Asyiknya Belajar Unsur Senyawa Campuran dengan Talking Stick

Oleh : Ekawati Rohmani S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah proses pembelajaran yang membosankan dan tak menyenangkan. Karena itulah, sebagai ujung tombak pendidikan, peran tenaga pendidik sangat diharapkan dapat menciptakan pendidikan yang bermutu. Peran guru dalam memberikan ilmu kepada siswa sangat ditunjang oleh kemampuan guru dalam memahami karakter siswa. Adanya perbedaan karakteristik dari masing-masing siswa akan mempengaruhi proses pembelajaran, sehingga hal ini akan menuntut kepiawaian guru dalam memilih model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempunyai andil cukup besar dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Apabila model pembelajaran yang dipilih dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran, maka siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran dan siswa lebih tertarik untuk belajar.

Materi Unsur, Senyawa, dan Campuran, adalah materi yang sangat penting bagi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas 8 dan 9 tingkat SMP. Bagi siswa kelas 7, ini merupakan materi baru sehingga diperlukan model pembelajaran yang tepat supaya siswa paham.

Karena itulah, diperlukan upaya dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satunya dengan mengemas pembelajaran yang inovatif, yang dapat menyediakan situasi belajar secara kondusif dan menyenangkan serta dapat membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar. Salah satu pembelajaran yang relevan untuk hal tersebut adalah pembelajaran yang menggunakan model kooperatif tipe Talking Stick.

Baca juga:   Media Konkret Maksimalkan Hasil Belajar Debit

Talking Stick merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada penciptaan kondisi dan suasana belajar aktif dari siswa, karena adanya unsur permainan dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran Talking Stick dapat diartikan sebagai model pembelajaran bermain tongkat. Yaitu pembelajaran yang dirancang untuk mengukur tingkat penguasaan materi pelajaran oleh siswa dengan menggunakan media tongkat (Ode, 2010).

Model pembelajaran Talking Stick menggunakan sebuah tongkat sebagai alat penunjuk giliran. Siswa yang mendapat tongkat akan diberikan pertanyaan dan harus menjawabnya. Kemudian secara estafet, tongkat tersebut berpindah ke tangan siswa lainnya secara bergiliran (Widodo, 2009). Model ini memiliki kelebihan, antara lain 1) menguji kesiapan siswa, 2) melatih siswa memahami materi dengan cepat, 3) agar lebih giat belajar, maka belajar dahulu sebelum pelajaran dimulai. Dengan demikian, akan dapat membangkitkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran (Santoso, 2011).
Langkah-langkah pembelajaran Talking Stick menurut Maufur (2009) adalah, a) guru menjelaskan tujuan pembelajaran. b) Guru menyiapkan sebuah tongkat. c) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi tersebut. d) Setelah siswa selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya dan mempersiapkan diri menjawab pertanyaan guru. e) Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. Setelah itu memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tersebut harus menjawabnya maka tongkat diserahkan kepada siswa lain. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. f) Guru memberikan kesimpulan. g) Evaluasi. Dan h) penutup.

Baca juga:   Pembelajaran Mind Mapping Memotivasi Belajar IPA

Metode Talking Stick ini memberikan dampak positif bagi pembelajaran siswa kelas 7 di SMP Negeri 2 Sukorejo Kendal. Hasilnya, siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran serta lebih keberanian dalam menjawab dan berbicara di hadapan orang lain. (bw1/ida)

Guru IPA SMP Negeri 2 Sukorejo, Kabupaten Kendal

Populer

Lainnya