Mengatasi Kesulitan Penguasaan Pragmatik Bahasa Jawa dengan Teknik Komunikasi Praktis

Oleh : Endang Sri Umarmi

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Keberadaan bahasa dan sastra Jawa semakin mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh gejala sosial yang semakin berkembang di masyarakat. Kekhawatiran tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi asalkan kita telah melakukan suatu pembinaan, pemeliharaan, dan pengembangan terhadap Bahasa Jawa. Namun usaha untuk melakukan pembinaan Bahasa Jawa tidak semudah seperti yang kita harapkan. Terkadang kita menghadapi masalah yang sulit untuk dipecahkan. Masalah tersebut biasanya berkaitan dengan penggunakan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, Masyarakat tidak selalu memberi contoh secara benar dalam hal tingkat tutur berbahasa Jawa.

Siswa sering menggunakan kosa kata yang seharusnya untuk lawan bicara tetapi diterapkan untuk diri sendiri, demikian pula sebaliknya. Siswa merasa sulit menerapkan kata-kata secara tertulis maupun lisan. Hal tersebut dapat dilihat apabila berbicara, unggah-ugguh serta tata bahasanya kurang tepat Masalah-masalah tersebut di atas salah satu penyebabnya adalah siswa kurang menguasai pragmatik dalam berbahasa. Adapun keterampilan berpragmatik adalah keterampilan menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah-kaidah pragmatik bahasa (Suyono.191:1-2). Banyak para siswa yang kesulitan dalam mempelajari dan menerapkan keterampilan pragmatik dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:   Pemanfaatan WhatsAuto untuk Penilaian Harian Matematika selama PJJ

Hambatan-hambatan siswa dalam penguasaan pragmatik bahasa Jawa mulanya berasal dari kesalahan-kesalahan, antara lain: kesalahan penggunakan konteks kalimat yang tidak baku, kesalahan yang sulit diberantas karena sudah mendarah daging, kesalahan akibat penggunakan kosa kata bahasa Jawa yang tercampur dengan kosakata bahasa Indonesia, kesalahan penggunakan ejaan, kesalahan pengunakan morfologis, kesalahan pengunakan sintaksis. Kesalahan-kesalahan tersebut sebenarnya dapat diatasi yaitu agar kita terampil berpragmatik kita harus memperhatikan aspek-aspek dalam berkomunikasi antara lain: bentuk bahasa yang kita pakai harus sesuai dengan struktur tata bahasa Jawa, unggah-ungguh bahasa harus selaras dengan situasi komunikasi dan tujuan komunikasi sehingga tidak menimbulkan salah tafsir, dalam berbahasa baik lisan maupun tulisan secara wajar dan komunikatif.

Agar para siswa mampu berkomunikasi dengan terampil dan berbahasa yang baik dan benar, maka para guru dapat memberikan latihan yang cukup berupa komunikasi yang bersifat praktis. Misalnya siswa diberi tugas bersosio drama dengan tema: cara bertamu dan menerima tamu, dari member salam sampai menjawab salam, saling menanyakan kabar, ucapan terima kasih dan minta maaf. Kemudian kalau sudah selesai bagaimana cara berpamitan dan mengantarkan tamunya pulang. Apabila siswa banyak berlatih dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari maka siswa akan terampil dalam berbahasa Jawa yang baik dan benar. Kuncinya adalah berlatih, berlatih dan terus berlatih.

Baca juga:   Efektifitas Pembelajaran Seni Tari dengan Metode STUFEX

Dengan demikian kita tidak perlu khawatir terhadap kelangsungan Bahasa Jawa. Biar orang mengatakan Bahasa Jawa hidup segan mati tak mau, Bahasa Jawa tertinggal Zaman atau apalah itu, yang jelas suatu bahasa akan hilang jika masyarakat pendukungnya telah tiada atau dengan kata lain bahasa tidak akan punah selama penuturnya masih menggunakan dan menghormatinya sebagai kekayaan batinnya. (ti1/ton)

Guru Bahasa Jawa SMP 1 Kesesi, Kabupaten Pekalongan

Populer

Lainnya