Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Metode Role Playing

spot_img

RADARSEMARANG.ID, KEBANYAKAN anak usia sekolah dasar suka dengan permainan. Itulah kodrat sebagai anak-anak. Tantangannya, bagaimana guru mengemas permainan yang disukai siswa menjadi metode pembelajaran yang menarik. Utamanya untuk meningkatkan pemahaman terhadap mata pelajaran matematika. Banyak siswa yang nilai matematikanya rendah, sehingga hal itu menjadi momok pembelajaran.
Umumnya, para guru di sekolah menyajikan pelajaran matematika secara klasikal dengan metode konvensional. Guru mengajar di depan kelas dan menjelaskan materi pelajaran, sementara anak didiknya mendengarkan. Apabila cara menjelaskan pelajaran tidak menarik, anak didik akan mendengarkan sambil terkantuk-kantuk atau sambil bermain-main dengan kotak pensilnya. Yang penting mereka tidak bersuara dan tidak membuat gaduh. Itu tidaklah salah, namun tidak efektif.

Salah satu cara untuk mengefektifkan pembelajaran dan memanfaatkan kegemaran bermain adalah memberikan permainan yang berorisntasi pada materi pembelajaran. Misalnya, menggunakan model role playing.

Model pembelajaran role playing merupakan suatu aktivitas yang dramatik, biasanya ditampilkan oleh sekelompok kecil siswa, bertujuan mengeskploitasi beberapa masalah yang ditemukan untuk melengkapi partisipan dan pengamat dengan pengalaman belajar yang dapat meningkatkan pemahaman mereka (Sharan and Yael, 1976).

Baca juga:   Microsoft Whiteboard, Tingkatkan Aktifitas Siswa Belajar Integral

Model ini sangat cocok digunakan untuk pembelajaranyang menuntut keaktifan siswa. Langkah-langkah role playing yang dapat digunakan dalam matematika cukup banyak. Pertama, masukkan tali ke dalam lingkaran cincin kemudian sambungkan tali menjadi sebuah lingkaran yang besar. Kedua, bentuklah kelompok.

Setiap kelompok terdiri atas enam sampai 10 anak yang duduk berdekatan membuat sebuah lingkaran sebesar lingkaran tali. Ketiga, tiap-tiap anak memegang tali dan anak yang kebetulan memegang cincin, cincinnya tidak boleh diperlihatkan kepada yang lain, tetapi harus ditutup dengan tangan. Keempat, salah seorang dari kelompok tersebut harus berdiri di tengah lingkaran. Kelima, role playing dimulai.

Keenam, anak-anak yang duduk melingkar mulai menyanyikan sebuah lagu yang pendek sambil menggoyang-goyangkan tali. Ketujuh, anak yang memegang cincin harus membiarkan cincin tersebut mengelinding ke tangan orang yang duduk di sebelahnya. Kedelapan, dia pun melakukan hal yang sama kepada orang yang di sebelahnya lagi sampai selesai. Kesembilan, bersamaan dengan selesainya lagu, anak yang terakhir memegang cincin tidak lagi meneruskan cincinnya ke sebelahnya, tetapi memegangnya dan menutupinya dengan tangan. Kesepuluh, anak yang berada di tengah lingkaran mengajukan pertanyaan dan yang lain menjawab.

Baca juga:   Menulis Teks Prosedur¬† dengan ATM Mandiri

Dengan permainan role playing ini, selain tidak menjemukan juga melatih kecerdasan siswa, sehingga pembelajaran dapat berhasil. Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cara belajar aktif model permainan memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan guru.

Aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran matematika pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan dengan model belajar aktif yang paling dominan adalah dengan menggunakan media. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas peserta didik dikategorikan aktif. (ips1/lis)

Guru SDN Palebon 03 Kota Semarang

Populer

Lainnya