Belajar Tata Tertib dan Aturan Mudah dengan Metode Think Pair Share

Oleh : Indiastuti S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN yang menarik dan menyenangkan menjadi kunci utama keberhasilan di tingkat sekolah dasar (SD). Ini karena psikologi siswa SD lebih menyukai hal–hal yang bersifat permainan. Meski pada praktiknya di lapangan masih ditemukan siswa di kelas II SD Negeri 01 Bulaksari yang asyik bermain sendiri dan tidak fokus pada pembelajaran. Hal ini mendorong penulis untuk menerapkan metode Think Pair Share (TPS) sebagai solusi. Terutama pada materi Tata Tertib dan Aturan.

Materi pembelajaran tata tertib dan aturan ini memiliki kompetensi dasar pada ranah pengetahuan memahami tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah. Pada ranah keterampilan melaksanakan tata tertib dan aturan di lingkungan keluarga dan sekolah. Indikator capaian belajar siswa, mampu mengidentifikasi tata tertib dan aturan yang berlaku di dalam kehidupan sehari–hari serta mampu mempraktikkan tata tertib dan aturan di lingkungan keluarga dan sekolah.

Metode TPS menurut Trianto (2010:81) adalah Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa.

Baca juga:   Civic Education dalam Penerapkan Tata Upacara

Sedangkan menurut Suyatno (2009:54) mengatakan bahwa TPS adalah model pembelajaran kooperatif yang memiliki prosedur ditetapkan secara eksplisit memberikan waktu lebih banyak kepada siswa untuk memikirkan secara mendalam tentang apa yang dijelaskan atau dialami (berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain).

Pembelajaran kooperatif TPS dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.

Langkah–langkah penerapan model pembelajaran TPS pada materi tata tertib dan aturan kelas II SD sebagai berikut, pertama, guru melakukan apersepsi dan memberikan motivasi pembelajaran. Pemberian motivasi berkaitan dengan materi tata tertib dan aturan. Kemudian, guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai. Lalu guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait tata tertib dan aturan di lingkungan rumah dan sekolah. Setelah itu, siswa diberikan waktu satu menit untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut. Selanjutnya, guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Kemudian guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan siswa kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Terakhir, guru melakukan evaluasi dan melakukan refleksi pembelajaran bersama siswa. Untuk mengukur keberhasilan penerapan metode dan mengetahui kekurangan pada penerapan metode tersebut sebagai perbaikan pada pembelajaran selanjutnya.

Baca juga:   Pembelajaran Daring Selama Pandemi dengan Google Suite for Education

Model pembelajaran tipe TPS ini memiliki beberapa keuntungan. Berdasarkan pemantauan penulis, siswa mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselengarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Dapat memberikan siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling bantu. Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian singkat atau siswa membaca tugas dan dapat memberikan situasi pembelajaran yang menyenangkan. Walaupun kelemahannya, bila jumlah siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok, karena akan ada satu siswa yang tidak mempunyai pasangan. Jika terdapat perselisihan, maka tidak ada penengah. Selain itu, jumlah kelompok yang terbentuk banyak. Maka diperlukan kejelian penulis agar penerapan metode ini bisa berjalan secara maksimal. (ti4/ida)

Guru SD Negeri 01 Bulaksari

Populer

Lainnya