Tingkatkan Pemahaman Konsep IPS dengan Model CA

Oleh: Suprapti, S.Pd.,M.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MATA pelajaran IPS dikenal sebagai ilmu yang sarat dengan hafalan dan pengetahuannya yang luas. Tidak mengherankan jika banyak peserta didik yang sering bosan dan tidak memahami konsep IPS secara benar. Padahal tujuan mata pelajaran IPS dirancang agar peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat yang kini semakin dinamis. Tentu saja dengan fenomena tersebut, tujuan pembelajaran IPS tidak akan pernah terwujud.

Permasalahan di atas juga terjadi dalam proses pembelajaran IPS di SMP Negeri 3 Suruh. Pengetahuan peserta didik sekedar hafalan saja. Pada saat guru selesai menjelaskan dan memberikan umpan balik berupa pertanyaan, maka hanya sedikit orang yang mampu menjawab dengan benar. Lainnya hanya diam dan tidak tahu. Selain itu dari unsur guru sendiri kurang membiasakan peserta didik untuk membangun konsep atau pengertian sendiri, melainkan cenderung mengambil konsep konsep yang telah disediakan langsung melalui literatur dari buku paket atau buku modul yang tersedia. Akibatnya mereka hanya bisa menghafal dari konsep-konsep IPS yang telah ada. Biasanya hafalan ini bersifat sementara. Kreatifitas dalam membangun kalimat sendiri untuk membentuk sebuah konsep sama sekali belum pernah muncul.

Baca juga:   Mencermati Kesulitan Siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan pemahaman konsep IPS peserta didik adalah dengan menerapkan model CA. Menurut Widarwati (2005 ) model CA atau Concept Attainment atau pemahaman konsep adalah model pembelajaran yang didesain agar peserta didik mampu mengklarifikasi ide-ide untuk mencermati aspek-aspek dari suatu konsep. Langkah-langkah pembelajaran CA ada 3 (tiga) tahap. Pertama:Penyajian data dan identifikasi konsep. Kedua: Menguji pencapaian dari suatu konsep, dan ketiga: Analisis strategi berpikir.
Dalam kegiatan pertama, guru mempresentasikan contoh-contoh yang sudah diberi nama atau dilabeli, kemudian guru meminta peserta didik untuk menafsir contoh-contoh yang sesuai menurut atribut esensi contoh tersebut. Peserta didik akan membandingkan contoh-contoh positif dan ccontoh-contoh negatif. Contoh positif sebaiknya akan dianalisis peserta didik karena mengarah pada kebenaran konsep dan contoh negatif akan dibuang.

Dalam kegiatan kedua, guru meminta peserta didik untuk mendefinisikan sebuah konsep dari contoh-contoh positif yang telah teridentifikasikan pada langkah pertama. Jika perlu guru meminta peserta didik menambah contoh-contoh tambahan. Peserta didik dibimbing untuk memberi nama konsep. Guru mengkonfirmasikan hipotesis, nama konsep, dan menyatakan kembali definisi menurut atribut esensinya. Sedangkan dalam kegiatan ketiga, peserta didik belajar menguraikan pemikirannya sendiri, dan mendiskusikan hasil pemikirannya dengan guru. Peran guru hanya bertugas memancing ide dan pemikiran kreatifitas dari peserta didik untuk menjadikan segala pemahaman dari lingkungannya dalam rangka menemukan konsep yang dikandung dari sebuah obyek.

Baca juga:   Efektivitas Latihan Paduan Suara dengan Metode Rekaman

Penerapan model CA dalam pembelajaran IPS ini sangat relevan diterapkan untuk semua umur dan semua tingkatan kelas. Bagi anak-anak tentu konsep dan contohnya harus lebih sederhana dibandingkan untuk anak tingkatan kelas yang lebih tinggi. Model ini sangat efektif untuk mengukur pemahaman, aktifitas, dan sekaligus hasil belajar peserta didik. Keuntungan penerapan model CA ini, guru akan mendapatkan peserta didik yang berani mengemukakan pendapat, dan memacu peserta didik untuk mendapatkan pemahaman konsep yang lebih mendalam serta tersimpan lama dalam ingatan peserta didik. Selamat mencoba. (bw1/zal)

Guru SMPN 3 Suruh, Kabupaten Semarang

Populer

Lainnya