<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BELAJAR IPS &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<atom:link href="https://radarsemarang.com/tag/belajar-ips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<description>What&#039;s Next?</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2023 12:10:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://radarsemarang.com/wp-content/uploads/2025/08/cropped-RS-DIGITAL-512-32x32.png</url>
	<title>BELAJAR IPS &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Siswa Lebih Aktif Belajar IPS dengan Model STAD</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/28/siswa-lebih-aktif-belajar-ips-dengan-model-stad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2023 12:10:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[BELAJAR IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Mapel IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Model STAD]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 22 Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Supeni Dwi Lestari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414311</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, MATA pelajaran IPS adalah salah satu bidang ilmu yang diajarkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kaitan Kurikulum 2013 dalam penelitian ini akan difokuskan pada mata pelajaran IPS. Tentunya berpikir kritis dapat didorong dengan aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemauan untuk bertanya. Kondisi kondusif untuk proses berpikir kritis dapat terjadi manakala dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, MATA pelajaran IPS adalah salah satu bidang ilmu yang diajarkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kaitan Kurikulum 2013 dalam penelitian ini akan difokuskan pada mata pelajaran IPS. </p>
<p>Tentunya berpikir kritis dapat didorong dengan aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemauan untuk bertanya. Kondisi kondusif untuk proses berpikir kritis dapat terjadi manakala dalam interaksi proses pembelajaran dapat diciptakan oleh guru. </p>
<p>Perubahan struktur pembelajaran IPS pada Kurikulum 2013 membutuhkan penyesuaian dan berbagai kendala bagi gurumata pelajaran IPS dan peserta didik (Devega, 2019).</p>
<p>Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif. Ciri khas yang paling menonjol dari metode STAD adalah menggunakan kuis-kuis individual pada tiap akhir pelajaran. </p>
<p>Dalam metode ini, siswa belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran. Para siswa saling membantu satu sama lain untuk memahami materi pelajaran melalui tutor sebayanya sehingga terjadilah diskusi, dan terakhir diadakan kuis individual (Maufurroh, 2020).</p>
<p>Tahapan dalam penerapan pembelajaran model STAD secara singkat sebagai berikut, 1) skilus pertama dengan tahap perencaan (planing) silabus kelas VIII semester II mapel IPS. Peneliti menyiapkan materi penelitian yang terdapat dalam KD 3.4 materi pokok perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan; 2) pelaksanaan pembelajaran (action) dilakukan oleh peneliti, dengan melakukan kolaborasi dengan teman sejawat untuk menyampaikan materi hingga melakukan evaluasi; 3) tahap pengamatan (observation) dilakukan dengan mengamati keaktifan siswa bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dalam proses pembelajaran STAD dan dilanjutkan dengan siklus kedua.</p>
<p>Siklus pertama pembelajaran  IPS kelas VIII pada materi KD 3.4 materi pokok perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan dengan sub materi pokok, ”Kondisi Masyarakat Indonesia pada Masa Penjajahan,” dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VIII-B SMP Negeri 22 Semarang. </p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keaktifan siswa 56,09 dalam kategori cukup pada pra siklus menjadi 67,66 dalam kategori cukup pada siklus I dan menjadi 78,28 dalam kategori aktif pada siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan nilai rata-rata pra siklus dari 71,56 menjadi 76,25 pada siklus I dan menjadi 85,88 pada siklus II. </p>
<p>Siswa yang tuntas belajar sebanyak 13 siswa (40,62 persen) pada pra siklus menjadi 22 siswa (68,75 persen) pada siklus I dan menjadi 30 siswa (93,75 persen) pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD, dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.</p>
<p>Penerapan model pembelajaran pada mata pelajaran IPS, bagi kepala sekolah dapat mendukung guru untuk dapat menerapkan model STAD dalam pembelajaran. Bagi guru, khususnya pengampu mata pelajaran IPS yang ingin meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dapat membiasakan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD. </p>
<p>Telah terbukti hasilnya pada penelitian yang telah dilakukan. Bagi siswa, dapat aktif dalam proses pembelajaran dan memperoleh pengetahuan yang lebih luas, mendalam, dan prestasi belajar yang optimal. Hasil penelitian model STAD ini dapat juga dijadikan rujukan bagi peneliti selanjutnya untuk menambah bahan referensinya. (ips1/ida)</p>
<p>Guru Mapel IPS SMP Negeri 22 Semarang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gunakan Metode TPS untuk Belajar IPS Mudah</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/24/gunakan-metode-tps-untuk-belajar-ips-mudah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2023 13:40:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Aster Oktori Teviani]]></category>
		<category><![CDATA[BELAJAR IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Guru IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Metode TPS]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 20 Surakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=413776</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, KEBERHASILAN sebuah pembelajaran ditentukan oleh suasana yang berkembang selama pembelajaran. Suasana pembelajaran yang semakin kondusif dan menyenangkan akan memberikan dampak tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi begitu juga sebaliknya, keberhasilan peserta didik akan rendah jika suasana pembelajaran kurang kondusif dan cenderung membosankan. Dengan kata lain, terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif akan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, KEBERHASILAN sebuah pembelajaran ditentukan oleh suasana yang berkembang selama pembelajaran. Suasana pembelajaran yang semakin kondusif dan menyenangkan akan memberikan dampak tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi begitu juga sebaliknya, keberhasilan peserta didik akan rendah jika suasana pembelajaran kurang kondusif dan cenderung membosankan.</p>
<p>Dengan kata lain, terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif akan menjadikan proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien sehingga peserta didik akan berhasil dengan optimal dalam mewujudkan tujuan atau kompetensi yang diharapkan dalam proses pembelajaran. </p>
<p>Dalam pembelajaran IPS yang terdapat banyak pemahaman konsep, diperlukan seorang guru yang dapat mengelola pembelajaran menjadi menyenangkan dan melibatkan semua peserta didik untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Untuk itu, penulis menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share (TPS) saat mapel IPS di SMP Negeri 20 Surakarta. </p>
<p>TPS atau Berpikir Berpasangan Berbagi merupakan jenis Cooperative Learning yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-5 orang) dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif daripada penghargaan individu. </p>
<p>Model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share adalah model pembelajaran kooperatif yang pertama kali dikembangkan oleh Profesor Frank Lyman dan koleganya di Universitas Maryland pada tahun 1981 (Kaddoura, 2013:4). </p>
<p>M Sunita berpendapat (2014:62), Think Pair Share merupakan model pembelajaran dimana peserta didik berpikir secara mandiri tentang permasalahan yang diberikan oleh guru kemudian diskusi dengan pasangan dan membagikan hasil diskusi tersebut kepada teman di kelas.</p>
<p>Terdapat tiga tahap dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Adapun ketiga tahapan tersebut yaitu, a) Thinking (berpikir), pada tahap ini guru memberikan beberapa pertanyaan atau masalah terkait materi yang sedang dipelajari, memberikan waktu untuk peserta didik berpikir sendiri jawaban dari pertanyaan atau masalah tersebut; b) Pairing (berpasangan), pada tahap kedua ini guru meminta peserta didik secara berpasangan dengan teman sekelompok dan mulai mendiskusikan pertanyaan atau permasalahan yang telah diberikan oleh guru dalam waktu tertentu; c) Sharing (berbagi), pada tahap ini guru meminta perwakilan kelompok untuk presentasi hasil diskusi. </p>
<p>Selama proses diskusi berjalan, guru memantau dan 6 mengawasi kerja peserta didik dalam kelompok dan memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan baik. Di akhir pembelajaran guru bersama peserta didik menyimpulkan hasil dari pembelajaran (Soimin, 2014:28).</p>
<p>Setelah menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share aktivitas belajar peserta didik semakin tinggi, terlihat dengan semakin antusiasnya peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu juga pemahaman peserta didik menjadi semakin baik dalam menemukan konsep dari materi pembelajaran. </p>
<p>Hal ini bisa terlihat dari hasil belajar peserta didik yang mengalami peningkatan yang cukup signifikan ketika menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Think Pair Share. Sehingga penerapan model pembelajaran ini dapat menjadi rujukan bagi guru khususnya mata pelajaran IPS, bahwa model pembelajaran ini dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik yang berpengaruh terhadap pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran. (ips1/ida)</p>
<p>Guru IPS SMP Negeri 20 Surakarta </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar IPS Semakin Enjoy dengan Metode Edutainment Belanbe</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/19/belajar-ips-semakin-enjoy-dengan-metode-edutainment-belanbe/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2023 14:45:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[BELAJAR IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Guru IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Edutainment Belanbe]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 21 Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Sunarti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=413278</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, MAYORITAS pendidik, terutama guru IPS menyadari pembelajaran IPS dianggap membosankan oleh siswa. Karena memberikan materi pembelajaran yang cenderung menggunakan metode ceramah dan text book, sehingga berakibat minat belajar menjadi turun, membosankan, dan siswa tidak kreatif. Saat ini, dunia pendidikan modern sedang bertransformasi. Di era kemajuan digital, siswa bisa belajar menggunakan media internet, seperti film, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, MAYORITAS pendidik, terutama guru IPS menyadari pembelajaran IPS dianggap membosankan oleh siswa. Karena memberikan materi pembelajaran yang cenderung menggunakan metode ceramah dan text book, sehingga berakibat minat belajar menjadi turun, membosankan, dan siswa tidak kreatif. Saat ini, dunia pendidikan modern sedang bertransformasi. Di era kemajuan digital, siswa bisa belajar menggunakan media internet, seperti film, podcast, youtube, dan sebagainya. Maka saatnya guru menyiapkan metode pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.</p>
<p>Mengatasi masalah tersebut, penulis menerapkan metode pembelajaran Edutainment Belanbe. Edutainment berasal dari kata education berarti pendidikan dan entertainment berarti hiburan. Dari segi bahasa edutainment adalah pendidikan yang menghibur atau yang menyenangkan. </p>
<p>Sutrisno (2005:31) mengatakan, edutainment adalah suatu proses pembelajaran yang didesain sedemikian rupa, sehingga muatan pendidikan dan hiburan bisa dikombinasikan secara harmonis untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. </p>
<p>Adapun Belanbe adalah singkatan dari kata belajar dan bermain. Bagi seorang anak, bermain adalah “pekerjaannya” serta merupakan suatu aktivitas menyenangkan yang dibutuhkan dalam perkembangannya. Melalui bermain, anak belajar mengendalikan tubuhnya, mengembangkan keseimbangan, koordinasi mata, otak, dan anggota badan. Melalui bermain, anak menjelajah dunia materi, mengumpulkan fakta dan belajar berfikir. </p>
<p>Filosof Plato berpendapat bermain dapat dijadikan media belajar yang baik, begitu pula Aristoteles berpendapat bahwa anak–anak perlu didorong untuk bermain dengan apa yang akan mereka tekuni nanti. </p>
<p>Bermain memiliki nilai praktis yakni sebagai media meningkatkan ketrampilan dan kemampuan tertentu pada anak (Pedak, 2009:145). Disimpulkan metode Edutainment Belanbe adalah suatu metode pembelajaran berbasis aktif, efisien, dirancang melalui prinsip permainan dengan alat peraga yang bisa menghibur serta menyenangkan.</p>
<p>Pembelajaran dengan metode Edutainment Belanbe diterapkan penulis pada pembelajaran IPS kelas IX SMP Negeri 21 Surakarta K.D 3.4 menganalisis kronologi, perubahan dan kesinambungan ruang (geografis, politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya) dari awal Kemerdekaan sampai awal reformasi. </p>
<p>Langkah &#8211; langkah pembelajaran dengan metode Edutainment Belanbe: pertama, guru menyiapkan alat-alat audio visual untuk memutar film yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Kedua, kelas didesain bagus sehingga peserta didik merasa nyaman. Ketiga, guru memutar film serta memberikan penjelasan tentang film tersebut. Keempat, setelah selesai pemutaran film siswa dibagi beberapa kelompok untuk mendiskripsikan film yang telah ditayangkan dengan diiringi musik. </p>
<p>Kelima, nama kelompok dibuat sesuai materi terkait, misalkan tokoh difilm yang ditayangkan. keenam, demonstrasi, siswa diajak bermain misalnya dengan Snowball Throwing dengan cara setiap kelompok menyiapkan suatu pertanyaan ditulis di kertas kosong, lalu kertas digulung dan dimasukkan ke dalam bola warna warni yang dibelah  kemudian ditutup dengan isolative. </p>
<p>Setiap kelompok mendapat kesempatan melempar bola ke kelompok lain dengan waktu yang telah ditentuka. Kelompok lain berusaha menangkap bola tersebut. Siswa terakhir pemegang bola mendapat kesempatan menjawab pertanyaan dari bola tersebut. Atau bisa dilaksanakan permainan lainnya, seperti Role Play, debat berantai atau lainnya karena pada dasarnya metode Edutainment Belanbe adalah bentuk nyata dari PAIKEM. Ketujuh, Dibimbing guru masing–masing kelompok  merangkum materi.</p>
<p>Penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran metode Edutainment Belanbe berhasil dilaksanakan dengan baik, indikatornya mampu membangkitkan minat  belajar siswa dengan riang gembira, efektif, efisien serta kreatif karena diterapkan dalam kondisi menyenangkan tanpa tekanan sehingga berimbas pada peningkatan hasil belajar siswa. (ips1/ida)</p>
<p>Guru IPS SMP Negeri 21 Surakarta</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
