Pengalaman Daring Menuju Optimalisasi IT Pembelajaran Pasca Pandemi

Oleh : Siti Nur Indriyati Setiani, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, WACANA pemerintah yang akan membuka kembali sekolah dalam waktu dekat, khususnya pada daerah-daerah yang telah mempunyai peta pendemi kuning menuju hijau membuat kami sebagai guru mulai bersiap untuk kembali pada kondisi pembelajaran ‘normal’. Seperti kita tahu bahwa pada saat pembelajaran daring anak-anak tidak dapat menikmati hak sepenuhnya untuk mendapatkan pendampingan secara langsung dari guru seperti pada saat kondisi ‘normal’ di sekolah. Pendampingan guru hanya bersifat virtual melalui media online seperti google classroom, MS 365, media whats app, dan lain-lain. Ada beberapa keterbatasan yang timbul karena pembelajaran daring dan yang paling terasa adalah tidak adanya proses tatap muka dan pendampingan langsung pada peserta didik.

Anak-anak usia SMP yang sedang memasuki masa pra-remaja arti sebuah pendampingan saat proses belajar adalah hal yang sangat utama, karena tugas perkembangan anak pada usia tersebut belum sempurna terutama pada karakter tanggungjawab dan kemandirian. Guru mempunyai peran yang sangat strategis untuk menumbuhkan karakter tersebut sementara dalam proses pembelajaran daring kita dihadapkan pada kondisi anak harus belajar di rumah dengan kondisi sosial yang tentu saja berbeda dari setiap keluarga. Saat inilah keluarga mempunyai peran utama sebagai “guru” pada saat pembelajaran daring akan tetapi tidak semua keluarga mampu mendampingi anak untuk belajar secara daring di rumah, sehingga pada beberapa anak karakter tanggung jawab dan mandiri tersebut banyak yang “terlepas”. Tantangan tersebut yang saat ini dihadapi guru untuk mengembalikan “kondisi” anak untuk kembali melengkapi tugas pekembangan pada karakter tanggungjawab dan disiplin tersebut.

Baca juga:   Kartu Soal Meningkatkan Hasil Belajar Matematika

Tingkat kedisplinan dan tanggung jawab anak selama pembelajaran daring nampak semakin menurun. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak anak yang tidak absen dalam pembelajaran daring bahkan tidak mengumpulkan tugas. Anak-anak semakin malas mengikuti pembelajaran dan nilai yang diperolehpun masih jauh dari yang diharapkan.Ini yang mendorong saya sebagai guru, merasa harus bertanggung jawab terutama ketika suatu saat pembelajaran tatap muka kembali diadakan setelah masa pandemi. Bagaimana mengembalikan kembali semangat belajar mereka.

Dengan berbekal pengalaman selama mengajar secara daring maka diharapkan dapat mengembalikan karakter anak dan membangkitkan kembali semangat belajar anak dengan hal yang lebih menarik, inovatif, kreatif tentu saja dengan melibatkan anak untuk lebih aktif dengan memanfaatkan IT yang memang telah akrab pada saat pembelajaran daring selama ini.

Ada banyak strategi untuk mengembalikan semangat belajar anak pasca pandemi dan kami akan mencoba salah satunya yaitu dengan tetap memanfaatkan IT, seperti membuat konten-konten atau video yang manarik berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Pemberian tugas pada anak membuat video atau vlog yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari dengan dilengkapi teks atau yang berisi materi tersebut. Diharapkan dengan pemberian tugas tersebut anak secara tidak langsung telah melalui tahapan aspek kognitif yang harus terlampaui. Dengan bentuk penugasan tersebut anak tentu saja harus memahami terlebih dahulu materi sehingga anak mau tidak mau harus membaca materi tersebut dalam buku. Anak-anak diharapkan lebih tertarik dan terlibat aktif dalam pembelajaran tatap muka, sekaligus mereka secara tidak langsung belajar menggunakan aplikasi-aplikasi yang menarik untuk membuat berbagai macam tugas yang diberikan dari guru.

Baca juga:   Jadikan Polisi sebagai Wahana Literasi yang Mengasyikkan

Kemampuan generasi milenial dalam penguasaan IT di era milenial ini sangat pesat perkembangannya, bisa lebih dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran tatap muka. Anak- anak ternyata juga sangat mahir membuat konten video, tiktok, youtube dll. Hal ini bisa kembangkan dan dimanfaatkan dalam pembelajaran tatap muka, pada mata pelajaran IPS, khususnya banyak kompetensi dasar yang penugasannya dapat menggunakan berbagai aplikasi. Misalkan untuk yang berkaitan dengan materi Sejarah, siswa diminta untuk membuat vlog atau konten you tube tentang peninggalan cagar budaya di lingkungan sekitarnya. Konten dapat dibuat semenarik mungkin dengan menggunakan aplikasi yang tersedia.

Diharapkan dengan pemanfaatan IT yang sudah mereka kuasai saat pembelajaran daring di masa pandemi ini dapat lebih memfasilitasi siswa dengan pembelajaran yang lebih menyenangkan, kreatif dan inovatif disaat mereka kembali ke pembelajaran tatap muka setelah pandemi usai. Siswa akan kembali bersemangat dan menunjukkan keaktifan sehingga kegiatan pembelajaran di kelas lebih menarik. Seperti yang diterapkan di SMPN 2 Ungaran. (bw1/zal)

Guru IPS SMPN 2 Ungaran

Populer

Lainnya