Mengenal Satuan Jarak, Waktu dan Kecepatan dengan Model Pembelajaran STAD

Oleh : Wiyono, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Hubungan satuan jarak, waktu dan kecepatan selalu menjadi soal wajib setiap Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Namun tidak semua siswa mampu menghitung dan mengerjakan dengan benar.

Siswa kelas 5 SD Negeri Kaliboyo 01 yang memahami dan mengerti cara mengerjakan hubungan satuan jarak, waktu dan kecepatan hampir semua bisa, tetapi ada juga yang terkendala pada penguasaan operasi hitung dasar perkalian dan pembagian (menghitung perkalian bersusun atau menghitung pembagian bilangan dengan porogapit). Terutama untuk operasi penghitungan bilangan besar.
Sehingga hasil belajar yang diperolehpun tidak memenuhi harapan, walaupun mereka telah mengerti bagaimana langkah-langkah untuk mengerjakannya. Hal inilah yang menjadikan hasil prestasi belajar tidak sesuai harapan. Oleh karena itu, penulis menemukan inovasi model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Divisions) dengan harapan bisa membantu siswa dalam meningkatkan penguasaan terhadap materi perkalian dan pembagian pecahan.

Model pembelajaran STAD (Student Teams-Achievement Divisions) adalah model pembelajaran kooperatif untuk pengelompokkan campuran yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran anggota. Model pembelajaran STAD (Student Teams-Achievement Divisions) mengedepankan proses berpikir siswa untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran matematika, sehingga siswa tidak menggunakan sistem hafalan saja, melainkan memahami konsep dan cara memecahkan permasalahan. Menurut Jean Piaget, proses berpikir berkaitan dengan meta cognition. Meta cognition merupakan keterampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya.

Baca juga:   Belajar Teks Procedure Lebih Menyenangkan melalui Video WhatsApp

Menurut Preisseisen (1985) meta cognition meliputi empat jenis keterampilan, yaitu keterampilan pemecahan masalah (problem solving), keterampilan pengambilan keputusan (decision making), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), keterampilan berpikir kreatif (creative thinking).

Keterampilan-keterampilan di atas saling terkait antara satu dengan yang lainnya, dan sulit untuk membedakannya. Karena keterampilan-keterampilan tersebut terintegrasi. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran STAD berlangsung dengan sistem penugasan kepada siswa. Adapun langkah-langkah pembelajarannya yaitu guru mempresentasikan materi pelajaran, siswa belajar melalui kegiatan kerja dalam tim dengan sumber belajar buku pelajaran untuk menuntaskan materi pelajaran. Siswa mengerjakan kuis secara individual dan tidak boleh bekerja sama, pemberian reward kepada siswa yang berprestasi dan tim yang memperoleh skor tertinggi dalam kuis.

Penggunanaan model pembelajaran STAD mempunyai keuntungan antara lain guru menyajikan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, siswa dapat mengaktualkan kemampuannya melalui perannya dalam kegiatan kelompok, memiliki daya serap yang tinggi, serta guru dapat memperbaiki gaya mengajar yang masih konvensional.

Dengan strategi model pembelajaran STAD, terjadi perubahan signifikan dari mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding). Model pembelajaran ceramah ke pendekatan discovery learning, inductive learning, atau inquiry learning dan terjadi perubahan positivist (behaviorist) ke konstruktivisme. Ditandai dengan perubahan paradigma pembelajaran. Dari paradigma pengetahuan dipindahkan dari otak guru ke otak siswa (knowledge transmitted) ke bentuk interaktif, investigatif, eksploratif, open ended, keterampilan proses, modeling, ataupun pemecahan masalah. (pai1/lis)

Baca juga:   Dengan Rekam Layar Layanan Bimbingan Klasikal Tetap Lancar

Guru SD Negeri Kaliboyo 01, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang

Populer

Lainnya