Time Token, Tingkatkan Hasil Prestasi Belajar Bahasa Indonesia

Oleh : Musarofah, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sepanjang hayat. Belajar akan lebih bersemangat apabila didasari oleh perasaan yang gembira dan tidak terpaksa. Salah satu kegiatan belajar yang dilakukan sejak dini yaitu belajar berbicara. Apabila keterampilan berbicara tidak dilatih sejak dini maka tingkat keterampilan berbicara seseorangpun tidak maksimal.

Pada Sekolah Dasar Negeri 06 Purwoharjo Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang kelas VI tahun pelajaran 2020/2021 semester I pada KD 3.1 yaitu Menyimpulkan Informasi Berdasarkan Teks Laporan Hasil Pengamatan Yang Didengar dan Dibaca masih ada beberapa peserta didik yang masih enggan menyampaikan gagasannya melalui bahasa verbal atau ucapan.

Mereka cenderung lebih memilih mengungkapkan gagasannya melaui tulisan. Tentu saja hal ini akan menjadi masalah yang cukup berarti pada muatan pelajaran bahasa Indonesia.

Pada muatan pelajaran bahasa Indonesia di bagi menjadi empat jenis keterampilan yaitu keterampilan membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan. Keempat keterampilan ini saling berkaitan satu sama lain. Dalam satu kelas pada saat pembagian kelompok pada kegiatan belajar mengajar (KBM) ada beberapa siswa yang aktif menyampaikan gagasan/pendapat/menjawab pertanyaan dari guru, namun ada juga siswa yang pasif hanya mendengarkan teman kelompoknya saja.

Ketidakaktifan peserta didik bisa disebabkan kurangnya percaya diri, bisa juga karena minim kosakata yang dimiliki. Hal ini dapat mempengaruhi nilai bahasa Indonesia dari aspek pengetahuan maupun pada aspek keterampilan berbicara.

Baca juga:   Upaya Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan Berbuah Penghargaan Adiwiyata

Model pembelajaran time token menjadi salah satu alternatif cara yang dipilih oleh guru pada muatan pelajaran bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara.

Menurut Huda (2013:239) model pembelajaran time token merupakan model pembelajaran yang bertujuan agar masing-masing anggota kelompok diskusi mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusinya dalam menyampaikan pendapat mereka dan mendengarkan pandangan serta pemikiran anggota lain.

Adapun langkah-langkah model pembelajaran Time Token yaitu pertama guru menjelaskantujuan pembelajaran/ KD, kedua guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi kelompok. Ketiga guru memberikan tugas kepada masing-masing siswa. Keempat guru memberikan kupon berbicara dengan waktu kurang lebih 30 detik per siswa, dan yang terakhir guru menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara. Satu kupon digunakan untuk satu kali tampil berbicara. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Hal ini dilakukan terus sampai kupon yang dipegang siswa habis.

Model pembelajaran time token mempunyai kelebihan dan kekurangan, adapun kelebihannya antara lain yang pertama mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya. Kedua siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali.

Baca juga:   Media Pembelajaran Berbantu Video Tingkatkan Hasil Belajar Materi Perangkat Keras Komputer

Ketiga siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dan menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi dan memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik. Sedangkan kekurangannya, hanya dapat digunakan pada mata pelajaran tertentu saja, tidak dapat digunakan pada kelas yang jumlah siswanya banyak.

Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan pada proses pembelajaran karena semua siswa harus berbicara satu per satu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya.

Model pembelajaran time token bisa menjadikan solusi bagi penulis di SDN 06 Purwoharjo dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena dengan model pembelajaran ini sedikit demi sedikit kemampuan berbicara peserta didik terasah. Tidak ada peserta didik yang mendominasi pembicaraan maupun yang pasif pada kegiatan diskusi kelompok yang diaplikasikan dengan gagasan maupun menjawab pertanyaan guru semakin meningkat.

Bukti lain juga bisa dilihat dari nilai Kompetensi Inti (KI 3) menjadi meningkat dengan rata-rata nilai pengetahuan di atas KKM dan semakin banyaknya peserta didik yang mampu menyampaikan gagasannya melalaui bahasa verbal serta nilai dari kompetensi inti (KI 4)/keterampilan juga meningkat secara signifikan. (ti1/lis)

Guru Kelas SDN 06 Purwoharjo, Kec. Comal, Kabupaten Pemalang

Populer

Lainnya