<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Edukasi &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<atom:link href="https://radarsemarang.com/edukasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<description>What&#039;s Next?</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2023 10:30:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.1</generator>

<image>
	<url>https://radarsemarang.com/wp-content/uploads/2025/08/cropped-RS-DIGITAL-512-32x32.png</url>
	<title>Edukasi &#8211; RADAR SEMARANG DIGITAL</title>
	<link>https://radarsemarang.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Collaboration Mata Pelajaran Informatika di Kurikulum Merdeka</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/30/collaboration-mata-pelajaran-informatika-di-kurikulum-merdeka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2023 10:30:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Guru BK]]></category>
		<category><![CDATA[Informatika]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Pelajaran Informatika]]></category>
		<category><![CDATA[Retno Asriningsih]]></category>
		<category><![CDATA[SMAN 1 Nogosari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414469</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Kurikulum merdeka merupakan nama baru dari kurikulum prototipe yang sudah diujicobakan di 2.500 sekolah. Tahun pelajaran 2022/2023 merupakan tonggak baru mata pelajaran informatika. Pada tahun pelajaran ini, kurikulum merdeka serentak diberlakukan oleh seluruh jenjang sekolah di Indonesia mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA/SMK. Kurikulum merdeka dibuat sebagai pemulihan dari ketertinggalan pembelajaran atau recovery [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Kurikulum merdeka merupakan nama baru dari kurikulum prototipe yang sudah diujicobakan di 2.500 sekolah. Tahun pelajaran 2022/2023 merupakan tonggak baru mata pelajaran informatika. </p>
<p>Pada tahun pelajaran ini, kurikulum merdeka serentak diberlakukan oleh seluruh jenjang sekolah di Indonesia mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA/SMK. </p>
<p>Kurikulum merdeka dibuat sebagai pemulihan dari ketertinggalan pembelajaran atau recovery dari learning loss akibat pandemi Covid-19. </p>
<p>Kurikulum ini dirancang lebih sederhana dan fleksibel. Penerapannya lebih fokus pada materi esensial dan membuat peserta didik lebih aktif. </p>
<p>Pada waktu kurikulum 2013, mata pelajaran  (mapel) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berganti nama menjadi mata pelajaran Bimbingan Konseling Teknologi Informasi dan Komunikasi (BK TIK). </p>
<p>Pada mata pelajaran BK TIK, guru paling sedikit harus membimbing peserta didik 150 orang seperti halnya guru bimbingan konseling. </p>
<p>Guru BK TIK membimbing 150 peserta didik dihitung sebagai 24 jam pelajaran (JP). Biasanya guru BK TIK sekadar membimbing jika peserta didik ada kendala yang berkaitan dengan teknologi informasi. Peserta didik biasanya jarang melakukan praktik di laboratorium. </p>
<p>Pada kurikulum merdeka ini, terdapat dua fase yaitu fase E dan fase F. Kelas X masuk pada fase E dan kelas XI, kelas XII masuk pada fase F. Struktur kurikulum merdeka terbagi menjadi dua yaitu pembelajaran intrakurikuler dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). </p>
<p>Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam mapel  informatika yang mendukung P5. Sebagai guru informatika kita dapat memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang yang dapat menunjang proses pembelajaran baik pada pelajaran informatika atau pada mata pelajaran lain. </p>
<p>Setiap guru dapat menentukan materi apa saja yang dapat kita ajarkan kepada pseserta didik tergantung pada kebutuhan atau yang dibutuhkan peserta didik. Kurikulum merdeka, berpedoman pada capaian pembelajaran sebagai pedoman arah  bagi guru materi apa yang akan kita ajarkan.</p>
<p>Untuk menunjang penguatan profil pelajar Pancasila, guru informatika  dapat bekolaborasi dengan beberapa mata pelajaran lain. Sebagai contoh mapel kewirausahaan, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. </p>
<p>Lalu bagaimana, penerapan kolaborasi mata pelajaran informatika dengan mata pelajaran lain? Misalnya dalam satu semester guru informatika, kewirausahaan, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika berkumpul menjadi satu menentukan suatu proyek yang akan dilakukan dalam satu semester tersebut. </p>
<p>Setelah proyek ditentukan, dari masing-masing guru dapat menentukan tugas apa yang akan diberikan kepada peserta didik. Untuk mapel informatika, dapat menentukan desain dari proyek tersebut dengan menggunakan aplikasi tertentu. Untuk kewirausahaan dapat membuat desain cara memasarkan produk dari proyek tersebut. </p>
<p>Mapel bahasa Indonesia dapat memberikan tugas kepada peserta didik untuk membuat sebuah proposal kegiatan dengan bahasa dan ejaan yang benar.</p>
<p>Untuk bahasa Inggris, proposal kegiatan dapat ditulis menggunakan bahasa Inggris. Sedangkan untuk matematika dapat menyusun anggaran yang digunakan untuk proyek tersebut. </p>
<p>Kira-kira anggaran yang dibutuhkan membutuhkan biaya berapa. Jadi untuk mata pelajaran matematika dapat berperan dalam menghitung anggaran.</p>
<p>Kolaborasi penting dilakukan sebagaimana dikatakan Purwanto (2015) pada era informasi, pekerja dituntut berkolaborasi dan bekerja sama dalam suatu tim untuk menghasilkan produk atau pelayanan. </p>
<p>Dari kolaborasi ini, guru dapat memberikan suatu pelajaran atau contoh perlunya kerja sama yang baik antara guru satu dengan yang lain. Demikian pula, dengan peserta didik diperlukan kolaborasi antara peserta didik satu dengan yang lain, apabila mereka mendapatkan tugas dari guru yang harus dikerjakan secara berkelompok. Dengan kerja sama yang baik, maka tugas-tugas yang diberikan oleh guru dapat diselesaikan dengan baik juga.  (ut/lis)</p>
<p>Guru BK TIK/Informatika SMAN 1 Nogosari, Kabupaten Boyolali</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jalani dengan Ikhlas, Fokus Mencerdaskan Anak Bangsa</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/29/jalani-dengan-ikhlas-fokus-mencerdaskan-anak-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2023 04:25:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala SDN Bugangan 03]]></category>
		<category><![CDATA[Yuliana Wagianti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414351</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM &#8211; Yuliana Wagianti, S. Pd SD merupakan Kepala SDN Bugangan 03 Kota Semarang. Karir yang didapatkan berkat kerja keras yang dijalani dengan senang hati, ikhlas dan amanah. Menjadi kepala sekolah tentu bukan persoalan mudah. Harus menjadi leader, sekaligus manajerial sekolah. Berbeda dengan guru yang hanya mengelola kelas. “Banyak hal yang harus dilakukan, karena tanggungjawab [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RADARSEMARANG.COM</strong> &#8211; Yuliana Wagianti, S. Pd SD merupakan Kepala SDN Bugangan 03 Kota Semarang.</p>
<p>Karir yang didapatkan berkat kerja keras yang dijalani dengan senang hati, ikhlas dan amanah.</p>
<p>Menjadi kepala sekolah tentu bukan persoalan mudah. Harus menjadi leader, sekaligus manajerial sekolah. Berbeda dengan guru yang hanya mengelola kelas.</p>
<p>“Banyak hal yang harus dilakukan, karena tanggungjawab kepala sekolah tidaklah mudah. Semua harus bisa dilakukan demi mencerdaskan anak bangsa,” akunya.</p>
<p>Yuliana – begitu sapaan akrabnya- juga mengalami berbagai kisah duka selama menjadi kepala sekolah. Ia harus menghadapi murid yang cukup banyak, orang tua dan guru.</p>
<p>Di SDN Bugangan 03 ada 24 kelas dengan 700 murid. Dimana semua memiliki karakter yang berbeda berbeda-beda.</p>
<p>“Jika ada masalah pasti ujung-ujungnya bertanya pada kepala sekolah. Jadi kepala sekolah harus siap,” katanya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tingkatkan Hasil Menulis Alquran dengan Metode Follow The Line</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/28/tingkatkan-hasil-menulis-alquran-dengan-metode-follow-the-line/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2023 16:44:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Guru SDN Jrebengkembang]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis Alquran]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Follow The Line]]></category>
		<category><![CDATA[Moh. Ziadul Haq]]></category>
		<category><![CDATA[SDN Jrebengkembang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414309</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, PENDIDIKAN Agama Islam di Sekolah Dasar (SD) pada prinsipnya memberi bekal dasar pengetahuan dan pemahaman agama, sehingga sangat menentukan bagi berlangsungnya proses belajar agama tahap berikutnya. Oleh karena itu, pemberian pondasi pembelajaran ilmu agamanya harus mantap. Salah satu yang bisa kita pelajari dalam pembelajaran Agama Islam adalah kompetensi membaca dan menulis Alquran. Materi membaca [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, PENDIDIKAN Agama Islam di Sekolah Dasar (SD) pada prinsipnya memberi bekal dasar pengetahuan dan pemahaman agama, sehingga sangat menentukan bagi berlangsungnya proses belajar agama tahap berikutnya. </p>
<p>Oleh karena itu, pemberian pondasi pembelajaran ilmu agamanya harus mantap. Salah satu yang bisa kita pelajari dalam pembelajaran Agama Islam adalah kompetensi membaca dan menulis Alquran. </p>
<p>Materi membaca dan menulis Alquran di SD merupakan materi yang harus mempunyai perhatian khusus, agar sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. </p>
<p>Dinamika pembelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya pada pembelajaran penulisan Alquran di Sekolah Dasar hanya bergantung pada kegiatan belajar mengajar atau pada jam tatap muka saja oleh karena itu kurangnya waktu pertemuan pada pembelajaran penulisan Alquran menjadi problematika tersendiri dalam pembelajaran penulisan Alquran, sehingga diperlukan perlakuan-perlakuan khusus bagi siswa dalam mempelajari penulisan Alquran.</p>
<p>Dari hasil evaluasi pembelajaran pada peserta didik kelas IIIa semester genap di SD Negeri Jrebengkembang, dalam KD 4.1.2. Menulis kalimat-kalimat dalam Q.S. an-Nasr dan al-Kausar dengan benar. </p>
<p>Diperoleh hasil evaluasi awal menunjukkan hasil yang kurang, dari 24 peserta didik  yang mendapatkan nilai di atas KKM hanya 33 persen  (8 anak dari 24 peserta didik). Oleh karena itu dilakukan perbaikan dengan menggunakan metode Follow The Line.</p>
<p>Secara harfiah, follow the line berarti “mengikuti garis”. Metode ini adalah cara belajar menulis Alquran dengan cara menebalkan huruf-huruf yang dicetak samar. </p>
<p>Metode menulis Alquran dengan metode follow the line adalah salah satu metode pembelajaran yang menggabungkan antara belajar Alquran dan aktifitas psikomotor anak, yaitu menulis Alquran dengan cara menebalkan garis atau titik-titik pada huruf atau bacaan Alquran. (Irawan, 2013). </p>
<p>Metode follow the line berbeda dengan metode yang biasa digunakan atau metode konvensional. Jika dalam metode konvensional guru menulis dulu di papan tulis lalu peserta didik mencontoh dan menulis di buku tulis, maka terkadang peserta didik menulisnya kurang sesuai, seperti huruf hijaiyah dan tanda baca banyak yang kurang, menulisnya tidak rapi, tidak konsisten, dan naik turun.</p>
<p>Tetapi jika menggunakan metode follow the line ini menulis akan lebih terarah,  peserta didik hanya menebali tulisan yang sudah disediakan oleh guru, secara mental peserta didik merasa mudah, tidak minder karena hanya menebali saja, sehingga peserta didik akan semangat walaupun berulang ulang dan dijadikan pekerjaan di rumah sampai peserta didik lancar dan bisa menulis sendiri tanpa harus menebali lagi. </p>
<p>Langkah-langkah penerapan metode follow the line diantaranya : guru menyiapkan materi yang telah dicetak dengan cetakan yang lamat-lamat atau samar-samar. Lalu siswa diberi penjelasan cara penulisannya sesuai dengan kaidah kaidah penulisan, materi diberikan kepada siswa, siswa menulis dengan cara menebalinya dengan bimbingan guru.</p>
<p>Setelah menerapkan metode follow the line pada siswa kelas IIIa, hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Dari hasil tes yang dilakukan pada akhir kegiatan belajar mengajar, serta dengan membandingkan data awal sebelum menggunakan metode follow the line terbukti mengalami peningkatan. </p>
<p>Hal ini dapat dilihat dari, frekuensi ketuntasan hasil belajar individual siswa mengalami peningkatan. Jumlah siswa yang tuntas berdasarkan data awal sebanyak 8 peserta didik, setelah dilaksanakan dengan mengunakan metode follow the line meningkat menjadi 22 peserta didik. Persentase ketuntasan klasikal siswa mengalami kenaikan. </p>
<p>Berdasarkan data awal siswa yang tuntas secara klasikal sebesar 33 persen dan setelah perbaikan hasil tes siswa yang tuntas secara klasikal sebesar 92 persen. (gp/zal)</p>
<p>Guru SDN Jrebengkembang, Kabupaten Pekalongan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tingginya Minat Belajar IPS, Tingkatkan Hasil Belajar Peserta Didik</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/28/tingginya-minat-belajar-ips-tingkatkan-hasil-belajar-peserta-didik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2023 15:45:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Budiharti]]></category>
		<category><![CDATA[Guru SD]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil Belajar Peserta Didik]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Belajar IPS]]></category>
		<category><![CDATA[SD Negeri 01 Sukoharjo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414319</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, PENDIDIKAN merupakan sarana manusia dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Proses pendidikan adalah mempersiapkan seseorang untuk hidup layak di masa depan melalui pengajaran dan pelatihan. Menurut Rusmiati (2017: 23), belajar bukan suatu hasil atau tujuan, melainkan suatu proses atau kegiatan. Artinya, belajar merupakan proses untuk mencapai hasil belajar yang terlihat setelah pembelajaran berakhir. Hasil belajar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, PENDIDIKAN merupakan sarana manusia dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Proses pendidikan adalah mempersiapkan seseorang untuk hidup layak di masa depan melalui pengajaran dan pelatihan. </p>
<p>Menurut Rusmiati (2017: 23), belajar bukan suatu hasil atau tujuan, melainkan suatu proses atau kegiatan. Artinya, belajar merupakan proses untuk mencapai hasil belajar yang terlihat setelah pembelajaran berakhir.</p>
<p>Hasil belajar adalah pencapaian bentuk perubahan perilaku atau kemampuan baik dari aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotoris pada siswa yang didapat melalui proses belajar. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan bidang studi yang mempelajari masalah dan gejala sosial di masyarakat untuk membangun dirinya, masyarakat, bangsa, dan lingkungannya. </p>
<p>Gunawan (2013:18) menyatakan, pembelajaran IPS bertujuan membentuk warga negara yang berkemampuan sosial dan yakin akan kehidupannya sendiri di tengah-tengah kekuatan fisik maupun sosial. Pada gilirannya akan menjadi warga negara yang baik serta bertanggung jawab. </p>
<p>Hasil belajar IPS yang rendah dapat dipengaruhi karena kurangnya minat belajar siswa dan anggapan bahwa IPS adalah mata pelajaran yang membosankan. </p>
<p>Minat belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS yang rendah terlihat ketika di kelas. Pada pembelajaran IPS siswa kurang aktif dan tidak bersungguh-sungguh dalam belajar. Bila siswa tidak memiliki minat dan perhatian yang besar terhadap suatu pelajaran, maka sulit diharapkan siswa mendapatkan hasil yang baik pada pelajaran tersebut. </p>
<p>Menurut Susanto (2014:3-4), guru yang kurang mengikutsertakan siswa dalam proses pembelajaran IPS akan membuat pembelajaran IPS tidak menarik dan terkesan membosankan. Pembelajaran IPS yang tidak menarik dan membosankan, karena dianggap hanya untuk kepentingan sesaat, yang tidak ada manfaat bagi kehidupan sehari-hari di masyarakat. </p>
<p>Menurut Lestari (2015:120), minat belajar merupakan dorongan batin yang tumbuh dari siswa untuk meningkatkan kebiasaan belajar. Minat belajar ini dapat tumbuh ketika siswa ingin memperoleh nilai terbaik atau ingin memenangkan persaingan dalam belajar dengan siswa lainnya. Minat belajar siswa yang rendah akan menimbulkan rasa bosan terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung.</p>
<p>Adanya hubungan minat belajar dengan hasil belajar sejalan dengan yang dikatakan oleh Nurhasanah &amp; Sobandi (2016: 133). Minat belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar.<br />
Dengan demikian, adanya peningkatan minat belajar pada siswa SD Negero 01 Sukoharjo, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, yang diikuti peningkatan hasil belajarnya. </p>
<p>Artinya, semakin naik minat belajar siswa, berdampak pada hasil belajar siswa yang semakin baik juga. Siswa yang memiliki minat belajar tinggi akan mencurahkan perhatiannya pada pembelajaran yang berlangsung. </p>
<p>Menurut Wulandari, Marhadi&amp;Antosa (2016: 9) menyatakan, untuk meningkatkan hasil belajar siswa, salah satunya menumbuhkan semangat minat belajar itu sendiri. Dengan adanya minat belajar, akan turut serta mengalami proses bagaimana memulai, melaksanakan, dan mengikuti mata pelajaran IPS tersebut.</p>
<p>Minat tidak hanya memengaruhi tingkah laku seseorang, namun juga mendorong seseorang tetap melakukan dan memperoleh sesuatu. Kegiatan belajar siswa akan berjalan lancar apabila ada minat. Ratiana (Fiana, Karsadi, dan Rifai, 2018: 243) mengungkapkan, siswa yang menyukai mata pelajaran IPS, akan menerima pelajaran tersebut dengan senang. (gp/ida)</p>
<p>Guru SD Negeri 01 Sukoharjo, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bermain Peran Tokoh Pewayangan Tingkatkan Hasil Belajar Siswa</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/28/bermain-peran-tokoh-pewayangan-tingkatkan-hasil-belajar-siswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2023 14:18:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bermain Peran Tokoh Pewayangan]]></category>
		<category><![CDATA[Dariniwati]]></category>
		<category><![CDATA[Guru SD]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil Belajar Siswa]]></category>
		<category><![CDATA[SD Negeri Gebangsari 02]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414315</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, DI tengah gempuran budaya asing, pelajaran bahasa Jawa untuk anak SDN Gebangsari 02 kelas 6 hasilnya kurang maksimal. Khususnya materi tokoh pewayangan. Hal ini dikarenakan siswa merasa kesulitan ketika diberi tugas untuk menghafalkan nama–nama wayang dan asal-usulnya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan guru dan orang tua. Apalagi mereka sudah terlanjur mengidolakan para artis tingkat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, DI tengah gempuran budaya asing, pelajaran bahasa Jawa untuk anak SDN Gebangsari 02 kelas 6 hasilnya kurang maksimal. Khususnya materi tokoh pewayangan. Hal ini dikarenakan siswa merasa kesulitan ketika diberi tugas untuk menghafalkan nama–nama wayang dan asal-usulnya. </p>
<p>Hal ini tentu sangat memprihatinkan guru dan orang tua. Apalagi mereka sudah terlanjur mengidolakan para artis tingkat dunia. Mereka kurang memahami betapa pentingnya menjaga kelestarian budaya daerah/lokal sebagai sumber budaya nasional.</p>
<p>Hal ini memacu guru untuk mencari metode agar peserta didik tertarik sekaligus bisa memahami nama-nama tokoh wayang pada materi kelas 6. Langkah pertama yang guru lakukan adalah memilih siswa sesuai dengan karakter tokoh wayang. Misal untuk Werkudara, dipilih siswa sebagai tokoh yang tinggi dan besar. </p>
<p>Kalau Arjuna, dipilih siswa yang berperawakan kecil, bersih, dan sabar. Mereka disuruh ke depan untuk tampil sesuai dengan nama–nama yang sudah guru tentukan. Ketika guru mengatakan Gatutkaca, maka siswa yang mendapat julukan Gatotkaca tampil di depan di antara barisan wayang lainnya. Begitu seterusnya. </p>
<p>Siswa yang tidak mendapat peran juga wajib memahami bahwa temannya yang bernama Si A mendapatkan peran sebagai tokoh wayang lainnya.</p>
<p>Kemudian masing-masing siswa yang mendapat peran tokoh wayang, memperkenalkan dirinya dan menyebutkan namanya, di mana mereka bertempat tinggal, dan memperkenalkan pasangan serta anak-anak mereka. Ketika menyebutkan nama, peserta didik itu maju ke depan kelas. </p>
<p>Ketika menyebut nama pasangannya, temannya yang mendapat tugas sebagai pasangan tokoh wayang tersebut, maju mendampinginya. Ketika anak-anak si tokoh wayang ini disebutkan, maka mereka juga tampil di belakang ayah ibu mereka. Begitu seterusnya sampai semua tokoh Pandawa Lima tampil semua.</p>
<p>Metode bermain peran berbantuan media wayang merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan kesenangan dan menarik minat peserta didik dalam proses pembelajaran. Ini lebih ditekankan pada caranya, daripada hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Suatu inovasi pembelajaran yang mendorong anak aktif dalam kegiatan pembelajaran.</p>
<p>Metode bermain peran memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk bereksplorasi dan berimajinasi dalam memperoleh pengetahuan dan daya pikir yang baik, serta membuka banyak kesempatan bagi anak untuk berkreasi.</p>
<p>Pembelajaran berbantuan media wayang merupakan salah satu strategi agar peserta didik mudah memahami suatu konsep yang abstrak menjadi lebih konkret dan menambah daya tahan ingatan tentang objek belajar yang dipelajari. </p>
<p>Dengan media wayang, peserta didik dapat lebih aktif dan dapat belajar secara menyenangkan. Peserta didik juga dapat belajar melalui benda-benda konkret, sehingga lebih mudah dalam mengutarakan pendapatnya.</p>
<p>Terkait silsilah wayang, guru juga harus bisa memahami dulu silsilah keluarga Pandawa dan Kurawa secara mendetail. Semisal Pandu beristrikan Dewi Kunti mempunyai putra siapa saja. Tapi sebelum Dewi Kunti bersuamikan Pandu, dia bersuamikan Betara Surya dan mempunyai putra Adipati Karna. </p>
<p>Dengan begitu, siswa bisa memahami bahwa sebenarnya Adipati Karna dan Gatutkaca itu masih saudara seibu beda ayah. Sedangkan Nakula Sadewa adalah anak dari Pandu Dewanata beristrikan Dewi Madrim, sehingga anak-anak Pandu ada lima yang disebut Pandawa Lima. </p>
<p>Hal ini dikarenakan pada materi kelas 6 Gatutkaca Gugur diperlukan pemahaman terlebih dahulu siapa Gatutkaca dan siapa Adipati Karna. Sehingga siswa SD Negeri Gebangsari 02 mempunyai konsep dan akan lebih bersemangat untuk belajar bahasa Jawa, khususnya tokoh pewayangan. (gp/ida)</p>
<p>Guru SD Negeri Gebangsari 02</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pahami Konsep Tenggelam, Melayang, dan Terapung dengan Eksperimen Terbimbing</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/28/pahami-konsep-tenggelam-melayang-dan-terapung-dengan-eksperimen-terbimbing/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2023 13:15:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Eksperimen Terbimbing]]></category>
		<category><![CDATA[Guru IPA]]></category>
		<category><![CDATA[Melayang]]></category>
		<category><![CDATA[Pahami Konsep Tenggelam]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Asiyah]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 20 Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Terapung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414313</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, DALAM pembelajaran IPA atau sains, peserta didik dituntut untuk terlibat secara fisik maupun mental. Pemberian pengalaman secara langsung pada peserta didik dalam proses pembelajaran IPA sangat penting, untuk mengembangkan kompetensi peserta didik. Sehingga peserta didik dapat bereksplorasi dan memahami alam sekitar secara ilmiah dengan lebih mendalam. Selain mempunyai pengalaman langsung, peserta didik akan menemukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, DALAM pembelajaran IPA atau sains, peserta didik dituntut untuk terlibat secara fisik maupun mental. Pemberian pengalaman secara langsung pada peserta didik dalam proses pembelajaran IPA sangat penting, untuk mengembangkan kompetensi peserta didik. Sehingga peserta didik dapat bereksplorasi dan memahami alam sekitar secara ilmiah dengan lebih mendalam. </p>
<p>Selain mempunyai pengalaman langsung, peserta didik akan menemukan konsep yang ditemukan dan tidak akan terlupakan. Untuk terjadinya proses pembelajaran yang demikian, kita sebagai pendidik atau guru bisa menggunakan metode eksperimen terbimbing.</p>
<p>Metode eksperimen adalah pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung untuk dapat membuktikan mengenai teori dari materi pembelajaran yang didapatkannya sehingga peserta didik menjadi menemukan konsep yang diharapkan dan lebih memahaminya. Menurut Suparno (2007), metode eksperimen dibagi menjadi dua jenis, yaitu eksperimen terencana atau terbimbing dan eksperimen bebas. </p>
<p>Metode eksperimen terbimbing adalah metode yang seluruh jalannya percobaan telah dirancang oleh guru sebelum percobaan dilakukan oleh peserta didik, baik dari langkah-langkah percobaan, peralatan yang harus digunakan, apa yang harus diamati dan diukur, semuanya sudah ditentukan sejak awal.</p>
<p>Metode eksperimen bebas adalah metode eksperimen, di mana guru tidak memberikan petunjuk pelaksanaan percobaan terinci. Dengan kata lain, peserta didik harus lebih banyak berpikir sendiri, bagaimana akan membuat rangkaian, apa yang harus diamati, diukur, dan dianalisis, serta disimpulkan. Dengan percobaan bebas, lebih menantang peserta didik untuk merencanakan percobaan sendiri tanpa banyak dipengaruhi oleh arahan guru. Bahkan dapat membangun kreativitas peserta didik.</p>
<p>Materi tekanan pada zat dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari adalah materi IPA di kelas VIII SMP. Materi ini meliputi tekanan pada zat padat, zat cair, dan gas. Pada tekanan zat cair yang di dalamnya ada indikator, peserta didik dapat membedakan  tenggelam, melayang, dan terapung. Untuk lebih mudah memahami konsep tenggelam, melayang dan terapung, penulis menggunakan metode eksperimen terbimbing saat proses kegiatan belajar berlangsung di kelas VIII SMP Negeri 20 Semarang. </p>
<p>Peserta didik bersama kelompoknya melakukan eksperimen sesuai lembar kerja yang sudah disiapkan. Dan menuliskan hasil eksperimen yang sudah dilakukan. Di akhir pembelajaran, peserta didik dapat membedakan dan menyimpulkan hasil eksperimen yang sudah dilakukan dengan benar, tentang mengapa benda yang dimasukkan ke dalam zat cair dapat tenggelam, melayang, dan terapung? </p>
<p>Berdasarkan hasil pembelajaran yang sudah dilakukan penulis, metode eksperimen terbimbing dapat digunakan sebagai salah satu pilihan dalam proses pembelajaran IPA di kelas VIII. Peserta didik lebih mudah memahami materi atau konsep, terutama di materi tenggelam, melayang, dan terapung. Hasil belajar siswa pun dapat meningkat. (ips1/ida)</p>
<p>Guru IPA SMP Negeri 20 Semarang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siswa Lebih Aktif Belajar IPS dengan Model STAD</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/28/siswa-lebih-aktif-belajar-ips-dengan-model-stad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2023 12:10:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[BELAJAR IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Mapel IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Model STAD]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 22 Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Supeni Dwi Lestari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414311</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, MATA pelajaran IPS adalah salah satu bidang ilmu yang diajarkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kaitan Kurikulum 2013 dalam penelitian ini akan difokuskan pada mata pelajaran IPS. Tentunya berpikir kritis dapat didorong dengan aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemauan untuk bertanya. Kondisi kondusif untuk proses berpikir kritis dapat terjadi manakala dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, MATA pelajaran IPS adalah salah satu bidang ilmu yang diajarkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kaitan Kurikulum 2013 dalam penelitian ini akan difokuskan pada mata pelajaran IPS. </p>
<p>Tentunya berpikir kritis dapat didorong dengan aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemauan untuk bertanya. Kondisi kondusif untuk proses berpikir kritis dapat terjadi manakala dalam interaksi proses pembelajaran dapat diciptakan oleh guru. </p>
<p>Perubahan struktur pembelajaran IPS pada Kurikulum 2013 membutuhkan penyesuaian dan berbagai kendala bagi gurumata pelajaran IPS dan peserta didik (Devega, 2019).</p>
<p>Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif. Ciri khas yang paling menonjol dari metode STAD adalah menggunakan kuis-kuis individual pada tiap akhir pelajaran. </p>
<p>Dalam metode ini, siswa belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran. Para siswa saling membantu satu sama lain untuk memahami materi pelajaran melalui tutor sebayanya sehingga terjadilah diskusi, dan terakhir diadakan kuis individual (Maufurroh, 2020).</p>
<p>Tahapan dalam penerapan pembelajaran model STAD secara singkat sebagai berikut, 1) skilus pertama dengan tahap perencaan (planing) silabus kelas VIII semester II mapel IPS. Peneliti menyiapkan materi penelitian yang terdapat dalam KD 3.4 materi pokok perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan; 2) pelaksanaan pembelajaran (action) dilakukan oleh peneliti, dengan melakukan kolaborasi dengan teman sejawat untuk menyampaikan materi hingga melakukan evaluasi; 3) tahap pengamatan (observation) dilakukan dengan mengamati keaktifan siswa bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dalam proses pembelajaran STAD dan dilanjutkan dengan siklus kedua.</p>
<p>Siklus pertama pembelajaran  IPS kelas VIII pada materi KD 3.4 materi pokok perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan dengan sub materi pokok, ”Kondisi Masyarakat Indonesia pada Masa Penjajahan,” dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VIII-B SMP Negeri 22 Semarang. </p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keaktifan siswa 56,09 dalam kategori cukup pada pra siklus menjadi 67,66 dalam kategori cukup pada siklus I dan menjadi 78,28 dalam kategori aktif pada siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan nilai rata-rata pra siklus dari 71,56 menjadi 76,25 pada siklus I dan menjadi 85,88 pada siklus II. </p>
<p>Siswa yang tuntas belajar sebanyak 13 siswa (40,62 persen) pada pra siklus menjadi 22 siswa (68,75 persen) pada siklus I dan menjadi 30 siswa (93,75 persen) pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD, dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.</p>
<p>Penerapan model pembelajaran pada mata pelajaran IPS, bagi kepala sekolah dapat mendukung guru untuk dapat menerapkan model STAD dalam pembelajaran. Bagi guru, khususnya pengampu mata pelajaran IPS yang ingin meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dapat membiasakan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD. </p>
<p>Telah terbukti hasilnya pada penelitian yang telah dilakukan. Bagi siswa, dapat aktif dalam proses pembelajaran dan memperoleh pengetahuan yang lebih luas, mendalam, dan prestasi belajar yang optimal. Hasil penelitian model STAD ini dapat juga dijadikan rujukan bagi peneliti selanjutnya untuk menambah bahan referensinya. (ips1/ida)</p>
<p>Guru Mapel IPS SMP Negeri 22 Semarang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Simulasi Ular Tangga dalam Pembelajaran Harmonisasi HAM</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/28/simulasi-ular-tangga-dalam-pembelajaran-harmonisasi-ham/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2023 11:09:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Basuki]]></category>
		<category><![CDATA[Guru PPKn]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Harmonisasi HAM]]></category>
		<category><![CDATA[Simulasi Ular Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[SMA Negeri 1 Kedungwuni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414308</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, dan menyenangkan menantang. Memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang lingkup yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, dan menyenangkan menantang. </p>
<p>Memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang lingkup yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. </p>
<p>Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran.</p>
<p>Berkaitan dengan itu, metode simulasi mungkin salah satu metode yang bisa diterapkan. Metode yang dimaksud penulis dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) menggunakan jenis  simulasi permainan atau simulasi game dalam bentuk ular tangga. </p>
<p>Hal itu penulis terapkan di  SMA Negeri 1 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan dalam mapel PPKn materi pembelajaran harmonisasi HAM yang diwujudkan dalam game simulasi dan pelaksanaan diatur dalam sebuah peraturan yang disetujui bersama. </p>
<p>Adapun peralatan game simulasi ular tangga terdiri atas dadu, lembar simulasi, gambar/tayangan dan   seperangkat pertanyaan. Sedangkan tata cara permainannya: pertama, siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas lima sampai enam siswa. Kedua, siswa maju ke depan dua kelompok dengan melingkari lembar simulasi. Lembar simulasi dimulai dari Start.</p>
<p>Ketiga, siswa mengeluarkan dadu setelah digoyang dalam gelas. Setelah keluar, dadu dilihat menunjuk nomor berapa. Misalnya, 1 berarti maju 1 langkah. Bila 2 berarti maju 2 langkah dan seterusnya. Bila ada dua arah, diperbolehkan memilih salah satu arah yang  dikehendaki.</p>
<p>Keempat, setelah dadu ditempatkan pada nomor yang dikehendaki, kemudian lihat perintah atau pertanyaan. Siswa disuruh menjawab sesuai pertanyaan /perintah yang tersedia. Siswa memberikan alasan /keterangan atau  jawaban.</p>
<p>Kelima, bila pada kolom bonus, peserta boleh menyampaikan hal apa saja yang berkaitan dengan materi HAM. Bila pada lembar simulasi lihat tayangan, maka soal bisa dilihat melalui LCD mengenai gambar atau tayangan film pendek. </p>
<p>Bila pada lembar simulasi tertulis ambil soal. Maka soal diambil dari lembar soal di luar simulasi yang sudah disediakan oleh guru. Demikian caranya diulang lagi antar kelompok secara bergiliran.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan, jika ada sub pertanyaan yang belum diambil, maka dikaji  guru bersama siswa. Selain itu, bagi siswa yang gelombang satu tidak aktif, bisa  dikelompokan kembali untuk maju sesama siswa yang belum aktif dalam kelompok baru pada  simulasi berikutnya. Hal ini dengan harapan, disamping sebagai target dalam mencapai ketuntasan (KKM) sekaligus meningkatkan keaktifan siswa.</p>
<p>Langkah-langkah pembelajaran simulasi sebagai berikut: pertama, guru menyiapkan alat simulasi. Kedua, guru menyiapkan prosedur simulasi. Ketiga, siswa melakukan simulasi sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. </p>
<p>Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum pembelajaran, antara lain: mempersiapkan materi pembelajaran, mempersiapkan sumber belajar yang diperlukan, mempersiapkan kelas dalam setting pembelajaran simulasi  dengan bantuan media visual  berupa gambar dalam bentuk power point, menyempurnakan alat simulasi dengan variatif melihat pertanyaan melalui gambar dalam bentuk power point, ruang lingkup materi seluruh kompetensi dasar, serta membuat lembar observasi tentang aktivitas siswa selama proses belajar mengajar.</p>
<p>Hasil belajar pada pembelajaran  menggunakan game simulasi ular tangga ini adalah  meningkatnya perolehan nilai siswa pada masing-masing individu, sehingga adanya peningkatan rata-rata kelas. Meningkatnya pencapaian dari KKM yang ditentukan baik nilai siswa maupun persentase pencapaian KKM dalam kelas tersebut. </p>
<p>Adanya perubahan sikap dalam mengikuti pembelajaran dengan siswa sebagai subjek pembelajaran. Berlangsungnya proses pembelajaran yang kreatif, integratif, komprehensif  dan menyenangkan. (gp/fth)</p>
<p>Guru PPKn SMA Negeri 1 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Sistem Pernapasan pada Manusia dengan Media Gambar</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/27/belajar-sistem-pernapasan-pada-manusia-dengan-media-gambar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2023 16:31:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Sistem Pernapasan]]></category>
		<category><![CDATA[Guru IPA]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Media Gambar]]></category>
		<category><![CDATA[SMP Negeri 7 Pemalang]]></category>
		<category><![CDATA[Suciati Halimah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414173</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, KUALITAS pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem pendidikan saja, akan tetapi mutu dari tenaga pengajar juga sangat mempengaruhi hal tersebut. Dalam hal ini, adalah pengajar yang mampu menyajikan proses pembelajaran dengan baik sehingga siswa mengerti dan memahami pelajaran yang dipelajarinya. Apalagi dalam mata pelajaran IPA yang notabene menjadi salah satu mata pelajaran yang dianggap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, KUALITAS pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem pendidikan saja, akan tetapi mutu dari tenaga pengajar juga sangat mempengaruhi hal tersebut. </p>
<p>Dalam hal ini, adalah pengajar yang mampu menyajikan proses pembelajaran dengan baik sehingga siswa mengerti dan memahami pelajaran yang dipelajarinya. </p>
<p>Apalagi dalam mata pelajaran IPA yang notabene menjadi salah satu mata pelajaran yang dianggap susah, sehingga siswa menjadi malas untuk diajak belajar. </p>
<p>Hal ini merupakan tantangan bagi penulis sebagai guru IPA untuk dapat menyajikan proses pembelajaran IPA yang menarik dan menyenangkan. Sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar sebagaimana yang penulis lakukan di SMP Negeri 7 Pemalang. </p>
<p>Khususnya kelas VIII, yaitu proses pembelajaran IPA pada KD. 3.9 Menganalisis Sistem Pernapasan pada Manusia dan Memahami Gangguan Pada Sistem Pernapasan serta Upaya Menjaga Kesehatan Sistem Pernapasan.</p>
<p>Menurut Hamalik (2009:179) aktivitas belajar merupakan kegiatan yang diakukan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran. Jadi aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa untuk membangun pengetahuan maupun keterampilan dalam diri dalam kegiatan pembelajaran. </p>
<p>Aktivitas belajar ini akan tercipta dengan melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan salah satunya dengan menggunakan media gambar. Sehingga akan memicu ketertarikan siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran tersebut. </p>
<p>Banyak media yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dan salah satunya adalan media gambar. Menurut Angkowo (dalam Poerwanti, 2015:390) berpendapat bahwa media gambar adalah media yang mengombinasikan fakta dan gagasan secara jelas dan kuat melalui kombinasi pengungkapan kata-kata dengan gambar–gambar. </p>
<p>Penggunaan media gambar dalam proses pembelajaran IPA, khususnya dalam materi pernapasan pada manusia akan mampu meningkatkan pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi yang dipelajari yaitu pernafasan pada manusia. Media gambar yang digunakan sebaiknya gambar yang berwarna. </p>
<p>Hal ini disebabkan karena gambar yang berwarna akan lebih menarik perhatian. Semua gambar mempunyai arti, uraian, dan tafsiran tersendiri. Karena itu media gambar sangatlah cocok digunakan sebagai media pembelajaran khususnya media pembelajaran IPA pada materi pernafasan. </p>
<p>Hal ini karena pada materi ini banyak sekali bagian–bagian organ tubuh manusia yang tergolong alat-alat pernapasan. Dengan gambar-gambar ini siswa dapat membedakan bentuk dan fungsi dari alat-alat pernafasan tersebut.</p>
<p>Adapun langkah-langkah penggunaan gambar pada proses pembelajaran IPA khususnya pada materi pernafasan pada manusia adalah, 1) guru menyiapkan gambar-gambar alat pernafasan pada manusia sesuai pertumbuhan dan perkembangan siswa. 2) Guru membantu siswa untuk mengamati gambar-gambar yang disajikan pada proses pembelajaran tersebut. 3) Siswa mengamati dan menanyakan hal-hal yang kurang jelas pada saat melakukan pengamatan. 4) Guru mengarahkan perhatian siswa sambil menjelaskan dan menjawab pertanyaan siswa yang belum jelas terkait dengan gambar yang diamati. 5) Siswa dengan dibantu guru mengkonfirmasi materi pernafasan tersebut. 6) Guru memberikan penugasan kepada siswa terkait dengan gambar-gambar pada materi pernafasan pada manusia.</p>
<p>Dengan menggunakan media gambar yang digunakan dalam proses pembelajaran IPA, khususnya KD 3.9 pada materi Pernafasan pada manusia, ini dapat memfasilitasi siswa untuk lebih meningkatkan aktifitas belajarnya hal ini terlihat dengan aktifnya siswa mengikuti proses pembelajarannya. </p>
<p>Dengan demikian diharapkan akan mampu meningkatkan hasil belajar sehingga tujuan belajar akan tercapai dan pembelajaran akan lebih berkesan dan bermakna serta berlangsung  humanis. (*/ida)</p>
<p>Guru IPA SMP Negeri 7 Pemalang </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Hasil Belajar IPA dengan Tutor Sebaya</title>
		<link>https://radarsemarang.com/2023/01/27/meningkatkan-hasil-belajar-ipa-dengan-tutor-sebaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ap]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2023 15:34:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Guru SDN Soronalan 2]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil Belajar IPA]]></category>
		<category><![CDATA[Jini]]></category>
		<category><![CDATA[SDN Soronalan 2]]></category>
		<category><![CDATA[TUTOR SEBAYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://radarsemarang.jawapos.com/?p=414186</guid>

					<description><![CDATA[RADARSEMARANG.COM, Disiplin ilmu yang terdiri dari physicalsciences (atau ilmu fisik ) dan life sciences (atau ilmu biologi ) merupakan ilmu pengetahuan alam atau sain. Mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan ilmu untuk mencari tahu tentang alam secara sistematis. Karena IPA itu tidak hanya kumpulan pengetahuan tentang fakta, konsep, atau prinsip saja, tetapi merupakan suatu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RADARSEMARANG.COM, Disiplin ilmu yang terdiri dari physicalsciences (atau ilmu fisik ) dan life sciences (atau ilmu biologi ) merupakan ilmu pengetahuan alam atau sain. </p>
<p>Mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan ilmu untuk mencari tahu tentang alam secara sistematis. Karena IPA itu tidak hanya kumpulan pengetahuan tentang fakta, konsep, atau prinsip saja, tetapi merupakan suatu proses penemuan-penemuan tentang alam. </p>
<p>Maka dari itu pendidikan IPA merupakan wahana peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya serta prospek pengembangannya lebih lanjut dalam penerapan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Pelajaran IPA tentang rotasi bumi dan revolusi bumi mencakup tentang peristiwa tersebut beserta akibatnya yang dirasakan oleh seluruh makhluk hidup di dunia. </p>
<p>Setiap pembelajaran IPA tentang rotasi dan revolusi di SDN Soronalan 2 Kecamatan Sawangan, cenderung sulit mencapai ketuntasan. Karena anak-anak kurang fokus untuk mengikutinya.</p>
<p>Apalagi setelah pandemi ini anak-anak masih sulit untuk kembali ke sekolah seperti sebelum pandemi. Pengaruhnya masih kuat, ditandai masih kurang konsentrasi di kelas dan sering tidak masuk sekolah. Dengan kata lain anak-anak kurang antusias terhadap pelajaran terutama IPA. </p>
<p>Dengan kondisi tersebut, pendidik mencari cara untuk menumbuhkan kembali semangat siswa untuk belajar dengan baik. Maka penulis menggunakan sebuah metode dengan tutor sebaya. </p>
<p>Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap tinggi. Siswa tersebut mengajarkan materi kepada teman-temannya kepada yang belum paham. </p>
<p>Tutor sebaya ini lebih dikenal dengan pernyataan belajar dengan teman sebaya. Dengan cara siswa yang sudah memahami bisa menjelaskan kepada teman -teman yang belum memahaminya.</p>
<p>Menurut Abu Ahmadi dan Joko Tri Prastyo (2005: 17) tutor sebaya adalah siswa yang sebaya yang ditunjuk atau diberi tugas membantu temannya yang mengalami kesulitan dalam belajar. Karena hubungan antara guru dan siswa, lebih dekat antara siswa dengan siswa. </p>
<p>Dikatakan Winata Putra (1999), tutor sebaya adalah kegiatan belajar siswa dengan memafaatkan teman sekelas yang mempunyai kemampuan lebih supaya bisa membimbingnya. </p>
<p>Pendekatan tutor sebaya merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitf. Maka saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik dalam belajar bersama.</p>
<p>Penggunaan metode diskusi tutor sebaya ini disesuaikan dengan materi dan dapat dipahami dengan mudah dengan adanya rasa senang di hadapan teman sebayanya. Tutor sebaya merupakan pembelajaran yang PAKEM (pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan). </p>
<p>Tentunya metode tutor sebaya ini mempunyai dampak positif. Yakni adanya pengendalian dari sikap negatif peserta didik. Sesama peserta didik saling menegur apabila muncul sikap yang negatif, agar pembelajaran tetap kondusif. </p>
<p>Selain itu tutor sebaya menjembatani siswa untuk berani bertanya kepada teman sebaya tentang hal-hal yang belum mereka pahami. Berdasarkan dari hasil analisis penilaian harian materi rotasi dan revolusi bumi di SDN Soronalan 2 Kecamatan Sawangan  diperoleh nilai siswa 85,5 persen dan bisa mencapai KKM 95,0 persen.</p>
<p>Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan metode tutor sebaya dapat menumbuhkan kreativitas siswa dalam pembelajara IPA. Dan membuat siswa tidak merasa jenuh mengikuti pelajaran di kelas.  Juga dapat menumbuhkan kepercayaan pada diri dari masing -masing siswa. (*/lis)</p>
<p>Guru SDN  Soronalan 2, Kec Sawangan, Kabupaten Magelang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
