Ajak Siswa Berpikir Kritis dengan Metode Example Non Example

spot_img

RADARSEMARANG.ID, GURU mempunyai tugas utama yaitu mencerdaskan anak bangsa, baik guru TK, SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi dengan caranya mereka masing-masing sesuai dengan tingkatannya. Namun guru SD adalah guru kelas, bukan guru mata pelajaran yang harus membagi perhatian pada semua mata pelajaran. Akibatnya, guru tidak bisa fokus pada satu bidang.

Karena itu, guru dituntut menggunakan metode pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa. Penulis menerapkan metode examples non example yaitu metode yang menggunakan media gambar dalam penyampaian pembelajaran. Penulis mengajak siswa berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang terkandung dalam contoh gambar-gambar yang disajikan melalui OHP, proyektor, ataupun yang paling sederhana adalah poster.

Menurut Buehl (1996), keuntungan dari metode example non example salah satunya adalah siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek.
Dengan media gambar yang tersaji, akan dianalisis oleh peserta didik menjadi sebuah bentuk deskripsi singkat mengenai apa yang ada di dalam gambar. Media gambar dapat diperoleh guru dari berbagai macam sumber seperti surat kabar, majalah, atau membuat sendiri melalui power point dan lain sebagainya dengan disesuaikan dengan pembelajaran pada saat itu. Sebaiknya untuk menjalankan metode examples non examples alangkah baiknya dengan membagi siswa dengan kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-6 anak untuk mempermudah mereka melakukan pengamatan, berdiskusi, berpikir, menganalisis, dan memecahkan masalah yang ada. Melalui gambar-gambar ini, siswa dengan kelompoknya masing-masing mulai berpikir menganalisa gambar satu per satu secara berurutan dan melihat segala permasalahan yang muncul.

Baca juga:   UKK di Masa Pandemi

Dari hasil ini, dikembangkan lagi dengan mencoba mendeskripsikan semua penemuan selama proses kegiatan berlangsung. Pada akhir kegiatan, setiap kelompok menyampaikan hasil kerjanya melalui presentasi. Dalam presentasipun, mereka akan dihadapkan pada proses berpikir lagi manakala dari kelompok lain memiliki hasil penemuan yang berbeda. Antarkelompok akan saling berinteraksi, disini akan tercipta suatu kondisi yang aktif, namun kondusif. Aktif disini artinya bahwa dalam semua kegiatan dari awal sampai akhir, tidak ada siswa yang berpangku tangan, acuh tak acuh, berkeliaran, ramai dan sebagainya, mereka fokus pada kegiatan yang dilakukan.

Kondusif artinya pembelajaran berlangsung dengan nyaman, menarik, terarah, guru mampu membawa siswa untuk berkompetisi yang sehat melalui deskripsi yang mereka sampaikan tanpa adanya masalah dan mampu menyimpulkannya dengan memberikan contoh deskripsi akhir yang sebaik-baiknya dan dapat diterima anak didiknya dengan baik. Anak merasa lebih nyaman, lebih tertarik dan dapat mengurangi kejenuhan dalam pembelajaran. Yang perlu digarisbawahi dalam penerapan mertode ini, guru harus menyiapkan media gambar dari sumber yang jelas. Gambar diusahakan menarik perhatian anak. Jangan sampai gambar tidak jelas, gambar harus jelas, dalam arti apabila gambar dipasang di depan kelas semua anak dapat melihatnya, baik yang duduk di depan ataupun belakang.

Baca juga:   Wallikut Potret Akhir Cara Mudah Menghitung HPP

Semoga dengan menggunakan metode ini, guru akan semakin kreatif dan inovatif, sehingga tugasnya akan lebih mudah dan ringan dalam mewujudkan anak didik yang cerdas, kreatif, kompetitif, dan produktif. Selain itu, mampu menyelesaikan segala masalah dengan baik dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. (pg1/ida)

Guru SD Negeri 04 Asemdoyong, Kabupaten Pemalang

Populer

Lainnya