Tingkatkan Konsentrasi Belajar Peserta Didik dengan Lari yang Efektif

Oleh : Sumarjana S.Pd.Jas

spot_img

RADARSEMRANG.ID, LARI merupakan olahraga yang paling tua di muka bumi. Adanya peradaban Yunani dan Romawi kuno mengangkat lari sebagai salah satu prosesi upacara dalam menyembah dewa. Terlihat pada proses pemujuaan dewa selalu berlari-lari kecil mengelilingi sesuatu yang dianggap sakral. Lari tercatat sebagai olahraga yang mudah dan murah, tidak memerlukan alat atau sarana yang wajib ada. Selain itu, lari juga merupakan olahraga yang fleksibel dalam arti dapat dilakukan dimanapun, kapanpun dan oleh siapapaun.

Dewasa ini cabang lari sudah menjadi kebutuhan hidup, untuk menjaga tubuh tetap bugar, sehingga rutinitas sehari-hari tetap berjalan optimal. Selain itu, ada juga yang menjadikan lari sebagai media rekreatif menghilangkan kepenatan. Bahkan tidak jarang lari dijadikan media berinteraksi, sehingga muncullah komunitas-komunitas lari sebagai wujud eksistensi pencinta lari. Hal ini dipicu juga manfaat yang dirasakan setelah menekuni olahraga lari ini.

Berbicara tentang olahraga lari tidak akan lepas dari kemampuan kardiovaskuler, atau kemampauan paru-paru mengolah Oksigen menjadi pembakar energi. Tingkat keterlatihan lari seseorang terimplementasi pada denyut nadi per menit, semakin terampil seseorang mengusai teknik berlari akan semakin rendah repetisi denyut nadi permenit. Hal ini karena volume jantung semakin luas dan otot jantung relatif lebih kuat. Selain itu orang yang gemar melakukan lari memiliki fleksibilitas yang baik serta meningkatnya fungsi organ-organ manusia.

Baca juga:   Google Form Jadi Solusi Buat Soal Ulangan Daring

Dengan meningkatnya fungsi organ, maka fokus atau konsentrasi belajar seseorang akan meningkatkan juga. Hal ini bisa dideskripsikan secara terperinci yaitu dapat dicontohkan dengan meningkatnya organ Jantung, maka suplay darah ke otak tercukupi dan otak bekerja lebih optimal sehingga belajar relatif fokus dan konsentrasi.

Di masa pandemi ini cabang olahraga lari bisa dijadikan sebagai salah satu solusi untuk tetap berolahraga, mengingat lari dilakukan dengan sendiri-sendiri tanpa berkerumun, sehingga tidak bertentangan protokol kesehatan. Manfaat lain yang didapat dari lari adalah, jika dilakukan saat matahari terik dapat bersenergi dengan pencegahan penularan Covid-19. Berolahraga dengan terkena langsung sinar matahari akan meningkatkan kekebalan atau imun.

Saat ini seluruh instansi pendidikan memberlakukan PJJ, seperti halnya di SMA Negeri 1 Jetis. Hal ini menuntut guru dan siswa untuk lebih lama duduk sibuk dengan gadget, smarphone atau dengan laptop. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap kondisi kebugaran guru dan siswa SMA Negeri 1 Jetis, bisa dikatakan akan memperburuk derajat kebugaran pelaku pendidikan, karena tututan keadaan. Keadaan yang seperti ini akan tambah parah jika berlangsung lama. Untuk mensikapi keadaan di atas SMA Negeri 1 Jetis membuat program Jumat Sehat, yaitu kegiatan jalan sehat atau kegiatan yang lainnya. Hai ini dilakukan dengan harapan dapat menumbuhkan sikap gemar berolahraga khususnya lari bagi guru dan siswa.

Baca juga:   Model Sole untuk Melatih Kemandirian Siswa dalam Belajar Redoks dan Elektrokimia

Maka dengan kondisi yang seperti sekarang ini seluruh warga SMA Negeri 1 Jetis harus bijaksana dalam mensikapi keadaan, jawaban yang tepat adalah berolahraga, dan olahraga yang aman dan tidak berisiko terhadap penularan Covid-19 adalah bersifat individu dan tidak menimbulkan kerumunan sehingga angka terpapar atau tertuar sangat kecil. Lari adalah cara aman, sehat dalam menjaga kebugaran dengan resiko kecil terpapar Covid-19.

Aktivitas lari dapat meningkatkan kinerja dan fungsi organ dilakukan dengan sekurang-kurangnya 3 kali dalam seminggu dengan lama aktivitas sekitar 30 s/d 40 menit. Bagi seseorang yang sudah terbiasa menekuni aktivitas lari bisa setiap hari dengan lama aktivitas maximal 60 menit. (pg1/ida)

Guru SMA Negeri 1 Jetis

Populer

Lainnya