Tingkatkan Keterampilan Berbicara Menggunakan Metode Berbicara

Oleh : Rohningsih S.Pd.Sd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, UNDANG-undang (UU) nomor 20 tahun 2003 tentang Pendidikan di Indonesia mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Melalui proses pembelajaran, beragam manfaat dapat didapatkan oleh peserta didik.

Manfaat-manfaat tersebut meliputi pengembangan kemampuan dan potensi, serta pembentukan watak. Pembentukan watak yang dimaksud adalah kreatif, cakap, mandiri dan bertanggung jawab.

Saat ini ada beberapa kendala yang dialami siswa dalam belajar di masa sebelum pandemi Covid-19, kendalanya seperti malasnya siswa dalam belajar di rumah yang bertujuan mengulang materi yang sudah disampaikan di sekolah.

Kendala yang seperti ini tentunya menjadi tanggung jawab besar bagi seorang guru. Dalam proses perancangan pembelajaran, pengajar diharapkan memiliki kemampuan dan keterampilan misalnya ketika menentukan metode dan media pembelajaran.

Demikian juga di SD yang notabene siswanya kurang memiliki kemampuan dan minat belajar bahasa Indonesia, seperti di kelas VI SDN Kajongan, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Pada umumnya, siswa SD sangat mengalami kesulitan untuk menyampaikan gagasan, pikiran, pertanyaan dan sebagainya.

Baca juga:   Belajar IPA Realistik dari Lingkungan Rumah di Masa Pandemik

Kegiatan berbicara juga memerlukan hal-hal di luar kemampuan berbahasa dan ilmu pengetahuan. Pada saat berbicara diperlukan antara lain, pertama, penguasaan bahasa. Kedua, bahasa. Ketiga, keberanian dan ketenangan. Keempat, kesanggupan menyampaikan ide dengan lancar dan teratur.

Faktor penunjang pada kegiatan berbicara sebagai berikut. Faktor kebahasaan, meliputi ketepatan ucapan, penempatan tekanan nada, sendi atau durasi yang sesuai, pilihan kata, ketepatan penggunaan kalimat serta tata bahasanya, ketepatan sasaran pembicaraan.

Sedangkan tahapan-tahapan pembelajaran bercerita adalah, pertama, menjalin interaksi dengan siswa, guru mengarahkan siswa pada situasi siap memasuki kegiatan pembelajaran. Contohnya, tanya jawab singkat mengenai cerita-cerita yang pernah didengar atau dibaca siswa. Kedua, membentuk formasi kelas.

Dalam pembelajaran bercerita, disarankan formasi kelas berbentuk melingkar. Dalam lingkaran itu, guru sebagai pencerita mengambil posisi di tengah lingkaran atau di tengah-tengah para siswa. Ketiga, pemberian instruksi. Setelah semua siswa duduk dalam formasi melingkar, guru memberikan beberapa petunjuk.

Keempat, perubahan formasi kelas. Setelah tugas individu diperkirakan selesai dikerjakan oleh siswa selama 10 menit, langkah berikutnya adalah 1) mengubah formasi kelas dari formasi melingkar menjadi formasi duduk berkelompok. 2) Presentasi hasil kerja kelompok (dapat berupa menempelkan hasil kerja kelompok pada dinding kelas atau pada papan tulis, dan seorang siswa mewakili kelompoknya mempresentasikan hasil kerja kelompok yang sudah ditempelkan).

Baca juga:   Pembelajaran Seni Tari Tradisional untuk Pendidikan Karakter Siswa

Kelima, penulisan refleksi pembelajaran. Yaitu dengan meminta semua siswa menulis refleksi terhadap pembelajaran sebagai salah satu dokumen portofolio. Dan minta salah seorang siswa membacakan refleksinya dan berilah komentar.

Setiap kegiatan pembelajaran diharapkan dapat mencapai target hasil belajar tertentu. Salah satu target hasil belajar yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran berbicara di SD adalah siswa. Keterampilan berbicara harus dikuasai oleh para siswa SD Kajongan, karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. (ct2/ida)

Guru SDN Kajongan, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan

Populer

Lainnya