Belajar Menulis Sejarah Lebih Mudah Melalui Wawancara

Oleh : Mufrikati, S.S.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa masa lampau. Bagaimana masa lampau itu dapat diketahui oleh generasi berikutnya? Bisa melalui benda peninggalan, wawancara dengan pelaku dan saksi sejarah, monumen yang didirikan, serta melalui buku hasil karya seseorang. Menceritakan masa lampau melalui tulisan tentu berbeda dengan menceritakan secara lisan. Kesulitan menceritakan secara tertulis banyak dialami siswa terutama tentang tema dan susunan sebuah tulisan.

Menulis artinya menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan, melalui proses menulis seseorang dapat berkomunikasi secara tidak langsung kepada pembaca (Pranoto, 2004; 9). Penulisan sejarah atau historiografi merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan (Dudung Abdurrahman, 1999 : 67). Sedangkan menurut Lexy J. Moleong (1991: 135) wawancara mempunyai arti percakapan dengan tujuan tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh kedua belah pihak atau lebih. Pewawancara mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai menjawab pertanyaan. Peneliti dan responden secara langsung (tatap muka) untuk memperoleh informasi secara lisan dengan mendapatkan data tujuan yang bisa menjelaskan masalah penelitian. Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa menceritakan peristiwa masa lampau berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku sejarah maupun saksi sejarah dalam bentuk tulisan sesuai dengan tahap-tahap penulisan sejarah.

Baca juga:   Ubah Barang Bekas menjadi Karya Seni Artistik

Pada pelajaran Sejarah kelas X Peminatan Ilmu Sosial terdapat materi historiografi/penulisan sejarah. Secara teori siswa sudah hafal tentang tahap-tahap historiografi. Supaya dapat menceritakan peristiwa masa lampau secara tertulis, siswa kelas X SMA Negeri 1 Ambarawa mempraktikkan materi historiografi melalui wawancara dengan pelaku dan saksi sejarah Palagan Ambarawa.

Praktik menulis sejarah ini dilakukan secara berkelompok, setiap kelompok terdiri dari lima orang. Penulisan sejarah ini memerlukan waktu 5 minggu (lima kali pertemuan). Susunan penulisan sejarah meliputi pendahuluan, isi dan penutup. Pada pertemuan pertama, membahas materi tahap-tahap penulisan sejarah dan pembentukan kelompok. Pertemuan kedua, setiap kelompok sudah membawa hasil wawancara dan mulai menulis pendahuIuan. Pertemuan ketiga dan keempat, siswa menulis isi berupa pembahasan tentang kondisi Ambarawa pada awal kemerdekaan dan pertempuran Ambarawa. Siswa menuangkan hasil wawancara dan literatur yang telah dibaca ke dalam sebuah tulisan sejarah. Sebagai tahap akhir, pada pertemuan kelima siswa menulis kesimpulan tentang hasil penelitian.

Pada pembahasan materi ini, guru mengoreksi hasil tulisan siswa setiap pertemuan dengan cara berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Dengan demikian, siswa dengan cepat mengetahui letak kesalahan tulisan dan segera memperbaikinya. Dengan cara pembahasan per bab, siswa akan termotivasi untuk dapat menulis dengan mudah karena tidak terbebani dengan tulisan yang terlalu banyak. Hasilnya dalam setiap pertemuan rata-rata empat kelompok sudah bisa menyelesaikan penulisan sejarah di kelas.

Baca juga:   Pendidikan Karakter di Sekolah dan Pengaruhnya bagi Masyarakat

Melalui wawancara, proses penulisan sejarah menjadi lebih mudah. Selain siswa mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari nara sumber, siswa juga mampu mendalami situasi sosial budaya yang berkembang pada saat itu. Oleh karena itu, metode wawancara ini sangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran penulisan sejarah. Selamat Mencoba! (btj2.1/ton)

Guru Sejarah Indonesia SMA Negeri 1 Ambarawa Kab. Semarang

Populer

Lainnya