Menulis menjadi No Problem dengan Problem-Based Learning

Oleh : Vika Oktaviona, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai model. Kurikulum 2013 mengamanatkan 3 model pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru. Yaitu model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning), model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), dan pembelajaran penemuan (Discovery Learning).

Masing-masing model, mempunyai keunggulan sendiri. Dalam penerapannya tentu saja guru harus menyesuaikan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan.

Penulis memilih model PBL untuk diterapkan pada materi tegur sapa dan berpamitan (greeting, leave taking, and apologizing). Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning disingkat dengan PBL) merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar.

Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 SMP/MTs Bahasa Inggris, 2013 :199).

Menurut Duch (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) PBL atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.

Sintaks pembelajaran model PBL adalah: pertama orientasi peserta didik kepada masalah; kedua mengorganisasikan peserta didik; ketiga membimbing penyelidikan individu dan kelompok; keempat mengembangkan dan menyajikan hasil karya.

Baca juga:   Video Upin-Ipin Jawa Tingkatkan Menulis Pengalaman

Pembelajaran bahasa Inggris di SMPN 1 Tersono pada kelas 7 pada materi tegur sapa, berpamitan, mengucapkan terimakasih, dan meminta maaf (greeting, leave taking, gratitude and apologizing) pertemuan ketiga, penulis menerapkan model PBL untuk mengajarkan kompetensi keterampilan.

Model PBL mempunyai kelebihan di antaranya pembelajaran akan lebih bermakna (karena di dalamnya terdapat kesempatan bagi mereka untuk menerapkan pengetahuan dan menerapkan konsep). Selain hal tersebut, model ini juga dapat membangun atau mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok ketika mereka berkolaborasi dalam memecahkan masalah.

Di kelas penulis, peserta didik merasa kesulitan ketika harus menerapkan konsep mereka pada saat menyusun dialog rumpang tentang tegur sapa, berpamitan, mengucapkan terimakasih, dan meminta maaf (greeting, leave taking, gratitude and apologizing), jika dilakukan sendiri. Diharapkan, dengan menerapkan model ini peserta didik akan merasakan kemudahan dan menemukan rasa senang.

Penulis menyiapkan logistik pembelajaran yaitu berupa 4 dialog rumpang yang penulis tulis dalam sebuah kertas. Kemudian penulis perbesar tulisan tersebut agar mudah disusun berkelompok. Lalu, penulis potong-potong susunan dialog tersebut menjadi dialog rumpang.

Baca juga:   Gali Materi Interaksi Makhluk Hidup melalui Discovery Learning

Potongan 4 dialog tersebut kemudian penulis masukkan ke dalam 4 buah amplop besar. Hal pertama yang penulis lakukan adalah menjelaskan tujuan pembelajaran. Yaitu peserta didik dapat menerapkan konsep dengan cara menyusun dialog rumpang. Penulis menjelaskan deskripsi tugas yang harus mereka kerjakan.

Mereka dibagi menjadi 4 kelompok tiap kelompok terdiri dari 4 peserta didik (pembelajaran tatap muka sesuai pedoman belajar di masa pandemi). Mereka lalu berkolaborasi menyusun dialog tersebut. Setelah menemukan jawaban benar, mereka akan bertukar potongan dialog dengan kelompok lain. Di akhir kolaborasi, mereka menempelkan potongan dialog menjadi sebuah dialog yang benar.

Dari kegiatan pembelajaran tersebut terlihat mobilitas peserta didik yang saling menyampaikan pengetahuan mereka dan berkolaborasi untuk memecahkan masalah. Penerapan model PBL membuat pembelajaran lebih bermakna dan lebih mengaktifkan peserta didik. Karena dalam kegiatan pembelajarannya peserta didik melaksanakan kerja kelompok, umpan balik, dan diskusi. Mereka didorong lebih aktif terlibat dalam materi pembelajaran dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. (ips2/lis)

Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Tersono

Populer

Lainnya