Membangkitkan Gairah Pembelajaran IPS melalui metode Bermain Peran

Oleh : Drs Suyono Bonifasius

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran saat ini telah mengalami perubahan. Kalau zaman dahulu teknik pembelajaran selalu diungkapkan dengan lisan dan fakta-fakta disajikan dalam bentuk informasi verbal. Sekarang siswa dituntut untuk melihat, meraba, dan merasakan dengan panca indranya.

Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar, namun dengan mengamati bahkan memperagakan. Jadi pembelajaran telah berubah dari verbalisme menuju keterampilan aplikatif.
Dengan kata lain tenaga pendidikan sekarang ini harus menguasai berbagai strategi pembelajaran, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. Salah satu strategi yang harus dikuasai tenaga pendidikan adalah teknik penyajian, atau biasa disebut metode pengajaran. Metode ini sangat berkaitan dengan pemilihan jalan, dan arah atau pola dalam berbuat sesuatu untuk mencapai suatu tujuan.

Pemilihan metode pengajaran harus disesuaikan dengan meteri yang akan disampaikan. Maka untuk menghindari kejenuhan siswa dalam proses belajar mengajar berkaitan dalam materi peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di kelas IX SMP Negeri 2 Sawangan, metode yang tepat adalah metode bermain peran.

Menurut Lilis Suryani (2008 : 109) bermain peran adalah memerankan karakter/tingkah laku dalam pengulangan kejadian yang diulang kembali, kejadian masa depan, kejadian yang masa kini yang penting, atau situasi imajinatif.

Baca juga:   PHT Ketrampilan Merangsang Ekonomi Kreatif

Anak-anak pemeran mencoba menjadi orang lain dengan memahami peran untuk menghayati tokoh yang diperankan sesuai karakter dan motivasi yang dibentuk pada tokoh yang telah ditentukan.
Bermain peran dilakukan dengan melibatkan siswa untuk memerankan suatu karakter dalam situasi tertentu. Dengan metode ini, disamping dapat memberikan tantangan kepada siswa untuk bereksplorasi dalam mengembangkan kecakapan berfikirnya juga dapat diaplikasikan dalam penghayatan terhadap karakter yang diperankannya.

Tenaga pendidik sebelum memberikan tugas berkaitan dengan teknik pengajaran bermain peran, terlebih dahulu menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dalam aktivitas pembelajaran tersebut. Selanjutnya langkah-langkah yang harus dilalui dalam metode ini adalah sebagai berikut: tahap pertama pembentukan kelompok belajar. Dalam kelompok ini siswa diberi tugas untuk menyusun naskah drama yang dimulai sejak jatuhnya bom atom kedua di Nagasaki tanggal 9 Agustus 1945 sampai berakhirnya pembacaan teks proklamasi kemerdekaan. Sekaligus membagi tugas sesuai peran yang akan dimainkan.

Tahap kedua guru menunjuk kelompok belajar untuk memperagakan sebuah drama proklamasi kemerdekaan secara bergantian. Sedangkan kelompok belajar yang lain diminta membuat kesimpulan berlandaskan skenario yang telah dimainkan oleh kelompok belajar lain. Pada tahap akhir guru memberikan kesimpulan dalam bentuk catatan refleksi berdasarkan pengamatan yang diambil dari proses pembelajaran.
Dengan bermain drama tidak saja dibangun nilai-nilai sosial seperti terjadinya interaksi sosial, kerja sama, dan komunikasi, tetapi juga munculnya introspeksi diri dalam menghayati tiruan dalam bermain drama. Kelompok juga dituntut untuk bisa mengatasi pemasalahan bersama. Begitu juga dengan siswa diminta untuk menyampaikan pandangan-pandangan berkaitan dengan teknik pembelajaran yang cukup meriah ini.

Baca juga:   Tuntaskan Materi Pemanfaatan Perangkat Lunak Pengolah Angka dengan Jigsaw

Siswa ternyata dapat memperoleh manfaat yang banyak. Seperti keterampilan menguasai konsep intelektual, sosial, dan motorik dalam bidang yang dipelajarinya. Jadi pembelajaran IPS yang selama ini kurang diminati dan dianggap sebagai mata pelajaran hafalan yang membosankan adalah salah. Gairah dan tumbuhnya motivasi belajar untuk memahami sebuah materi pembelajaran tergantung dari strategi pembelajaran yang diterapkan. (*/lis)

Guru IPS SMPN 2 Sawangan, Kabupaten Magelang.

Populer

Lainnya