siswa-dengan-quachi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[online]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2023 13:26:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Aktivitas Belajar Siswa]]></category>
		<category><![CDATA[Guru IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Quachi]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 15 Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Yanti Agustina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=411626</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Pembelajaran IPS mengarahkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. Menurut Hamalik (2012:63) pembelajaran IPS adalah suatu upaya untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga masyarakat yang baik. Karena dengan pembelajaran yang efektif akan meningkatkan rasa percaya diri dan sikap positif peserta didik yang merupakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Pembelajaran IPS mengarahkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. </p>
<p>Menurut Hamalik (2012:63) pembelajaran IPS adalah suatu upaya untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga masyarakat yang baik. </p>
<p>Karena dengan pembelajaran yang efektif akan meningkatkan rasa percaya diri dan sikap positif peserta didik yang merupakan  bekal dalam hidup bermasyarakat. </p>
<p>Apalagi untuk masa yang akan datang, peserta didik akan dihadapi dengan kondisi yang penuh tantangan karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. </p>
<p>Fenomena yang terjadi di sekolah-sekolah Kota surakarta pada umumnya dalam kegiatan pembelajaran IPS saat ini terkadang masih menggunakan pembelajaran yang konvensional. </p>
<p>Berdasarkan kenyataan di lapangan waktu penulis melakukan observasi di kelas 8 SMPN 15 Surakarta, teramati bahwa pembelajaran masih didominasi oleh guru.</p>
<p>Hal ini dapat dilihat bahwa guru lebih banyak melakukan komunikasi searah pada kegiatan pembelajaran. Guru berperan penuh menjelaskan pembelajaran, peserta didik hanya menerima apa yang disampaikan guru, dan tidak terjadi interaksi multi arah. </p>
<p>Permasalahan yang teramati berikutnya adalah guru kurang dapat memotivasi peserta didik, dan proses pembelajaran membosankan. </p>
<p>Hal ini dapat dilihat banyak peserta didik yang gelisah dan beberapa peserta didik sering keluar kelas dengan alasan buang air kecil. </p>
<p>Dilihat dari berbagai permasalahan di atas peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran IPS yang di laksanakan di SMPN 15 Surakarta belum efektif. Salah satu penyebab dari permasalahan ini adalah pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat. </p>
<p>Untuk mengatasi permasalahan tersebut penulis menggunakan model pembelajaran yang inovatif dalam pembelajaran IPS karena model pembelajaran inovatif ini memberikan kesempatan kepada guru dan peserta didik untuk menciptakan iklim pembelajaran yang interaktfif, aktif , kreatif, dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. </p>
<p>Salah satu model pembelajaran yang dipilih dalam penelitian ini adalah model pembelajaran QUACHI (Quantum Teaching). Model pembelajaran ini dipilih karena dalam pelaksanaannya terjadi pengubahan bermacam-macam interaksi pembelajaran yang memungkinkan aktivitas belajar peserta didik berkembang dengan maksimal. Sehingga hasil belajar dapat ditingkatkan. </p>
<p>Menurut Rusman (2010:330), “Pembelajaran Quachi (Quantum Teaching) merupakan bentuk inovasi dari pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.” </p>
<p>Ada enam sintaks dalam model pembelajaran Quantum Teaching. Yaitu tahap tumbuhkan bisa di lakukan untuk menggali permasalahan terkait dengan materi yang akan dipelajari. </p>
<p>Tahap alami dapat di lakukan dengan pengamatan.  Tahap menamai peserta didik dengan bantuan guru berusaha menemukan konsep atas pengalaman yang dilewati.  </p>
<p>Tahap demonstrasikan di sini memberikan kesempatan peserta didik untuk mengulang pelajaran dengan teman lain atau melalui latihan soal.  </p>
<p>Tahap ulangi dilakukan dengan menegaskan kembali pada pokok materi pelajaran, dan tahap rayakan dilakukan dengan memberikan pujian, tepuk tangan atau bernyanyi bersama. Metode Quachi ini sering dikenal dengan istilah Tandur. </p>
<p>Dengan pelaksanaan Quantum Teaching diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Sebab dapat mengembangkanpotensi manusia secara optimal melalui cara-cara yang efektif, yaitu menumbuhkan, mengalami, menamai, mendemostrasikan, mengulangi dan merayakan. </p>
<p>Dengan pembelajaran yang interaktif seperti ini akan tercipta suasana yang menyenangkan, memberdayakan serta dapat mengfungsikan kemampuan berpikir peserta didik, yang pada akhirnya bermuara kepada peningkatan kemampuan dan hasil belajar IPS peserta didik. (ut/lis)</p>
<p>Guru IPS SMP Negeri 15 Surakarta </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
