Metode Menulis Berantai Memudahkan Siswa dalam Menulis Cerpen

Oleh: Dra. Sri Mulyani Dwi Hastuti, M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Salah satu kompetensi dasar yang harus diajarkan di SMP adalah menulis cerita pendek (cerpen). Pembelajaran menulis cerita pendek ini penting diajarkan kepada peserta didik karena menulis cerpen dapat dijadikan sebagai sarana untuk berimajinasi dan menuangkan ide, gagasan, atau pikiran.

Menurut Widyamartaya (2005: 102) menulis cerpen adalah menulis tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok. Sumardjo (2001:84) berpendapat bahwa menulis cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita.

Pembelajaran menulis cerpen bukanlah kegiatan yang mudah dilakukan bagi peserta didik di SMP Negeri 15 Surakarta. Peserta didik seringkali kesulitan ketika mereka diharuskan untuk menulis cerpen. Kesulitan yang dialami oleh peserta didik yaitu ketika mereka harus menuangkan pikiran dan perasaannya ke dalam cerpen. Daya imajinasi yang kurang dan keterbatasan diksi siswa juga merupakan hambatan yang dialami oleh siswa.

Upaya yang digunakan guru untuk mengatasi kesulitan peserta didik dalam menulis cerpen di SMP Negeri 15 Surakarta adalah menerapkan metode menulis berantai (MMB). Metode ini melibatkan siswa belajar dengan cara bersama-sama, tetapi tidak secara kelompok.

Baca juga:   Strategi Everyone Is A Teacher Here Tumbuhkan Sikap Mandiri Siswa

Kegiatan menulis dengan menggunakan metode pembelajaran ini membuat siswa aktif mengembangkan daya khayalnya, berimajinasi, dan langsung menghasilkan sebuah produk berupa cerita pendek. Produk yang dihasilkan adalah karya bersama karena cerita pendek yang dihasilkan tersebut dibuat bersama-sama (berantai).

Menurut Syathariah (2011:42) pembelajaran menulis cerpen dengan metode menulis berantai dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: guru menentukan sebuah tema yang akan dikembangkan menjadi cerpen oleh siswa. Siswa diminta membuat kelompok, setiap kelompok terdiri atas 4 siswa.

Setelah tema ditentukan, setiap siswa diminta menuliskan 2 atau 3 paragraf pada sebuah buku. Pada akhir paragrafnya siswa diminta untuk menuliskan namanya. Setelah siswa menyelesaikan paragrafnya, mereka dimnita menyerahkan buku latihan berisi paragraf tersebut kepada teman sebelah kanannya.

Siswa yang menerima buku latihan temannya diminta membaca paragraf pertama yang telah dituliskan di buku tersebut. Kemudian setiap siswa diminta meneruskan (menyambung) paragraf tersebut dengan menambah beberapa paragraf lagi. Setiap akhir paragraf, siswa diminta untuk menuliskan namanya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pemilik (penulis) paragraf yang tidak sesuai tema.

Baca juga:   Pendidikan Karakter Mapel PPKn di Masa Covid-19

Setelah siswa kedua melanjutkan beberapa paragraf sehingga membentuk sebuah cerita temannya dengan beberapa paragraf, buku latihan itu kembali berpindah searah jarum jam sampai batas waktu yang telah ditentukan oleh guru.

Setelah sampai pada batas waktu yang ditentukan, setiap siswa diminta untuk menuliskan akhir dari cerita tersebut bila diperlukan.

Setelah kegiatan menulis berantai selesai, setiap siswa diminta mengembalikan buku latihan tersebut kepada pemiliknya (siswa ayang menulis paragraf pertama).

Pemilik buku diminta membaca cerita pendek berantai itu secara keseluruhan dan menandai paragraf yang tidak koheren atau tidak sesuai

Pembelajaran menulis cerita pendek dengan menggunakan metode menulis berantai ini sangat memotivasi siswa dalam belajar sehingga berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Suasana belajar menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. (dd2/lis)

Guru SMP Negeri 15 Surakarta

Populer

Lainnya