Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Membuat Kisi-Kisi Soal melalui Supervisi Klinis

Oleh : Rr. Dwi Esti Suci Rahayu, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Seringkali kepala sekolah merasa kesulitan menunjuk guru untuk membuat kisi-kisi soal pada kegiatan penilaian semester. Sering dijumpai ketika guru mengadakan ulangan harian mereka tidak membuat kisi-kisinya terlebih dulu.

Guru masih sering menggunakan soal ulangan pada tahun-tahun sebelumnya, atau mengambil lembar kerja siswa bahkan dari internet. Sementara ada beberapa guru yang sudah mencoba membuat kisi-kisi soal tetapi masih belum dilakukan dengan baik dan benar.

Syofyan (2016) mengemukakan penulisan kisi-kisi soal adalah kerangka dasar yang dipergunakan untuk menyusun soal dalam evaluasi proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan kisi-kisi soal ini, maka guru dengan mudah dapat menyusun soal-soal evaluasi. Kisi-kisi soal inilah yang memberikan batasan, tujuan, dan sasaran bagi guru dalam menyusun soal evaluasi.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membimbing guru dalam pembuatan kisi-kisi, diantaranya dengan melakukan supervisi klinis.
Kimball Willer mengemukakan supervisi merupakan proses bantuan untuk meningkatkan belajar mengajar menjadi lebih baik.

Supervisi klinis merupakan suatu bentuk bantuan profesional yang diberikan pada guru berdasarkan kebutuhannya melalui siklus yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan yang cermat, dan pemberian balikan secara objektif tentang penampilan pengajarannya nyata untuk meningkatkan profesionalisme dalam mengajar.

Bimbingan yang diberikan dalam supervisi klinis tidak bersifat istruksi tetapi lebih bersifat bantuan. Kepala sekolah memberikan arahan dan bimbingan kepada guru, sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang dialami dalam proses pembelajaran di kelas.

Baca juga:   Menumbuhkan Peduli Lingkungan Sekolah dengan Sasi Sahon

Acheson dan Gall (dalam Iriyani, 2008) mengemukakan tiga prinsip umum pelaksanaan supervisi klinis yang bertumpu pada psikologi humanistic. Yakni demokratik dan berpusat pada guru. Prinsip interaktif mensyaratkan adanya hubungan timbal balik yang dekat, saling memberi dan menerima, memahami dan saling mengerti antara guru dan kepala sekolah.

Prinsip demokratik menekankan adanya keterbukaan antara guru dan kepala sekolah untuk mengemukakan pendapat, berdiskusi, dan mengkaji pendapat dalam pertemuan sehingga keputusan ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama.

Pada awal kegiatan supervisi klinis, kepala sekolah melakukan diskusi dengan guru melalui kegiatan KKG di sekolah. Kepala sekolah membuat kesepakatan dengan guru untuk melaksanakan kegiatan supervisi klinis tentang pembuatan kisi-kisi soal. Tahapan yang dilakukan adalah perencanaan tindakan (planning), pelaksanan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

Pada tahap perencanaan, yakni menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk melakukan pembimbingan pada guru yang berupa instrumen kisi-kisi soal, silabus, buku pegangan guru, buku siswa, dan buku referensi yang lain.

Hal ini penting agar sebelum kepala sekolah memberikan saran, arahan, bimbingan dan contoh sesuai dengan kondisi yang nyata.

Pada tahap pelaksanaan, kepala sekolah memberi penjelasan mengenai kisi-kisi soal yang dilanjutkan dengan contoh kisi-kisi soal yang sudah disusun guru sebelum pembimbingan.

Baca juga:   Lebih Asyik Belajar Bahasa Inggris dengan Quizizz di Masa Pandemi Covid 19

Setelah itu pembimbingan difokuskan pada penyusunanan aspek-aspek dalam kisi-kisi soal. Kisi-kisi soal yang dibuat guru sebelum pembimbingan dibahas tiap aspeknya, apakah sesuai dengan kaidah penyusunan kisi-kisi atau belum.

Kemudian kepala sekolah memberi saran dan bimbingan agar guru dapat menyusun kisi-kisi soal sesuai dengan kaidah penulisan kisi-kisi. Setelah mendapatkan penjelasan, guru kembali diberi tugas membuat kisi-kisi sesuai arahan dan bimbingan dalam waktu seminggu.

Setelah satu minggu kembali guru mengumpulkan tugas kisi-kisi yang telah dibuatnya. Kepala sekolah kembali memberikan bimbingan pada guru yang belum membut kisi-kisi sesuai kaidah yang benar.

Pada tahap refleksi kepala sekolah bersama dengan para guru melakukan evaluasi, melihat, dan mencermati kisi-kisi soal yang dibuat guru. Jika masih ada komponen yang belum lengkap, kepala sekolah mengarahkan agar dilengkapi sesuai dengan kriteria yang benar.

Dari kegitan supervisi klinis terebut ternyata guru di sekolah penulis SD Negeri 1 Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga dapat membuat kisi-kisi soal yang baik dan benar. Diharapkan dengan kisi-kisi yang benar maka akan tercipta soal yang berkualitas guna membawa dampak yang positif bagi kemajuan siswa di sekolah. (pb1/lis)

Kepala SDN 1 Limbasari, Kec Bobotsari, Kabupaten Purbalingga

Populer

Lainnya