Asyiknya Belajar Pecahan melalui Whatsapp Group

Oleh : Sugeng Prihastuti S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN Jarak Jauh (PJJ) adalah sebuah solusi dan kebijakan baru pemerintah untuk dunia pendidikan disemua negara, begitu pula negara Indonesia tercinta sedang mengalami masa pandemi Covid-19. Guru harus beradaptasi dengan kebiasaan baru tersebut dan lebih kreatif dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Sehubungan dengan hal di atas, saya menerapkan pembelajaran daring melalui Whatsapp Group (WAG). Kegiatan ini melibatkan guru, orang tua dan murid. Tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi guru, bagaimana guru memahami tingkat kemampuan murid dalam materi yang diberikan dengan pembelajaran daring.

Pada proses pembelajaran daring tentang pecahan yang akan saya berikan pada murid-murid saya adalah sebuah pembelajaran konkret yang dilaksanakan untuk membelajarkan murid yang berkenaan dengan kejadian di rumah. Murid dapat berpikir secara logis mengenai segala sesuatu dan pemahaman dapat diperoleh murid melalui pengalaman melakukan dengan kegiatan learning by doing yaitu belajar dengan jalan melakukan suatu kegiatan. Menggunakan benda-benda konkret sebagai media dalam pembelajaran. Di dalamnya akan muncul proses mengamati, tanya jawab dan praktik. Karena hal ini akan mempermudah pemahaman murid terhadap materi pembelajaran. Untuk itu, diperlukan kegigihan guru dalam mengupayakan pembelajaran ke arah proses belajar yang efektif di saat pandemi Covid-19.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Pengurangan Bilangan dengan Metode Jarimatika

Pembelajaran diawali dengan salam. Guru memberikan motivasi kepada orang tua dan siswa tetap semangat di tengah Covid-19. Menyapa kelas dan melakukan presensi online. Guru mencatat orang tua siswa yang belum hadir di WAG kelas. Sebelum memulai tahap kegiatan inti, guru memberikan motivasi dalam WAG gambar poster untuk pembelajaran.

Tahap proses penyampaian tugas, orang tua mendampingi dan melakukan pembelajaran secara langsung dengan siswa melalui penggunaan media. Media yang guru sarankan adalah yang sudah biasa ditemui dan mudah didapatkan di sekitarnya yaitu tempe/tahu menu makanan sehat lawan Covid-19. Pada saat proses belajar, tugas murid mengamati orang tuanya akan memasak apa, lalu bertanya akan memasak menu apa, kemudian mempraktikkan dengan membantu memasak bersama ibunya. Yang menjadi pengalaman bermakna pemahaman konsep pecahan adalah mengiris tempe/tahu menjadi beberapa bagian yang menunjukkan pecahan ½ atau ¼. Pembelajaran yang diberikan tidak memberikan kesan bahwa murid sedang menyelesaikan tugas tetapi mereka larut dalam proses membantu ibu memasak dan menyenangkan. Ditambahkan lagi dengan suasana tanya jawab yang ringan antara ibu dan anak. Di akhir tugas, peran orang tua adalah mendokumentasikan dengan foto proses pada saat siswa mempraktikkan proses mengiris tempe/tahu menjadi irisan-irisan yang menunjukkan pecahan ½ atau ¼.

Baca juga:   Belajar Kubus dan Balok melalui Kooperatif STAD

Setelah pembelajaran, refleksi dilakukan melalui laporan orang tua dalam WAG. Hal-hal yang direfleksikan meliputi semua laporan hasil pengamatan yang dilakukan oleh orang tua. Refleksi ini bertujuan untuk menemukan kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan dan dalam rangka untuk mencari pemecahan dan penguatan–penguatan terhadap apa yang dipandang lemah dan kurang. Kelemahan atau kekurangan tersebut sebagai masukan untuk diperbaiki dalam pembelajaran berikutnya, sehingga pembelajaran yang dilakukan nanti akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal. (bp2/ida)

Guru SDN Pungangan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan

Populer

Lainnya