Tingkatkan Keaktifan Peserta Didik melalui PBPP

spot_img

RADARSEMARANG.ID, ABAD ke-21 ditandai oleh makin berkurangnya kebersamaan fisik antarmanusia, perkembangan iptek yang makin cepat melalui pemanfaatan IT secara individual. Implikasinya adalah bahwa pembelajaran harus merujuk pada empat karakter belajar abad 21, yaitu berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreatif dan inovatif, kolaboratif, dan komunikasi atau yang dikenal dengan 4C (critical thingking dan problem solving, creative and innovation, collaboration, and communication).
Arends (2008) menyebutkan, tantangan mengajar bagi guru abad ke 21 mencakupi, 1) mengajar dalam masyarakat multikultural, 2) mengajar untuk mengonstruksi makna, 3) mengajar untuk pembelajaran aktif, 4) mengajar dan akuntabilitas, 5) mengajar dan piilihan, 6) mengajar dengan pandangan baru tentang kemampuan, dan 7) mengajar dan teknologi. Konsekuensi dari pandangan Arends adalah guru perlu memberikan dorongan agar peserta didik secara terus menerus mencari sendiri pengetahuan dan melatih kemampuan baru sesuai dengan bakat, minat, dan latar belakang, serta dunia yang hendak dibangunnya.

Upaya mencari sendiri pengetahuan baru ditentukan oleh seberapa besar keingintahuan peserta didik yang diwujudkan dalam banyaknya pertanyaan yang muncul di benaknya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan mendorongnya untuk mencari sendiri jawaban yang berupa pengetahuan itu. Semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak peserta didik, semakin besar pula keinginannya untuk mencari jawaban (pengetahuan). Dengan kata lain, akan semakin besar pula keinginannya untuk belajar.
Untuk merealisasikan pembelajaran seperti ini, penulis menggunakan Pembelajaran Berbasis Pengajuan Pertanyaan (PBPP) di dalam pembelajaran jarak jauhnya, khususnya untuk KD 3.4. “Menganalisis struktur dan kebahasaan teks eksposisi” kelas X di SMAN 2 Semarang, tempat dimana penulis mengajar. PBPP adalah stimulus-respon dalam pembelajaran bisa terlihat karena adanya tanya jawab dalam pembelajaran, baik antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, maupun peserta didik dengan narasumber lain. Dampak positif lainnya, kemungkinan kecil bagi peserta didik untuk melakukan aktivitas lain selain belajar selama proses pembelajaran melalui video conference. Banyak peserta didik yang bergabung di dalam pertemuan video online, namun mereka tidur di samping handphone atau laptopnya.

Baca juga:   Pendidikan P5BK Memacu Peserta Didik Lebih Tangguh Menghadapi Tantangan Abad 21

Karena itulah, langkah-langkah pembelajarannya terbagi atas tahap perencanaan, pelaksanaan, serta penilaian dan evaluasi hasil penilaian. Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk RPP. Secara garis besar, RPP yang disusun memuat identitas, tujuan, model pembelajaran yang diterapkan, langkah pembelajaran, dan evaluasi.

Pembelajaran dilaksanakan dengan tahapan, 1) guru membuka pembelajaran, 2) guru menjelaskan tentang pentingnya bertanya dan cara bertanya untuk mendalami suatu informasi. Penjelasan disertai dengan pemberian contoh. 4) Guru meminta peserta didik untuk menulis lebih dahulu pertanyaan pendalaman tentang pokok materi selama sekitar 10 menit. Sementara peserta didik menulis pertanyaan, guru sesekali memberikan arahan. 5) Sesudah itu, guru meminta peserta didik untuk membacakan pertanyaannya. 6) Dengan model tanya jawab, guru bersama peserta didik menjawab pertanyaan yang diajukan peserta didik. Pada tahapan terakhir, guru melaksanakan evaluasi, bisa dengan tes dan atau nontes. Di akhir pembelajaran guru bersama peserta didik melakukan refleksi dan memberikan penguatan.

Hasilnya bisa terlihat bahwa model pembelajaran ini mampu mendorong peserta didik aktif mengikuti pembelajaran. Selain itu, peserta didik tidak hanya memperoleh pembelajaran kognitif, namun juga afektif berupa tumbuhnya karakter berani, bertanggung jawab, menghargai orang lain. (dj1/ida)

Baca juga:   Belajar Kesebangunan lebih Menyenangkan dengan Metode Think, Pair, Share

Guru SMAN 2 Semarang

Populer

Lainnya