Belajar Asyik Bilangan Bulat dengan Manik-Manik

Oleh : Atik Supriyani, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Matematika sering menjadi momok para siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Banyak siswa yang enggan mengikuti pembelajaran karena merasa sulit dalam penerimaan konsepnya. Padahal sebenarnya apabila siswa memahami konsep dasarnya, matematika adalah pelajaran yang menyenangkan. Maka, menanamkan konsep secara matang merupakan tugas utama yang harus kita dahulukan.

Menurut James (1976) matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep konsep yang berhubungan satu dengan lainnya dengan jumlah yang banyak. Terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri.

Menurut Dahar (dalam Hera Lestari 1997) konsep-konsep itu menyediakan skema terorganisasi untuk mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori.

Untuk mengenalkan konsep matematika bisa dilakukan melalui tiga tahap. Yaitu konsep secara konkret, konsep semikonkret dan semiabstrak serta konsep abstrak.

Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar agar penanaman konsep lebih mengasyikkan, penulis menggunakan konsep secara konkret sebelum ke abstrak.

Khusus untuk pembelajaran matematika kelas 6 semester 1 materi bilangan bulat Kompetensi Dasar 3.2. Menjelaskan dan melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan yang melibatkan bilangan bulat negatif, penulis mencoba menerapkan pembelajaran yang mengasyikan. Yakni dengan alat peraga manik-manik untuk tahap pembelajaran secara konkret.

Baca juga:   Belajar Prakarya dengan Membuat Media Peta Konsep Mandiri

Proses pengerjaan dengan garis bilangan untuk tahap secara semikonkret dan semiabstrak dan mengerjakan operasi penjumlahan dan pengurangan tanpa alat peraga untuk tahap pembelajaran secara abstrak.

Penerapan alat peraga dengan media konkret ini dapat meningkatkan pemahaman siswa di SDN Wonolelo 1 Sawangan, Kabupaten Magelang pada materi pokok konsep operasi hitung bilangan bulat.

Alat peraga adalah segala sesuatu yang bisa digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep pembelajaran dari materi yang bersifat abstrak. Menurut Wijaya & Rusyan (1994) yang dimaksud alat peraga pendidikan adalah media pendidikan berperan sebagai perangsang belajar. Dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar.

Penggunaan alat peraga manik-manik pendekatannya menggunakan konsep himpunan. Seperti kita ketahui, pada himpunan, kita dapat menggabungkan atau memisahkan dua himpunan yang dalam hal ini anggotanya berupa manik-manik.

Bentuk alat ini berupa bulatan bulatan setengah lingkaran yang apabila sisi diameternya digabungkan akan membentuk lingkaran penuh. Alat ini terdiri dari dua warna. Satu warna menandakan bilangan positif (misalnya warna putih) sedangkan warna lain merupakan bilangan negatif (misalnya warna merah).

Dalam hal ini bilangan nol (netral) diwakili oleh dua manik-manik dengan warna berbeda yang dihimpitkan pada sisi diameternya. Sehingga membentuk lingkaran penuh dengan dua warna (merah dan putih).

Baca juga:   Aransi Kelas Mudahkan Siswa Belajar Keragaman Suku Bangsa

Langkah-langkah pengunaan alat ini sebagai berikut : sebagai contoh kita akan menghitung 2+(-5). Kita ambil dua buah manik-manik bertanda positif (putih) kita tempatkan ke dalam papan peraga. Kemudian kita tambahkan ke dalam papan peraga lima manik-manik bertanda negatif (merah). Setelah itu lakukan pemetaan antara manik manik yang bertanda positif dengan yang bertanda negatif untuk mencari sebanyak-banyaknya bilangan yang bersifat netral (bernilai nol).

Dari hasil pemetaan langkah di atas akan ada dua pasang manik-manik yang membentuk lingkaran penuh (bernilai nol). Jika pasangan lingkaran itu dikeluarkan dari papan peraga akan terlihat tiga manik-manik yang bertanda negatif (berwarna merah). Peraga ini menunjukkan kepada kita bahwa 2+(-5)=-3.

Dengan alat peraga ini mampu memotivasi dan meningkatkan kemauan serta kemampuan belajar siswa. Khususnya materi penjumlahan bilangan bulat di SDN Wonolelo 1. Dari 20 siswa kelas 6 yang sebelumnya 70 persennya nilai di bawah KKM sekarang menjadi 70 persen di atas KKM. Siswa yang dulu tidak senang, enggan dan takut mengikuti pembelajaran matematika, kini berangsur-angsur mulai menyukai. (pm1/lis)

Guru SDN Wonolelo 1, Kec. Sawangan, Kabupaten Magelang

Populer

Lainnya