Pembelajaran Menggugah dan Menggairahkan di Masa Pandemi

Oleh : Marlinah, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, KUNCI keberhasilan suatu pembelajaran, baik secara klasikal maupun dengan metode daring, terletak pada strategi yang diterapkan seorang guru. Walaupun tidak mutlak, setidaknya bila guru mampu menerapkan startegi pembelajaran yang sesuai, siswa tetap tergugah dan bergairah belajar dari rumah.

Gembira dan menyenangkan. Kata itulah yang terpenting dalam dunia pendidikan terutama di tingkat sekolah dasar. Faktor kegembiraan adalah alat bagi guru untuk meningkatkan pencapaian belajar. Belajar dengan metode daring dengan didampingi orang tua sambil bermain di rumah dapat melahirkan kegembiraan. Kita ingat embali konsep belajar Ki Hajar Dewantara yang menganjurkan agar mengajarkan apa pun kepada anak didik dengan cara bermain agar tercipta suasana gembira.

Realita di lapangan, segudang masalah muncul dan dikeluhkan orang tua siswa. Tidak hanya orang tua, sejumlah siswa pun mengeluh beratnya penugasan dari guru yang harus dikerjakan dengan tenggat yang sempit. Meskipun tak terpublikasi, guru pun mungkin mengeluh kehabisan gaya untuk tampil di depan siswanya secara virtual, tidak terkecuali di SDN 04 Jrakah Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, tempat penulis berdinas.

Kegembiraan merupakan strategi belajar yang murah karena tidak memerlukan biaya. Ia harus diletakkan pada urutan pertama. Beberapa alternatif atau strategi harus dilakukan oleh seorang guru. Bermainlah dengan murid-murid! Itulah yang disarankan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita. Dalam pandangan filsuf Jerman terkemuka, Hans-Georg Gadamer (1902 – 2002), konsep “bermain” (spiel) memiliki bobot ontologis yang mendalam, bukan hanya instrumentalis, melainkan epistemologis. Bermain dan Serius, dalam wawasannya, keliru jika dipahami sebagai main-main belaka. Bermain mempunyai relasi khusus dengan keseriusan. Keseriusanlah yang memberi ’tujuan’ pada bermain. Keseriusan bukanlah sesuatu yang menjauhkan kita dari bermain; melainkan sebaliknya, keseriusan dalam bermain adalah hal yang niscaya untuk membuat bermain menjadi sungguhan.” (Gadamer, 1989: 102 – 106 dalam Putranto, 2010: 59) mengemukakan bahwa bermain salah satu metode hibur adalah wujud usaha kreatif dalam pengembangan kualitas pembelajaran mata pelajaran apapun, contohnya pembelajaran Bahasa Indonesia.

Baca juga:   Meningkatkan Pembelajaran Sistem Gerak Manusia dengan Mengenal Rangka Tubuh Siswa

Alasan pentingnya metode hibur pada pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu pertama, bahasa Indonesia seringkali disepelekan oleh orang lain sehingga menjadi mata pelajaran yang kurang menarik. Metode hibur hadir untuk menjawab permasalahan tersebut. Setiap orang tanpa kecuali menyukai hiburan. Dengan metode hibur, pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi pembelajaran menarik.

Kedua, tanpa terasa siswa sudah belajar secara mandiri dan efektif. Pembelajaran Bahasa Indonesia akan menjadi pembelajaraan yang menyenangkan, santai tapi serius, serius tapi santai, seperti sudah disarikan Gadamer. Ketiga, proses belajar mengajar yang baik adalah proses yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran (student-centered learning). Melalui metode hibur siswa tanpa terasa terlibat aktif, bersemangat belajar, dan menjadi pusat pembelajaran di tengah rangkaian proses belajar mengajar. Tugas guru adalah mengarahkan siswa agar tetap berada dalam koridor capaian pembelajaran. Keempat, metode hibur penting bagi pembelajaran Bahasa Indonesia karena adanya proses katarsis yang dipahami secara luas sebagai proses penyucian dan penyegaran. Dengan metode hibur, setelah keluar dari pintu kelas atau tinggalkan forum/ kelas daring, siswa akan memiliki pengetahuan dan pengalaman baru yang berkesan tentang penyadaran diri untuk peduli, cinta, dan bangga pada bahasa Indonesia.

Baca juga:   Model Two Stay Two Stray Dapat Meningkatkan Hasil Belajar

Seorang guru yang menggugah dan menggairahkan muridnya haruslah menawarkan pilihan. Pertama, seorang guru sebaiknya menawarkan pilihan berupa tugas-tugas yang disesuaikan dengan minat siswa sebelum pembelajaran daring dilaksanakan.

Kedua, membuat rencana bersama siswa. Perencanaan arah dan proses pembelajaran, tidak semata-mata tanggung jawab guru, tetapi juga siswa, diketahui oleh orang tua. Dengan demikian, melalui perencanaan bersama ini dapat sekaligus menjadi ajang pengembangan potensi atau bakat siswa.

Ketiga, memanfaatkan teknologi. Selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ini, beberapa aplikasi mengajar secara daring dapat digunakan seperti Google Classroom, Microsoft Team, dan Zoom Meeting.

Kesimpulannya, kunci keberhasilan pembelajaran yang menggugah dan menggairahkan siswa, baik dengan memanfaatkan teknologi internet ataupun secara konvensional, berada di tangan seorang guru dengan dukungan berbagai pihak yang terkait. (pg1/zal)

Guru SDN 04 Jrakah, Pemalang

Populer

Lainnya